Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Terminal Kijing: Peluang Besar yang Tak Boleh Setengah Hati

Hanif • Rabu, 8 Juli 2026 | 08:43 WIB
Bambang Sabekti
Bambang Sabekti

 

Oleh: Bambang Sabekti*

Terminal Kijing sedang bergerak dari sekadar pelabuhan pendukung menjadi simpul bisnis strategis di Kalimantan Barat. Dalam tiga tahun terakhir, arus barangnya meningkat dari 1,95 juta ton pada 2023 menjadi 2,75 juta ton pada 2024, lalu mencapai 3,59 juta ton hingga November 2025. Pertumbuhan tersebut ditopang terutama oleh komoditas curah kering dan curah cair.

Namun, yang lebih penting daripada lonjakan volume adalah arah pergerakannya. Kijing tidak lagi dapat dipandang semata sebagai pelabuhan bongkar muat, melainkan sebagai mesin pembentuk ekosistem industri baru. Hal itu terlihat dari menguatnya peran terminal sebagai hub ekspor curah kering dan curah cair, sekaligus mulai dibukanya layanan peti kemas pada 2025.

Masalahnya, banyak pelabuhan di Indonesia berhenti pada euforia peningkatan volume. Tonase yang terus naik sering kali tidak diikuti pembangunan rantai nilai di belakangnya. Kijing tidak boleh mengulangi pola tersebut. Jika arus barang hanya meningkat tanpa diiringi penguatan industri hinterland, kapasitas dermaga, fasilitas penyimpanan, akses jalan, serta integrasi dengan kawasan industri, maka lonjakan volume hanya akan menjadi statistik, bukan transformasi ekonomi.

Di sinilah letak peluang bisnis terbesar Kijing. Terminal ini berada pada titik temu antara produksi komoditas, industri hilir, dan kebutuhan distribusi yang semakin kompleks. Peningkatan throughput menunjukkan bahwa pasar tersedia, arus barang nyata, dan kebutuhan logistik terus bertumbuh. Pertanyaannya bukan lagi apakah Kijing memiliki potensi, melainkan apakah Pelindo dan para pemangku kepentingan siap mengubah potensi tersebut menjadi sumber pendapatan berulang sekaligus membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan.

 

Komoditas sebagai Titik Berangkat

Basis pertumbuhan Kijing saat ini sangat jelas. Pada 2025, arus curah kering mencapai sekitar 2,03 juta ton, sedangkan curah cair sekitar 1,5 juta ton. Kedua segmen ini menjadi penggerak utama pertumbuhan terminal. Karena itu, setiap kebijakan pengembangan seharusnya berangkat dari logika komoditas, bukan semata-mata logika pembangunan infrastruktur. Pelabuhan yang baik bukan hanya yang berkapasitas besar, melainkan yang mampu melayani karakteristik komoditas secara tepat.

Tiga Skenario Menuju 2030

Prospek Kijing pada periode 2026–2030 dapat dibaca melalui tiga skenario. Dalam skenario konservatif, throughput diperkirakan mencapai sekitar 4,58 juta ton pada 2030. Pada skenario baseline, volumenya berpotensi mendekati 5,28 juta ton. Sementara itu, dalam skenario optimistis, Kijing berpeluang menembus 6,31 juta ton. Angka-angka tersebut bukan sekadar proyeksi matematis, melainkan cerminan dari keputusan bisnis yang diambil sejak sekarang.

Di antara ketiganya, skenario baseline merupakan pilihan yang paling realistis. Dengan pertumbuhan sekitar 8 persen per tahun, terminal masih memiliki ruang ekspansi yang sehat tanpa memaksakan pertumbuhan di luar kapasitas pasar. Namun, skenario ini hanya dapat terwujud apabila didukung investasi industri di kawasan terminal, kepastian layanan kapal dan bongkar muat, serta penguatan konektivitas darat menuju wilayah produksi.

 

Dari Pelabuhan Menjadi Platform Bisnis

Pelindo perlu menyadari bahwa nilai strategis Kijing tidak hanya berasal dari layanan kepelabuhanan, tetapi juga dari kemampuannya mengintegrasikan rantai pasok. Ketika pelabuhan terhubung dengan pabrik, gudang, tank farm, dan jaringan distribusi, sumber pendapatan tidak lagi bergantung pada satu jenis layanan. Pada titik itulah terminal bertransformasi menjadi sebuah platform bisnis, yang nilainya jauh lebih tinggi dibandingkan pelabuhan konvensional.

Layanan peti kemas memang masih berada pada tahap awal pengembangan. Namun, justru di situlah nilai strategisnya. Kehadiran layanan ini memberikan fleksibilitas, membuka peluang alih muatan, serta memperluas pasar terminal di luar komoditas curah. Meski kontribusinya belum dominan, layanan tersebut menunjukkan bahwa Kijing sedang berkembang menuju terminal multipurpose yang lebih adaptif terhadap perubahan struktur perdagangan.

 

Disiplin Eksekusi, Bukan Sekadar Euforia

Optimisme harus diimbangi dengan disiplin dalam pelaksanaan. Tanpa percepatan pembangunan kapasitas, Kijing berisiko menjadi korban kesuksesannya sendiri. Bertambahnya muatan dapat memicu antrean kapal, meningkatkan biaya logistik, dan pada akhirnya mengurangi daya saing. Karena itu, pembangunan dermaga baru, penambahan fasilitas penyimpanan, serta sinkronisasi dengan kawasan industri bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah juga tidak boleh memandang Kijing hanya sebagai proyek Pelindo. Terminal ini merupakan infrastruktur ekonomi yang akan menentukan daya saing Kalimantan Barat dalam menarik investasi industri. Jika arus barang meningkat sementara kawasan industri di sekitarnya berkembang lambat, efek penggandanya akan terbatas. Sebaliknya, apabila terminal, kawasan industri, dan konektivitas darat dikembangkan dalam satu strategi yang terpadu, Kijing berpeluang menjadi model hub logistik baru di luar Pulau Jawa.

 

Penutup: Keberanian Mengeksekusi

Kijing kini berada di persimpangan penting. Satu jalur mengarah pada pelabuhan yang sibuk, tetapi tidak menghasilkan nilai tambah yang signifikan. Jalur lainnya mengarah pada terbentuknya ekosistem logistik yang memperkuat industri lokal, menciptakan nilai ekonomi, dan mengangkat posisi Kalimantan Barat dalam peta perdagangan nasional. Pilihannya bergantung pada keberanian mengeksekusi strategi, bukan sekadar merayakan kenaikan tonase.

Jika Kijing ingin benar-benar menjadi aset strategis Pelindo, pendekatan yang ditempuh harus tegas: membangun kapasitas, memperkuat basis industri, menarik arus barang, dan memonetisasi seluruh rantai layanan. Tanpa langkah-langkah tersebut, Terminal Kijing hanya akan menjadi pelabuhan besar dengan potensi yang belum sepenuhnya diwujudkan menjadi kenyataan.

 

*Penulis adalah praktisi logistik, rantai pasok (supply chain), dan perdagangan internasional yang aktif menulis mengenai daya saing ekonomi, tata kelola perdagangan, serta kebijakan logistik nasional; Direktur PT Bintang Laut Platinum, Badan Usaha Angkutan Multimoda yang melayani ekspor dan impor.

Editor : Hanif
#Ekonomi #terminal kijing #kalbar #industri #bisnis