Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*
Hari Asyura tanggal 10 Muharram memiliki banyak keutamaan. Membuktikan kebenaran ajaran para utusan Tuhan. Kebenaran suatu ajaran bisa diuji dengan dua cara. Ujian pertama dilihat dari uji konsep (doktrin) ajaran agama. Ajaran yang benar tidak bertentangan dengan fitrah manusia. Bahkan menyalurkan fitrah manusia dengan menempuh cara yang halal dan elegan. Ujian kedua dari penyampai agama tersebut (nabi, wali, dan para pengkhotbah).
Jika juru bicara agama berorientasi materi dan keuntungan duniawi, maka tinggalkan para penyampai agama. Sebab ajaran agama yang benar, pasti benar meskipun kalah di ranah politik dan popularitas. Ajaran agama yang benar tidak butuh dukungan manusia, karena agama yang benar adalah milik Tuhan. "Tuhan tidak meminta hartamu (Muhammad:36)." Kitab Qisasul Anbiya' mengisahkan para utusan Tuhan yang mendapat pertolongan dari Allah SWT berupa penyelamatan dari siksa di bumi. Umumnya terjadi di bulan Muharram. Misal, Allah SWT menyelamatkan kaum Nabi Nuh yang beriman dari banjir besar. Nabi Nuh 'alaihissalam banyak dikisahkan dalam Alquran terutama pergaulan dengan umat yang taat dan durhaka.
Nabi Nuh contoh keteladanan sepanjang masa, beliau termasuk ke dalam lima utusan Tuhan yang terpilih karena kesabaran (ulul-azmi). Mereka adalah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Muhammad. Keselamatan atas para utusan Tuhan yang terpilih dan salam kepada semua para utusan-Nya. Asyura yaitu hari kesepuluh di bulan mulia Muharram mengingatkan umat kepada perjuangan dakwah. Kesabaran, ketabahan yang luar biasa dari Rasul ulul-azmi. Meski dakwah berat, namun endingnya ialah kemenangan. Literasi ini berupaya menemukan peringatan hari Asyura di bulan mulia Muharram dengan keberhasilan para utusan Tuhan yang dipilih berupa pertolongan dari-Nya. Sungguh, pertolongan-Nya sangat dekat.
Ada lima Rasul ulul-azmi yang berkaitan dengan peristiwa bulan Muharram. Pertama, Nabi Nuh 'alaihissalam. Nabi yang berusia 950 (sembilan ratus lima puluh) tahun tapi memiliki pengikut hanya 40 (empat puluh) orang. Selama masa dakwah, 40 orang inilah yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka selamat naik ke atas kapal (bahtera) Nabi Nuh 'alaihissalam. Hingga bahtera itu berlabuh di bukit Judi (Turki). Kedua, Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Penentang yang paling kejam adalah Raja Namrud beserta pengikutnya.
Nabi Ibrahim menghadapi kerajaan zalim mereka yang berakhir Nabi Ibrahim dieksekusi mati dengan cara dibakar hidup-hidup. Nabi Ibrahim tidak meminta pertolongan kepada siapapun, hatta Jibril, Israfil atau Mikail. Nabi Ibrahim hanya meminta pertolongan kepada Allah Swt saja. Hasbiyallah (cukuplah Allah bagiku), Dia sebaik-baik wakil, sebaik-baik pembela, sebaik-baik penolong (diucapkan dengan penuh kesadaran akan kelemahan dan kemusnahan diri). Niscaya, segera datang pertolongan-Nya dengan firman, "Hai api! Jadilah kamu dingin dan keselamatan atas Ibrahim. (Al-Anbiya':69)." Kemudian Kami jadikan Ibrahim sebutan kebaikan dan suri teladan bagi generasi yang akan datang. Peristiwa penyelamatan Nabi Ibrahim dari kobaran api Namrud dicatat sebagai sejarah dunia paling spektakuler. Tertanggal 10 Muharram, hari Asyura (Babilonia, Irak). Ketiga, Nabi Musa 'alaihissalam.
Musa adalah utusan Tuhan yang nama beliau banyak muncul dalam kisah Alquran. Sejak masa kelahiran Musa sampai penyelamatan Bani Israil dari penjajahan dan kekejaman Fir'aun beserta regulasi politiknya, sangat detail kitab suci memberi kabar. Musa adalah anak angkat Fir'aun yang masa kecilnya dihabiskan di istana. Menjelang dewasa, Musa keluar dari kota Mesir dan hijrah menuju Madyan. Madyan sebuah kota ekonomi yang berkemajuan. Hiduplah seorang utusan Allah di negeri tersebut, Nabi Syu'aib. Memang, utusan Allah sengaja diturunkan di tempat yang berkemajuan, metropolitan dan berperadaban. Sebab kota yang ditinggali para utusan selalu bersinggungan keras antara kebaikan dan angkara-murka. Hikmah uji nyali dan uji kesabaran.
