TAK heran jika Paris dijuluki salah satu kota paling romantis di dunia. Bahkan tanpa bantuan Hollywood yang kerap menjadikannya latar film, tata kota dan atmosfernya sudah cukup membuat siapa pun ingin memperlambat langkah, menyerap setiap pemandangan, aroma, suara, dan rasa yang hadir di sekeliling.
Bagi saya, Paris adalah kota para pencinta kafe. Warganya menjadikan berjalan kaki, duduk santai, berdiri di sudut jalan, atau sekadar mengamati orang-orang di sekitar sebagai sebuah seni.
Pada suatu sore yang hangat, pintu-pintu kafe terbuka lebar tanpa sekat yang memisahkannya dari trotoar dan jalanan. Sulit menemukan sesuatu yang lebih khas Paris daripada tradisi saling mengamati penampilan, memandang dan dipandang, yang berlangsung di kafe-kafe kota ini.
Memerhatikan orang lain memang menjadi bagian yang mengakar dalam kehidupan warga Paris. Pada abad ke-19, ketika industrialisasi mengubah Paris menjadi salah satu metropolis terbesar dunia, flânerie—berjalan tanpa tujuan sambil mengamati kehidupan di sekitar—berkembang menjadi sebuah bentuk seni.
Para flâneur, seperti novelis Honore de Balzac dan penyair Charles Baudelaire, biasa menyusuri grands boulevards di Bantaran Kanan Paris. Trotoar yang lebar dan deretan kafe menawarkan tempat sempurna untuk mengamati lalu-lalang manusia. Bahkan, konon beberapa flâneur berjalan bersama kura-kura peliharaan agar mereka benar-benar bergerak lambat.
Saya hanya menemukan sedikit jejak dunia yang pernah digambarkan Baudelaire dan Balzac. Toko-toko merek ternama berkilauan di bawah balkon besi tempa, sementara warga Paris bergegas melintas tanpa melepaskan pandangan dari ponsel mereka.
Dari Boulevard Haussmann, saya berbelok menuju Galerie Vivienne, salah satu passage atau koridor pertokoan beratap kaca yang terkenal di Paris.
Tak banyak tempat yang masih mampu menghadirkan suasana abad ke-19 seperti ini. Atap kaca yang membiarkan cahaya matahari membanjiri interior menciptakan apa yang pernah disebut kritikus sosial Walter Benjamin sebagai "miniatur kota". Koridor-koridor ini seolah menyambungkan boulevard besar dengan kawasan para seniman di Montmartre. Di sinilah orang-orang, sebagaimana barang dagangan, menampilkan diri mereka. Sebuah habitat alami bagi para flâneur.
Di bawah atap kaca Galerie Vivienne, yang berujung pada gerbang lengkung neoklasik berhias lukisan bidadari, saya berdiri di depan sebuah toko buku antik. Dari pantulan jendelanya, saya dapat mengamati meja-meja kafe di seberang jalan dan orang-orang yang duduk di sana.
Setiap koridor di Paris menyimpan kisahnya sendiri, yang hanya terungkap sebagian kepada pejalan yang melintasinya. Di Passage des Panoramas, yang dikenal lewat novel Nana karya Emile Zola, saya melihat seorang perempuan lanjut usia duduk sendirian di teras L'Arbre à Cannelle, sebuah brasserie dengan fasad kayu berukir khas abad ke-19.
Ia duduk tegak. Rambut pirangnya ditata bergaya flapper, model ikal yang populer pada 1920-an. Tampaknya ia sedang menunggu seseorang. Namun tak seorang pun datang.
Di seberang jalan, seorang pemilik toko perangko tua duduk sendiri di balik meja kasir. Ia perlahan menikmati steak tartare dan segelas anggur merah. Saya membayangkan, mungkin ia seorang duda yang belum terbiasa hidup sendiri. Atau mungkin ia sudah menikmati makan siang dengan cara yang sama selama puluhan tahun.
Di sebuah kafe lain, saya memperhatikan seorang pria muda karismatik dan perempuan pirang bergaun rapi yang duduk bersebelahan. Mata mereka tampak tertuju pada buku masing-masing, tetapi sesekali mereka saling melirik dan tersenyum.
