Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Hijrah

Hanif • Selasa, 23 Juni 2026 | 05:02 WIB
Khairul Fuad
Khairul Fuad

Oleh: Khairul Fuad*

PERGANTIAN tahun memang harus berlangsung sebagai pijakan untuk mengawali segala perubahan yang lebih baik ke depan dalam kehidupan. Tahun baru merupakan momentum untuk merancang asa-asa yang diharapkan agar nantinya dapat diwujudkan. Sekaligus momentum peringatan umat manusia bahwa masa kontrak di dunia beranjak penghabisan. Dalam bahasa Alquran, tahun baru merupakan basyiran, berita menggembirakan, juga nadziran, berita membawakan ancaman.

Basyiran dengan peningkatan dari tahun lalu demi untuk yang akan menjelang. Nadziran sebagai kesempatan  perbaikan dari apa yang kurang di tahun belakang. Memperhatikan ketentuan-Nya bakal menemukan jalan keluar dan perjalanan pun menjadi tenang. Menjalaninya akan terasa ringan karena tirai menjadi tersibak, cahaya pun masuk, semuanya pun berubah terang. 

Tahun baru Islam adalah hijrah bermakna pindah, berdasar sejarah Nabi Muhammad saw. berpindah dari Makkah ke Yastrib yang kemudian bernama Madinah. Kedua kota sering diiringi kata sifat mukarramah dan munawwarah. Berarti penuh karomah dan dipenuhi cerah, sedangkan makna tertuju kepada inti, yaitu pindah demi berubah dan berbenah. Pindah secara geografis sebagai rumah, tempat berpijak di atas tanah, juga secara kulturalis, suasana rasa di dalam ranah. Pindah itu bertemunya kaum Muhajirin dan kaum Anshor, bersatu membangun raga pada satu tanah dan mengolah rasa pada satu ranah maka muncul kesepakatan bernama shahifah Madinah, Piagam Madinah. Sebuah kesepakatan yang menjadi memori dunia dalam sejarah.

Di dalam Alquran saat pra dan pascahijrah terdapat pembeda. Ya ayyuhalladzina amanu saat masih di Makkah sana dan ya ayyuhannas saat sudah di Madinah penuh rupadan warna. Penanda bahwa berubah tidak sekadar raga, tetapi disertai dengan gemuruh rasa. Prahijrah, upaya Nabi Muhammad membangun iman ke dalam jiwa dan pascahijrah membangun kebersamaan karena penduduk heterogen tak sama. Penanda juga bahwa Islam inklusif terbuka saat berhadapan latar masyarakat berbeda-beda. Sebagaimana pernyataan Allah di dalam firman-Nya ayat 107 surat al-’Anbiya’,Tidak kami utus engkau wahai Muhammad kecuali sebagai rahmat untuk seluruh alam semesta.

Piagam Madinah ejawantah rahmatan lil Alamin bagi semua yang berdomisili. Nabi Muhammad saw membangun kesepakatan bersama sebagai konstitusi. Semua penduduk Madinah yang heterogen diakomodasi dan difasilitasi. Sebuah konsep bermasyarakat dan bersosialisasi yang kemudian diadopsi untuk tidak terjadi hal-hal berarti saat abad telah berganti. Berbagai latar dan beragam identitas ibarat api di dalam sekam perlu langkah preventif sebagai antisipasi. Piagam Madinah menjadi bukti bahwa perbedaan tidak untuk disingkiri, justru diselami demi ditemukan inti untuk disepakati.

Secara historis, masa Madinah, sebagian menyebut dengan konsep ummah, komunitas masyarakat berdasarkan keragaman suku dalam mekanisme politis. Ummah ibarat sebuah suku dengan Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin kharismatis. Umat Islam dan umat lainnya sebagai anggota setara dalam distribusi sosial yang tertuang secara sistematis. Konstruksi ummah itu dibangun menjadikan agama sebagai basis. Pada gilirannya, ummah mewariskan peradaban berikatkan spiritualis dan bertalikan humanis.