Siapa yang sabar pasti menang. Dan siapa yang tidak sabar pasti tumbang. Catatan sejarah penyelamatan Bani Israil keluar dari negeri Mesir berawal dari kekalahan tukang sihir Fir'aun yang memiliki tongkat menjadi ular melawan mukjizat tongkat Nabi Musa. Atas kekalahan tersebut, semua tukang sihir Fir'aun beriman kepada Allah, Tuhan Musa dan Harun. Karena tukang sihir berpaling dari ketuhanan Fir'aun, Fir'aun sangat murka. Lalu Fir'aun memerintahkan untuk membunuh mereka yang murtad dari kepercayaan kepada Tuhan Fir'aun. Dengan cara memotong kaki dan tangan mereka secara silang. Potong tangan kanan dan putuskan kaki kiri mereka. Potong kaki kanan dan putuskan tangan kiri. Kemudian salib mereka di ujung pohon kurma.
Sejarah monumental dunia tentang keteguhan iman saat berhadapan dengan kerajaan Fir'aun yang mutlak kekejaman dan sangat biadab. Pernyataan iman dari tukang sihir Fir'aun kepada Allah, mereka bersujud dan berdoa. “Tuhan kami, kami beriman kepada apaapa yang telah didatangkan epada Rasul Musa. Dan catatlah kami bersama orang-orang yang menyaksikan.” Fir'aun merasa dikalahkan oleh Musa. Fir'aun merencanakan pembunuhan terhadap seluruh kaum Musa (genosida). Pemusnahan Bani Israel dari semua titik di negeri Mesir. Allah menyelamatkan dengan cara supaya mereka keluar dari negeri tersebut di kala malam dengan berjalan kaki.
"Dan Kami mewahyukan kepada Musa: Bawalah hamba-hambaKu pergi (keluar) di malam hari. Sesungguhnya kamu akan dikejar. (Asy-Syuara':52)." Ketika kejaran Fir'aun dan seluruh pasukannya mendekati Musa dan kaumnya. Tuhan berfirman, "Dan Kami mewahyukan kepada Musa, pukulkan tongkatmu ke laut! Maka terbelah laut itu. Setiap belahannya seperti gunung yang besar. (Asy-Syuara:63)." Niscaya Tuhan menenggelamkan Fir'aun beserta Haman (Perdana Menteri) dan semua pengikutnya ke dalam laut. Tatkala Musa dan kaumnya telah sampai di bibir pantai. Posisi Fir'aun dan pasukan di tengah laut, Tuhan kembali mewahyukan kepada Nabi Musa untuk memukulkan tongkat ke laut, dengan cepat air laut menyatu kembali.
Demikian Allah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran Fir'aun beserta pasukan. Sekaligus menenggelamkan Fir'aun beserta pasukan yang bertetapatan pada tanggal 10 Muharram, hari Asyura. Keempat, Nabi Isa 'alaihissalam. Penyelamatan Nabi Isa putera Maryam 'alaihissalam dari rencana pembunuhan oleh tentara Romawi di kota suci Palestina. Sebab agama yang diajarkan oleh Nabi Isa putera Maryam 'alaihissalam bertentangan dengan kehendak Raja Romawi yang membolehkan sistem ekonomi ribawi, pergaulan bebas tanpa ikatan nikah, melegalkan LGBT, dan memungut pajak dari rakyat yang sudah miskin. Karena Nabi Isa putera Maryam 'alaihissalam melawan arus pemerintahan tirani, maka dikeluarkan eksekusi mati untuknya berupa hukum paling kejam bagi seseorang yang dianggap menjadi penjahat negara, yaitu disalib sampai mati. Penyaliban merupakan eksekusi mati paling menghinakan terhadap penjahat kelas kakap.
Allah yang Maha Kuasa menyelamatkan utusan-Nya dari proses penangkapan oleh tentara Romawi terhadap Nabi Isa putera Maryam 'alaihissalam. Peristiwa penyelamatan tersebut tercatat di tanggal 10 Muharram, hari Asyura. Sebagaimana firman Tuhan, "Isa tidak dibunuh, Isa tidak disalib. Melainkan Allah serupakan Isa dengan yang lain. (An-Nisa':157)." Allah mengangkat Isa ke langit. Demikian rencana dan perbuatan Allah yang Maha Cerdas. Kelima, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Kendati peristiwa hijrah terjadi di bulan Rabiul Awal.
Namun oleh khalifah kedua, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu menjadikan 1 Muharram sebagai awal tonggak perhitungan tahun Hijriah dalam Islam. Dengan brilliant, ia tidak mengambil hari kelahiran dan hari kewafatan Rasulullah sebagai awal perhitungan tahun hijriah. Namun, hijrah dijadikan awal kalender Islam. Karena hijrah puncak pengorbanan, perjuangan, darah, air mata dan kemenangan. Bila hari lahir dan hari wafat bisa menjadi prestise pribadi atau bangsa. Sedangkan hari hijrah dapat menjadi prestasi pribadi atau bangsa. Singkat kata, prestasi adalah isi (daging), sedangkan prestise adalah bungkus (kulit). Wallahualam. **
*Penulis adalah dosen IAIN.
Editor : Hanif