Oleh: Y Priyono Pasti*
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah alias MPLS Tahun Ajaran Baru 2026/2027 tinggal menghitung hari. Setiap ajaran baru, MPLS menjadi wahana penting bagi sekolah untuk mengenalkan program sekolah, visi misi sekolah, nilai-nilai, prinsip-prinsip dan budaya sekolah, tata kelola sekolah, sarana dan prasarana sekolah, cara belajar, penanaman konsep pengenalan dan penerimaan diri, dan kultur sekolah (school culture).
MPLS menjadi kegiatan pembuka (di awal tahun ajaran baru) bagi peserta didik baru untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru, memahami tata tertib dan budaya sekolah serta membangun interaksi dan komunikasi positif antara siswa dan guru serta tendik (warga sekolah). Selain itu, MPLS menjadi momen penting bagi siswa untuk menggali potensi diri, menumbuhkan motivasi belajar, dan mengembangkan karakter positif serta budi pekerti luhur.
MPLS bukan sekadar rutinitas awal tahun ajaran, apalagi hanya sebagai ajang perpeloncoan (ajang balas dendam relasi kuasa senioritas terhadap yunioritas) yang jauh dari kepantasan dan keadaban itu. MPLS adalah kanvas pertama di mana karakter, persahabatan, kebersamaan, toleransi, dan potensi seorang siswa mulai dilukis (secara sadar) dan dikembangkan secara optimal sesuai dengan bakat, minat, dan potensi yang mereka miliki.
Agar kegiatan MPLS itu berlangsung mangkus, sangkil, menyenangkan, dan bermakna, terutama dalam konteks layanan pendidikan bermutu bagi siswa baru, MPLS yang edukatif, produktif, kreatif, dan inspiratif untuk mewujudkan lingkungan belajar yang inklusif, berkebhinekaan, sehat, aman, dan nyaman bagi semua siswa melalui materi yang sederhana dan efektif adalah keniscayaan. Pada titik ini, menjadikan MPLS sebagai ruang bertumbuh dan berkembang yang aman, menyenangkan, dan inspiratif adalah kunci utama untuk mencetak generasi peradaban yang tangguh.
Ruang tumbuh
Sejatinya MPLS adalah ruang tumbuh dan ajang untuk belajar, menjadikan siswa insan-insan muda Indonesia yang cendekia dan berkarakter unggul. Itulah sebabnya, siswa baru menyambut MPLS dengan penuh antusias dan kegembiraan yang meluap. Mereka memasuki sekolah baru, lingkungan dan suasana baru, pengalaman baru, fasilitas belajar baru, guru dan teman-teman baru.
Namun realitas empiriknya, tak sedikit siswa baru mengalami kecemasan dan ketakutan menjelang dan selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Baru (MPLSB). Di benak para siswa baru, terbayang deretan aturan ketat, tugas menumpuk dari senior yang kadang tak masuk akal, hingga kekhawatiran akan lingkungan baru yang asing. Praktik MPLS di masa lalu yang diwarnai relasi kuasa-senioritas terhadap yunioritas-yang melecehkan dan menciderai martabat anak acapkali menghantui siswa baru.
Hingga hari ini, “tradisi” perpeloncoan (relasi kuasa siswa senior terhadap siswa baru-yunior) masih saja terjadi di sekolah-sekolah kita ketika MPLS berlangsung. Kegiatan MPLS sering dijadikan ajang untuk unjuk arogansi siswa senior (senioritas) terhadap siswa baru (yunioritas). MPLS dijadikan ajang untuk mempermalukan dan tak jarang melecehkan bahkan menyiksa siswa baru. MPLS dijadikan ajang balas dendam.
Setiap hari, selama MPLS berlangsung, siswa baru selalu dijadikan objek pelecehan. Siswa baru selalu dimarahi, dibentak, diancam, diintimidasi, disuruh memakai beragam atribut aneh dan rupa-rupa pelecehan lainnya yang jauh dari kepantasan dan keadaban, jauh dari unsur mendidik dan membangun karakter unggul. Celakanya, praktik-praktik orientasi siswa yang liar dan melecehkan ini terus saja terjadi.