Di Paris, sebuah ciuman lebih dari sekadar ciuman. Ia menjadi bagian dari kisah kota yang dibagikan kepada orang-orang di sekitarnya. Ketika pasangan itu akhirnya pergi sambil tertawa, saya melirik buku yang tertinggal di meja. Setelah membukanya, ternyata itu buku fotografi erotis. Setiap orang di kota ini adalah pertanyaan yang tak pernah benar-benar terjawab. Kisah mereka sepenuhnya bergantung pada imajinasi.
Jika kafe di boulevard dan koridor-koridor galeri merupakan dua panggung besar dalam ville spectacle—kota sebagai pertunjukan—maka panggung ketiganya adalah department store. Balzac pernah menyebutnya sebagai puisi indah tentang etalase yang menyanyikan warna-warnanya dari Madeleine hingga Gerbang Saint-Denis.
Pada abad ke-19, pusat perbelanjaan modern bukan sekadar tempat membeli barang. Ia menjadi arena untuk melihat dan dilihat, tempat orang membandingkan busana dan gaya hidup. Ibarat Studio 54 di New York pada era 1970-an, tetapi dilengkapi mesin kasir.
Di Le Bon Marché, department store tertua di Paris yang mengilhami novel The Ladies' Paradise karya Zola, jejak Paris lama masih terasa. Meski Printemps dan Galeries Lafayette lebih populer di kalangan wisatawan, Le Bon Marché tetap menjadi tempat terbaik untuk menyaksikan budaya flânerie dan tradisi memamerkan selera yang begitu khas Paris.
Di kota ini, segalanya tentang melihat dan dilihat.
Saat soldes—musim diskon resmi yang ditetapkan pemerintah—tiba, warga Paris dari berbagai lapisan sosial turun ke jalan. Mereka bukan hanya berbelanja, tetapi juga mengamati siapa yang berbelanja.
Setiap detail menjadi simbol. Jika di New York atau London merek menjadi penanda utama status sosial, di Paris perbedaannya jauh lebih halus. Bentuk sepatu, jahitan tas tangan, hingga rancangan syal menjadi bahasa visual yang rumit dan dipahami bersama.
Keesokan harinya saya mengunjungi Café de Flore di Boulevard Saint-Germain. Jika boulevard di Bantaran Kanan merupakan wilayah para flâneur abad ke-19, teras-teras kafe di Saint-Germain adalah rumah spiritual bagi kaum intelektual dan para anggota Lost Generation—generasi yang tumbuh dewasa di tengah Perang Dunia I.
Interior Art Deco Café de Flore pernah menjadi tempat berkumpul Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir, dan Albert Camus. Kini, meski dipenuhi wisatawan, Flore bersama tetangganya, Les Deux Magots, tetap menjadi salah satu lokasi terbaik untuk mempraktikkan flânerie.
Pada hari terakhir di Paris, saya berziarah ke makam salah satu idola saya, Oscar Wilde. Penulis yang menghabiskan bulan-bulan terakhir hidupnya di kota ini dikenal lewat esai-esainya tentang kecerdasan, estetika, dan seni pertunjukan yang membuat saya jatuh cinta pada gagasan ville spectacle.
Makam Wilde, berbentuk sphinx dan kini dilindungi kaca di Pemakaman Père Lachaise, pernah menjadi sasaran ciuman para penggemarnya hingga permukaannya mengalami kerusakan. Kini, orang-orang datang, meletakkan bunga, lalu pergi.
Dari sana saya kembali ke sebuah kafe. Saya teringat fotografer Amerika, Peter Turnley, yang jatuh cinta kepada Paris pada 1975 dan menetap di ibu kota Prancis itu sejak 1978.
"Paris selalu mengingatkan saya betapa hidup bisa begitu indah. Dibandingkan kota lain, lanskap visualnya lebih mampu menggambarkan puisi dan kekuatan cinta."
Kalimat itu saya temukan dalam buku foto French Kiss: A Love Letter to Paris yang terbit pada 2013. Saya membacanya di Café de Flore, sambil bergumam pelan: sebuah persembahan bagi momen-momen menakjubkan yang dipenuhi romantisme. (SYAFARUDDIN DAENG USMAN)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro