Oleh: Aswindirno,S.Pd.,M.Pd.,C.MTr.,C.PS.,C.HL.,C.LS*
Kemajuan teknologi telah mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan, termasuk sektor pendidikan. Generasi Z dan Generasi Alpha berkembang dalam kondisi yang sangat akrab dengan internet, media sosial, dan berbagai gadget digital. Mereka memiliki metode pembelajaran yang berbeda dari generasi sebelumnya. Karena itu, sistem pendidikan harus menyesuaikan diri agar tetap penting, efisien, dan mampu membentuk siswa yang tidak hanya pandai akademis, tetapi juga memiliki karakter yang tangguh.
Generasi Z diidentifikasi sebagai generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, sementara Generasi Alpha lahir setelah tahun 2013. Kedua generasi ini sudah akrab dengan mendapatkan informasi secara cepat melalui internet. Mereka lebih senang dengan pembelajaran yang bersifat interaktif, visual, dan berbasis teknologi dibandingkan dengan metode ceramah yang berlangsung terlalu lama. Kehadiran video pembelajaran, simulasi, kelas online, dan kecerdasan buatan telah menciptakan kesempatan baru untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Namun, kemudahan dalam mengakses informasi juga menghadirkan tantangan. Tidak semua data yang ada di internet dapat diandalkan. Banyak siswa yang lebih berminat pada media sosial daripada membaca buku atau melakukan penelitian secara mendalam.
Sebagai hasilnya, kemampuan analisis kritis dan tingkat konsentrasi dapat berkurang jika pemanfaatan teknologi tidak dikelola dengan baik.Di samping itu, ketergantungan pada perangkat juga dapat menurunkan interaksi sosial secara langsung serta berdampak pada kesehatan mental dan fisik.
Dalam situasi seperti ini, guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator, pembimbing, dan penyemangat. Guru harus memanfaatkan teknologi sebagai alat pembelajaran yang menarik, seperti video, kuis interaktif, diskusi berbasis proyek, serta pembelajaran kolaboratif. Dengan cara ini, siswa tidak hanya berfungsi sebagai penerima informasi, tetapi juga dapat berpikir kreatif, menyelesaikan masalah, dan berkolaborasi dengan orang lain.
Selain pendidik, orang tua juga berperan signifikan dalam mendukung proses belajar anak. Pengawasan penggunaan internet, penyediaan motivasi, serta penanaman nilai-nilai moral perlu dilaksanakan dengan seimbang. Pendidikan karakter tetap menjadi landasan utama agar generasi muda dapat memanfaatkan teknologi dengan bijak, bertanggung jawab, dan beretika.
Kurikulum pendidikan harus sejalan dengan kemajuan zaman. Belajar tidak cukup hanya menitikberatkan pada mengingat, tetapi harus mengasah kemampuan abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan literasi digital. Keterampilan ini sangat diperlukan untuk mengatasi perubahan dalam dunia kerja dan kehidupan masyarakat yang kian dinamis.
Di sisi lain, penggunaan teknologi perlu tetap memperhatikan distribusi akses pendidikan. Masih ada wilayah yang mengalami keterbatasan akses internet dan sarana digital. Sebagai hasilnya, pemerintah harus terus memperbaiki infrastruktur pendidikan supaya semua peserta didik mendapatkan kesempatan belajar yang setara tanpa memandang keadaan geografi atau ekonomi.
Akhirnya, proses pembelajaran di zaman Generasi Z dan Generasi Alpha perlu dapat mengintegrasikan teknologi dengan prinsip-prinsip kemanusiaan. Teknologi hanyalah sarana, sementara tujuan utama pendidikan adalah menciptakan individu yang berpengetahuan, berkarakter, dan mampu memberi kontribusi positif bagi masyarakat.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan siswa, pendidikan di Indonesia dapat mencetak generasi yang responsif terhadap perubahan zaman namun tetap menegakkan nilai-nilai budaya dan etika.
Sebagai pendapat publik, saya meyakini bahwa pendidikan saat ini tidak seharusnya hanya mengejar kemajuan teknologi, tetapi juga harus memupuk karakter, empati, dan rasa tanggung jawab sosial. Generasi Z dan Generasi Alpha merupakan harta negara yang akan menentukan masa depan Indonesia. Oleh sebab itu, sistem pendidikan perlu berfungsi sebagai penghubung antara perkembangan teknologi dan pembentukan karakter yang kokoh. Dengan strategi yang sesuai, tantangan zaman digital dapat diubah menjadi kesempatan untuk melahirkan generasi yang kreatif, berintegritas, dan siap menghadapi persaingan global.**
*Penulis adalah Kabid Pembinaan Ketenagaan Disdikbud Sambas.
Editor : Hanif