Oleh Sholihin HZ*
Pada hari kiamat nanti Allah akan menghadirkan empat golongan manusia sebagai hujjah atau dalil untuk mematahkan berbagai alasan manusia yang enggan beribadah selama hidup di dunia.
Empat orang tersebut adalah Nabi Sulaiman AS, ia adalah hujjah Allah SWT untuk mereka yang malas beribadah karena alasan sibuk mengurus kekayaan.
“Mengapa kalian tidak mentaatiku,” tanya Allah.
“Kami sibuk mengurus barang dagangan, niaga, kekayaan dan harta yang berlimpah.
“Aku memiliki hamba yang kekayaannya lebih dari kalian tapi tetap beribadah kepadaku.”
“Mereka akan menjadi hujjah Allah untuk menunjukkan bahwa alasan manusia meninggalkan ibadah tidak dapat dibenarkan,” jelasnya mengawali kelompok pertama yang akan dijadikan hujjah atas malasnya manusia untuk taat kepada Allah SWT.
Orang kedua yang diajukan adalah mereka yang meninggalkan ibadah karena sakit. Allah SWT lantas mengajukan nabi Ayyub AS yang meski sakitnya kuat, namun tidak meninggalkan ibadah kepada Allah SWT. Berikutnya adalah orang yang meninggalkan ibadah kepada Allah SWT karena posisi pekerjaannya sebagai buruh, office boy, pekerja bawahan, staff, kuli. Kelompok ini berdalih bahwa mereka tidak beribadah karena keadaan mereka yang tidak memungkinkan untuk taat.
Lantas Allah SWT mengajukan hamba-Nya Yusuf AS yang di kala mudanya adalah budak belian, dijualbelikan, dibawah perintah majikan tempat ia tinggal. Justru dari posisi yang sangat lemah itulah Allah mengangkat derajat Nabi Yusuf hingga menjadi tokoh penting di Mesir. Kisah ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh jabatan atau status sosialnya, melainkan oleh kualitas ketakwaannya. Allah SWT lantas berdalih, “Aku memiliki hamba juga seperti kalian tetapi ia tidak meninggalkan ketaatan kepadaku.”
Selanjutnya adalah mereka yang hidupnya miskin, papa, dan lemah ekonomi dan menjadikannya sebagai alasan untuk tidak taat kepada Allah SWT. Allah berujar bahwa ia memiliki hamba yakni Isa AS, hidupnya juga seperti halnya demikian tetap ia tidak meninggalkan ketaatan kepada Allah SWT. Mereka merasa hidup terlalu berat untuk memikirkan ibadah. Kesulitan ekonomi dianggap sebagai pembenaran untuk meninggalkan kewajiban agama.
Untuk menjawab alasan tersebut, Allah SWT menghadirkan Nabi Isa AS. Beliau dikenal hidup sederhana dan jauh dari kemewahan dunia. Namun kesederhanaan itu tidak mengurangi kualitas pengabdiannya kepada Allah SWT. Kemiskinan tidak membuat beliau mengeluh, apalagi meninggalkan ketaatan.
Pesan yang ingin disampaikan sangat jelas. Bukan keadaan yang menentukan ketaatan seseorang, melainkan pilihan yang dibuatnya. Ada orang kaya yang taat dan ada yang lalai. Ada orang miskin yang taat dan ada yang lalai. Ada yang sehat tetapi jauh dari Allah, dan ada yang sakit namun sangat dekat dengan-Nya.
Keberadaan golongan-golongan tersebut menjadi pelajaran berharga bahwa selama seseorang diberikan kondisi demikian, maka tidak ada alasan untuk menunda ketaatan kepada Allah SWT. Pesan di atas sangat sarat dan mengetuk ruang berpikir kita, apakah kiat menjadi salah satu diantaranya sehingga kita lupa dengan diri dan siapa Pencipta diri kita. Seharusnya menjadi renungan kita, apakah harta dengan berbagai jenisnya yang ada pada kita merupakan bentuk rido-Nya Allah SWT atau untuk menguji keimanan kita.
Sejarah membuktikan betapa orang-orang kaya ada yang ditempatkan dalam surga-Nya Allah SWT namun kisah Qarun menjadi pelajaran penting untuk orang-orang kaya. Kisah manusia yang Allah SWT jadikan hujjah seakan menampar diri kita, tidak beribadah karena sakit, tidak beribadah karena miskin dan tidak beribadah karena sebagai bawahan. Allah SWT akan menagih dan meminta pertanggungjawaban perjalanan hidup kita. Semoga Menginsipirasi.**
*Penulis adalah Kepala MAN 1 Pontianak.
Editor : Hanif