Oleh: Y Priyono Pasti*
TAHUN Ajaran Baru 2026/2027 tinggal menghitung minggu. Geliat dan upaya pihak sekolah mendapatkan murid baru gencar dilakukan. Beragam jurus dilancarkan. Mulai dari rayuan gratis uang gedung dan uang sekolah bulanan selama kurun waktu tertentu, gratis seragam sekolah, pramuka, dan pakaian ciri khas, tawaran fasilitas antar-jemput, tawaran asrama, hingga membangun sarana sehingga mengesankan sekolah megah dan mewah meski sarana itu belum tentu dibutuhkan.
Musim penerimaan murid baru selalu menjadi momen yang cukup menyita perhatian orangtua untuk memilih sekolah yang tepat bagi anaknya. Sejumlah pertimbangan muncul ketika mereka harus menentukan tempat pendidikan yang terbaik untuk pertumbuhan, perkembangan, dan perubahan anak-anaknya secara optimal, baik dimensi intelektualitas, emosionalitas, sosialitas, maupun adversitas.
Gampang-gampang Susah
Memilih sekolah gampang-gampang susah. Dari pengalaman, karena keterbatasan waktu yang dimiliki, banyak orangtua cenderung memilih sekolah “favorit” untuk anaknya. Mereka memilih sekolah terbaik yang dikenal memiliki “disiplin tinggi”, gedung yang megah, sarana-prasarana lengkap, memberi banyak pekerjaan rumah, sekolah dari pagi sampai sore, menyediakan berbagai aktivitas ekstrakurikuler, dan aktivitas lainnya.
Orangtua kerap tak lagi mempertimbangkan apakah anaknya bisa belajar dengan nyaman di sekolah itu. Atau apakah benar sekolah itu sesuai dengan tingkat kematangan kepribadian dan kemampuan inteligensi si anak. Di sini yang lebih bicara adalah perasaan aman orangtua karena ‘merasa’ telah memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Belajar dari pengalaman para ahli pendidikan dan psikologi, banyak orangtua yang mengeluh anaknya sukar menangkap pelajaran di sekolah, tidak bisa konsentrasi, susah tidur, sukar membaca, menulis, berhitung, dan sebagainya padahal kecerdasannya berfungsi pada taraf rata-rata.
Mengatasi situasi ini, banyak orangtua menyuruh anaknya supaya makin giat belajar, mengikuti bimbingan belajar, ‘private les’, dan kegiatan lainnya. Jarang (bahkan tidak pernah) terlintas di benak orangtua bahwa masalahnya datang dari sekolah yang tidak sesuai dengan anaknya karena terlalu ketat kurikulumnya, misalnya.
Setiap orangtua pasti menginginkan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Namun, pendidikan terbaik tidak selalu berarti sekolah yang paling terkenal atau paling diminati masyarakat. Idi Darusman (2026) menyatakan, pendidikan terbaik adalah pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan, karakter, dan tujuan yang ingin dicapai anak dan keluarganya.
Pilihan ini menjadi semakin penting di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat dengan segala dampak ikutannya saat ini. Jika dahulu tantangan pendidikan lebih banyak berkaitan dengan akses terhadap ilmu pengetahuan, saat ini, tantangan yang dihadapi generasi muda jauh lebih kompleks. Kehadiran gawai, media sosial, kecerdasan buatan (artificial intelligence-AI), serta derasnya arus informasi telah mengubah cara anak belajar, berinteraksi-berkomunikasi, dan memandang kehidupan.
Menurut Prof. Dr. Conny Semiawan, seorang pakar pendidikan, agar pendidikan anak di sekolah sesuai dengan harapan orangtua, orangtua selain menyediakan kebutuhan fisik anak, juga psikologis anak. Kerap terjadi anak sulit belajar di sekolah pilihan orangtuanya. Ia menyarankan orangtua untuk mengambil keputusan atas dasar pertimbangan yang terbaik untuk anak, bukan bagi orangtuanya. Memilihkan sekolah bagi si anak harus sesuai dengan kemampuan dan ‘dunia’ anak. Anak tidak boleh diperlakukan sebagai ‘orang dewasa kecil’.
Penulis berpendapat, sejumlah hal yang mesti menjadi pertimbangan orangtua dalam memilih sekolah untuk anak-anaknya adalah sebagai berikut. Pertama, adakah proses pembelajarannya menyenangkan, memerdekakan, dan memanusiakan (humanis) peserta didiknya.
Kedua, sekolah mempunyai program yang menarik dan bermanfaat, baik untuk pengembangan intelektualitas maupun pengembangan emosionalitas, sosialitas, spiritualitas, dan adversitas bagi anak-anaknya. Program untuk anak-anak TK/SD misalnya, harus feasible, cukup mudah sehingga bisa dikerjakan anak. Perasaan berhasil membuat anak bersemangat datang ke sekolah (untuk belajar).
Ketiga, program pada hari-hari pertama memberi rasa aman dan ketenangan kepada anak dan tidak memaksa. Untuk anak-anak SD, jauh lebih baik kalau mereka langsung diajak masuk dan bermain di dalam kelas ketimbang langsung dihadapkan pada kegiatan baris-berbaris dan suasana formal sekolah lainnya.
Keempat, para guru berwawasan, berpengalaman, punya integritas, punya ketenangan dan simpatik. Guru mampu meyakinkan anak dan menunjukkan sikap mengerti dan berempati terhadap anak yang mengalami kesulitan.
Kelima, sekolah memberi kesempatan kepada orangtua datang ke sekolah pada awal tahun ajaran untuk menjelaskan program pendidikan yang diberikan. Kesempatan ini juga dipakai untuk saling mengenal (karakter) guru sehingga ketika anak mengalami masalah dapat segera dikomunikasikan penyebabnya dan dicarikan jalan keluarnya.
Keenam, guru dan sekolah tanggap terhadap informasi dan masukan dari orangtua, terutama menyangkut perkembangan belajar anaknya.
Ketujuh, suasana pembelajaran harus membuat anak betah. Anak merasa senang dan ‘bebas’ untuk berekspresi, mengaktualisir potensi yang dimilikinya. Pembelajaran tidak menggunakan satu standar kesuksesan saja (unidimensional), tetapi memakai standar multidimensional yang menghargai keunikan kemampuan anak.
Kedelapan, sekolah sungguh memperhatikan karakteristik unik yang dimiliki anak. Sekolah yang dikelola secara bermartabat tidak melulu mementingkan pencapaian prestasi (akademik) semata, melainkan mengenali bakat-minat anak serta memberikan kesempatan untuk merealisasikannya secara optimal.
Singkatnya, karakteristik sekolah yang layak dipilih untuk tempat belajar anak-anak kita adalah sekolah yang menghargai keunikan anak; mengembangkan dan memberi kesempatan yang kondusif untuk belajar; mengarahkan potensi tanpa menekan; memberikan pilihan tanpa memaksakan; dan memperhatikan keselarasan jiwa dan akal guna bekal anak meniti masa depan.**
*Penulis adalah alumnus USD Yogya; guru SMP/SMA St. F. Asisi Pontianak.
Editor : Hanif