Oleh: H. Abdul Hamid*
Kita baru sekitar dua minggu memasuki hari-hari Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Tahun Hijriah yang perhitungannya berdasarkan peredaran bulan(lunar) ini berbeda 10 hingga 11 hari pertahunnya, jika dibandingkan dengan tahun baru Masehi yang berdasarkan peredaran matahari (solar). Tahun Baru Hijriah yang juga berjumlah 12 bulan itu sangat penuh dengan makna sejarah dalam perkembangan Islam khususnya.
Secara bahasa, Hijriah bermakna perpindahan, migrasi, perubahan, bergerak demi kebaikan/kemenangan, merujuk pada peristiwa bersejarah hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Kalender Hijriah ini menjadi acuan utama umat Islam dalam menentukan beberapa waktu ibadah, seperti puasa Ramadan, dan ibadah Haji.
Menurut sejarah Islam, kalender Hijriah ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab, yang memaknai pergerakan dari keburukan menuju kebaikan, perjuangan/pengorbanan umat. Pergerakan yang dilakukan, hijrah, mencakup perubahan fisik, maupun pergerakan nonfisik atau mental & spiritual, bergerak jasmani dan rohani.
Pergerakan/hijrah fisik/jasmani berarti perpindahan dari satu tempat ke tempat lain yang lebih aman, kondusif untuk menegakkan agama Islam, memberi/menyampaikan peringatan sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah SAW beserta para sahabat. Pergerakan fisik/jasmani ini diikuti pula oleh pergerakan nonfisik/rohani yakni mental dan spiritual. Misalnya, mengubah perilaku buruk menjadi baik, menjauhi kemaksiatan dalam berbagai bentuk, mengekang hawa nafsu, dalam upaya meningkatkan keimanan, dan ketakwaan. Ini sesuai dengan salah satu ajaran Islam yang berasal dari hadis, “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari apa yang dilarang oleh Allah."
Bergerak, hijrah dalam Islam ini perlu dilakukan dalam berbagai aspek kehidupan. Bisa berupa perubahan penampilan, tempat, dengan strategi pergerakan yang berpedomankan kepada Alquran, dan Alhadis/Assunnah, demi mengharapkan rida, ampunan serta rahmat Allah yang Maha Agung.
Jika dibaca dalam Alquran, setidaknya ada 18 ayat yang menyebut tentang hijrah. Pertama, QS 2:218. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Kedua, QS 3:195. Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan, Allah pada sisi-Nya pahala yang baik."
Allah SWT menyuruh manusia untuk berhijrah, jika menghadapi persoalan fisik/ jasmani maupun rohani (mental & spiritual). Ketika fisik tidak aman untuk memuji-Nya, memberi peringatan atas ayat-ayat-Nya, diingatkan-Nya kita untuk hijrah ke tempat yang lebih aman di bumi-Nya ini.
Ketika rohani menghadapi tekanan karena persoalan kehidupan, Dia mengingatkan kita untuk bergerak/berhijrah, berpindah, dari tekanan tersebut, bukan malahan dengan menganiayai diri sendiri, sebagaimana difirmankan-Nya yang terjemahannya(QS 4:97). Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)".
Para malaikat berkata, "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali,
Bulan Muharram adalah salah satu bulan suci yang dimuliakan Allah SWT (bulan haram) dan menjadi awal bulan kalender Hijriah. Hikmah utamanya bagi umat Islam adalah sebagai momentum untuk melakukan muhasabah.
Memasuki tahun baru Hijriah 1448 H, ada baiknya kita melakukan muhasabah, refleksi diri, mawas/introspeksi diri, terhadap kondisi diri, keluarga, dan masyarakat/negara umumnya, dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan bermuhasabah, kiranya diri akan lebih terarah dalam melakukan pergerakan/hijrah dalam meningkatkan kualitas iman dan takwa; dalam memperbanyak amal saleh, resolusi spiritual, ketaatan atas perintah Allah, dan Rasul-Nya, keberanian dan keterarahan dalam melakukan amal makruf, dan nahi munkar, dalam solidaritas Islam, serta kepedulian sosial. Muharam merupakan awal untuk bergerak, terutama secara bersama-sama, sebagaimana yang dilakukan oleh para nabi dan Rasul-Nya
Kita sambut bulan ini dengan penuh suasana untuk melakukan pergerakan, perubahan guna meraih keberkahan, meningkatkan ibadah serta ketaatan atas perintah-Nya dan Rasul-Nya. Bukankah, menurut sejarahnya, di dalam bulan Muharam, awal tahun Hijriah awal penciptaan manusia, diangkat derajatnya, diselamatkan dari bencana banjir besar, atau dari kobaran api. Dibebaskan dari penjara setelah difitnah majikannya, melihat kembali setelah mengalami kebutaan dan kesedihan, diberikan kesembuhan dari penyakit, diselamatkan dari kezaliman penguasa, dikeluarkan dari perut ikan setelah 40 hari di dalamnya, yang dialami para Nabi dan Rasul-Nya. Gunakan Muharam sebagai awal pergerakan, terutama pergerakan bersama umat Islam, bergerakan sesuai ajaran Islam.
Namun, ini semuanya terpulang pada kita, pada umat Islam khuususnya, umat beragama lain umumnya. Mau berubah lebih baik ataukah tidak, menerima apa adanya. Bergeraklah, berhijrahlah wahai manusia. Jangan berdiam diri, karena itulah selemah-lemahnya iman.**
*Penulis adalah purnatugas PNS/ASN/dosen Fak. Teknik Untan, pengelola Bacaan Ringan Salam, anggota Pembina Yayasan Mujahidin Kalimantan Barat, anggota Penasihat Masjid Almuhtadin-Untan.
Editor : Hanif