Menyadari dampak buruk dari “tradisi” MPLS dalam bentuk perpeloncoan itu, tak ada pilihan lain, menghadirkan MPLS yang ramah anak dan inspiratif adalah keharusan. Aksi normalisasi perundungan, pelecehan, kekerasan, dan penyiksaan, apalagi sampai berujung melayangnya nyawa anak manusia tidak boleh terjadi di jagat pendidikan.
Praktik-praktik tidak beradab di jagat pendidikan harus dihentikan dan dimitigasi. Pada titik ini, MPLS yang inspiratif-humanistik menemukan aktualitasnya. Pihak sekolah harus membangun paradigma baru yang inklusif agar MPLS menjadi ajang ruang tumbuh dan pelabuhan pertama yang ramah, sehat, aman, nyaman, hangat, dan inspiratif.
Sekolah harus menjadi rumah kedua yang sehat, aman, dan nyaman bagi setiap siswanya. Sekolah harus menerima siswa apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Ketika siswa (merasa) diterima dan dihargai sejak hari pertama, secara psikologis mereka akan lebih siap untuk beradaptasi, bersosialisasi, berkolaborasi, menyerap ilmu, dan mengeksplorasi bakat dan minat mereka.
MPLS inspiratif
Selain ramah, hari ini, MPLS yang inspiratif adalah ruang tumbuh baru yang mesti diciptakan dan dihadirkan untuk para siswa baru. MPLS yang inspiratif adalah wadah yang memberi ruang bakat dan minat siswa dikembangkan secara holistik serta suara mereka didengarkan, dihargai, dan ditindaklanjuti.
MPLS yang inspiratif dan bermakna mesti meminimalisir penjejalan materi yang satu arah (top-down, dari guru sebagai pemateri terhadap siswa baru sebagai penerima materi). MPLS yang inspiratif mesti diisi dengan kegiatan diskusi, dialog interaktif yang memupuk kerja sama, kolaborasi, toleransi, empati, dan pengembangan kreativitas.
MPLS yang inspiratif bisa diisi mulai dari pengenalan diri, diskusi kelompok yang menyenangkan, dialog interaktif, hingga lokakarya motivasi yang membakar semangat belajar untuk mewujudkan mimpi. Kegiatan-kegiatan inspiratif seperti ini membuka mata siswa (dengan perspektif baru) bahwa belajar bukan melulu sekadar mengejar prestasi akademik, tetapi proses menemukan jati diri.
MPLS inspiratif harus menjadi momentum penanaman nilai-nilai, prinsip-prinsip keutamaan hidup, dan pembangunan karakter unggul. Di tengah modernitas dengan segala dampak ikutannya saat ini, sekolah perlu menanamkan nilai-nilai (values), prinsip-prinsip keutamaan hidup, sikap anti-perundungan (bullying), anti-kekerasan seksual, anti-intoleransi, anti-hoaks, dan anti-hate speech (ujaran kebencian).
Selain itu, para siswa baru juga mesti dibekali literasi digital, keadaban dan keamanan digital, dampak negatif kecanduan gim daring (online game), bahaya narkoba, dan fenomena sosial perilaku menyimpang di kalangan remaja. Semua itu menjadi bekal esensial agar para siswa tak hanya pintar secara akademis (intelektual), tetapi juga memiliki kecerdasan dan kematangan emosional, sosial, dan spiritual yang kuat.
Kesuksesan pelaksanaan MPLS tidak diukur dari seberapa banyak materi yang disampaikan, seberapa lelah siswa mengikuti rangkaian acara yang disusun oleh pihak sekolah, melainkan dari seberapa antusias, seberapa dalam kegembiraan, dan seberapa berbinarnya kilau semangat di mata siswa baru saat menyambut hari-hari belajar selanjutnya.
Mari kita dorong dan wujudkan MPLS yang inspiratif sebagai ajang ruang tumbuh dan berkembangnya bakat dan minat siswa secara optimal. Mari kita tinggalkan stigma lama, kita bangun MPLS sebagai ruang persahabatan, kreativitas, pengembangan potensi diri, dan langkah awal yang menyenangkan meraih mimpi dan mewujudkan Indonesia Emas 2045.**
*Penulis adalah alumnus USD Yogya; guru di SMP/SMA St. F. Asisi Pontianak.
Editor : Hanif