Citra dan fakta hijrah memang mengandung makna perubahan yang telah menjadikan masyarakat Islam terbuka dan menerima keragaman. Momentum sejarah ini dijadikan kalender Islam oleh para sahabat Nabi sebagai awal penanggalan. Nabi Muhammad saw dengan tatanan sosial berbasis keragaman merupakan gambaran masyarakat kekinian. Hampir masyarakat bercirikan kemoderenan dipastikan terdapat kemajemukan. Setidaknya urbanisasi merupakan indikasi kuat keragaman, jika dibangun keseragaman, tentu didasari kuat kesepakatan dengan perbedaan identitas sebagai patokan.

Hijrah pada dasarnya momentum perubahan di setiap waktu. Saat menjadi janin tumbuh lahir berubah bayi yang selalu ditunggu. Semua tertawa gembira bahwa telah lahir ke dunia generasi baru, sementara sang bayi terisak-tangis sedu sedan itu. Maka, perlu berjibaku, saat perubahan nanti tibanya waktu, semua menangis menggebu-gebu, justru yang berpulang tertawa gembira karena telah memberikan sesuatu yang mengharu-biru sebagaimana firman Allah ayat 11 dalam cuplikan surat Al-Ra’du, “Sungguh Allah tidak akan mengubah suatu kaum pada sesuatu, sampai kaum itu sendiri mengubah sesuatu itu.

Harapan perubahan lebih baik adalah asa yang semestinya digapai. Hanya kebaikan menjadi arus-utama yang tetap diupayakan tercapai, setidaknya proses terus saja berantai, sementara hasil serahkan kepada Allah yang nanti akan merangkai. Sebaliknya, berupaya tidak untuk lebih baik maka hidup bakal terasa tercerai-berai. Bolehlah hari ini seperti sia-sia, tapi masih ada esok untuk mengubah lebih baik sehingga terasa tunai selama hayat masih dikandung badan, belum terburai. Sebagaimana Nabi Muhammad menyatakan pentingnya perubahan untuk dicapai dan digapai.“Barang siapa hari ini lebih baik daripada kemarin, maka dia beruntung, barang siapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia merugi, dan barang siapa hari ini lebih jelek daripada kemarin, maka dia tercela.” (HR: al-Hakim).

Berkaca dari semangat Madinah dengan beradab madani. Berharap yang silang pendapat dan silang sengketa untuk selidik dan telisik demi sepakat solusi. Membangun kebersamaan untuk terus dipelihara ibarat duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Musyawarah merupakan cara untuk satu sama lain memahami demi satu tujuan saling mengerti. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing karena rasa sama dan platform takbeda mudah memantik empati dan simpati. Di mana kaki berpijak di situ langit dijunjung, setidaknya itu nilai hijrah ketika dikonversi ke dalam kearifan yang bangsa ini miliki. 

Jika meminjam istilah langit suci (sacred canopy) bahwa yang hidup di bawah langit tidak sendiri. Ada yang lain yang menemani maka semestinya saling menghormati sebab tidak hanya sendiri yang memiliki jati-diri. Yang lain pun juga seperti ini, punya kewajiban untuk saling menghargai. Bahkan, tidak hanya sesama insani, makhluk lain juga berhak menikmati di bawah langit yang menaungi. Jadi sebagai insan yang dilengkapi perangkat lebih maka terhadap makhluk lain perlu melindungi rumah-rumahnya melalui konservasi. 

Akhirnya, uswatun hasanah telah ditunjukkan oleh Nabi Muhammad saw. melalui peristiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah. Hijrah tidak hanya pindah, tetapi berubah dan tidak hanya berubah, tetapi berbenah agar tetap melangit berharap rahmah dan membumi selalu menebar ramah.**

 

*Penulis adalah civitas BRIN Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL).

 

 

Editor : Hanif
#berbenah #pergantian tahun #Muhajirin #hijrah