Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

MPLS Ramah sebagai Momentum Mengawali Perjalanan Belajar

Rafael B. Junior • Jumat, 17 Juli 2026 | 10:35 WIB
Nuraiman, S. Pd., M. Pd.
Nuraiman, S. Pd., M. Pd.

Oleh: Nuraiman, S. Pd., M. Pd.*

AWAL tahun ajaran bukan sekadar pergantian kalender akademik, melainkan awal perjalanan belajar yang baru bagi setiap murid. Momen ini selalu membawa harapan, semangat, sekaligus tantangan baru. Setiap murid berhak mengawalinya dengan kesiapan, rasa percaya diri, dan pengalaman belajar yang bermakna sebagai bekal untuk menjalani satu tahun ke depan.

Semangat tersebut dihadirkan melalui MPLS Ramah 2026. Selama lima hari, sekolah didorong menciptakan pengalaman awal yang aman, nyaman, menyenangkan, dan memuliakan setiap murid. Ada satu peluang yang layak dimanfaatkan sekolah. Pekan pertama sekolah sebagai momentum bagi seluruh murid untuk mengawali perjalanan belajar dengan lebih siap.

Selama ini, perhatian sekolah pada awal tahun ajaran lebih banyak tertuju kepada murid baru. Hal itu tentu wajar karena mereka memerlukan pendampingan untuk mengenal lingkungan sekolah, budaya belajar, tata tertib, hingga warga sekolah. Namun, di tengah berbagai persiapan tersebut, kegiatan bagi murid yang naik kelas sering kali belum dirancang secara khusus.

Ketika guru disibukkan menjadi panitia MPLS, tidak jarang murid kelas atas menjalani hari-hari pertama sekolah tanpa aktivitas yang benar-benar dirancang untuk mereka. Ada yang belajar mandiri, mengerjakan tugas sederhana, atau sekadar menunggu hingga jam pelajaran berakhir. Padahal, momen tersebut merupakan kesempatan yang sangat baik untuk membangun kembali semangat belajar mereka.

Naik kelas berarti memasuki jenjang yang lebih tinggi. Murid akan menghadapi materi yang lebih kompleks, tanggung jawab belajar yang lebih besar, target akademik yang semakin menantang, serta dinamika pergaulan yang terus berkembang. Mereka memang tidak memasuki sekolah baru, tetapi sedang memasuki fase belajar yang baru.

Awal tahun ajaran perlu dipandang sebagai masa transisi bagi seluruh murid. Murid baru membutuhkan pendampingan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Murid yang naik kelas membutuhkan motivasi untuk membangun kembali semangat belajar, menata tujuan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan pada jenjang berikutnya. Kedua langkah tersebut hadir untuk memastikan setiap murid mengawali perjalanan belajar dengan kesiapan yang sama.

Kegiatan yang dipilih tidak harus menggunakan sarana mewah ataupun anggaran yang besar. Sekolah hanya perlu merancang MPLS secara matang bagi murid baru. Begitu pun untuk murid yang melanjutkan ke kelas berikutnya. Dengan demikian, tidak ada kelas yang mengalami kekosongan kegiatan selama lima hari.

Kegiatan tersebut tidak harus langsung diisi dengan materi pelajaran. Guru dapat mengajak murid merefleksikan pengalaman belajar selama tahun sebelumnya. Apa yang sudah berhasil? Apa yang masih perlu diperbaiki? Dari refleksi tersebut, murid menyusun target belajar yang ingin dicapai pada semester yang akan datang. Guru juga dapat memfasilitasi diskusi tentang kejujuran, tanggung jawab, dan etika bermedia digital. Kegiatan lain yang dapat dilakukan adalah proyek sederhana yang melatih kerja sama, kepedulian terhadap lingkungan sekolah, sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap kelas dan sekolah.

Sekolah juga dapat melibatkan murid kelas atas sebagai kakak pendamping bagi murid baru. Mereka dapat membantu mengenalkan budaya sekolah, mendampingi proses adaptasi, atau menjadi tempat bertanya ketika murid baru menghadapi kesulitan. Seluruh kegiatan tersebut tentu berlangsung dalam pendampingan dan pengawasan guru. Interaksi yang terjalin pun tetap positif, aman, dan memberi pengalaman yang bermakna bagi kedua belah pihak. Murid kelas atas belajar menjadi teladan. Murid baru pun memiliki teman yang membuat mereka merasa diterima, lebih aman, dan lebih percaya diri. Pendekatan seperti ini membantu membangun budaya sekolah yang positif sekaligus menjadi salah satu upaya mencegah perundungan.

Bagi murid kelas VI, IX, dan XII, guru dapat mengajak mereka menyusun peta perjalanan selama satu tahun. Murid menetapkan target yang ingin dicapai, mengidentifikasi tantangan yang mungkin dihadapi, lalu menyusun strategi belajar dan pengelolaan waktu. Kegiatan sederhana ini membantu mereka memasuki kelas akhir dengan arah yang lebih jelas dan motivasi yang lebih kuat.

Guru juga tidak perlu khawatir kehabisan ide. Kemendikdasmen telah menyediakan berbagai bahan bacaan, video inspiratif, modul, poster, dan sumber belajar melalui laman Cerdas Berkarakter. Beragam materi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pemantik refleksi, diskusi, penguatan karakter, maupun proyek kolaboratif sehingga guru tidak perlu menghabiskan banyak waktu mencari referensi dari berbagai sumber.

Semangat MPLS Ramah akan semakin bermakna ketika dirasakan oleh seluruh murid. Murid baru memperoleh sambutan yang hangat, sementara murid yang naik kelas mendapatkan ruang untuk membangun kembali semangat, karakter, dan tujuan belajarnya. Dengan cara itulah, MPLS benar-benar menjadi momentum mengawali perjalanan belajar bagi semua.**

 

*Penulis adalah Pengawas SMP Disdikbud Kabupaten Sambas.

Editor : Rafael B. Junior
kalender akademik semangat karakter mpls