Panggung Politik Dunia pada World Cup 2026

Hanif PP • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 11:49 WIB
Suasana tribun Stadion MetLife, New Jersey menjelang final Piala Dunia FIFA 2026 antara Argentina dan Spanyol. Tingginya antusiasme membuat harga tiket pertandingan melonjak hingga Rp1,14 miliar di pasar penjualan kembali. FOTO: FIFA
Suasana tribun Stadion MetLife, New Jersey menjelang final Piala Dunia FIFA 2026 antara Argentina dan Spanyol. Tingginya antusiasme membuat harga tiket pertandingan melonjak hingga Rp1,14 miliar di pasar penjualan kembali. FOTO: FIFA

Oleh: Ya’Asurandi*

DALAM dunia politik yang penuh drama, Teori Panggung Politik Erving Goffman, yang kemudian dikenal sebagai dramaturgi, menganalogikan interaksi politik sebagai sebuah panggung teater. Ada panggung depan sebagai tempat pencitraan publik dan panggung belakang sebagai realitas privat, yakni ruang rahasia para politisi.

Berdasarkan data FIFA, sebanyak 6.810.966 orang menyaksikan langsung pertandingan Piala Dunia 2026 di stadion. Dengan total 104 pertandingan, rata-rata jumlah penonton mencapai 65.490 orang per laga. Sementara itu, laga final di Stadion MetLife dihadiri 80.633 penonton, sedangkan negara pemegang hak siar Piala Dunia 2026 berjumlah 175 negara. Tentunya, ini merupakan panggung yang sangat besar dan penuh kemilau sorot kamera. Bagi kalangan politisi, kesempatan seperti ini sangat disayangkan apabila tidak dimanfaatkan secara maksimal. Mari kita analisis lebih dalam.

Selama ini FIFA menegaskan bahwa sepak bola harus terlepas dari intervensi politik. Namun, realitas menunjukkan bahwa batas antara olahraga dan politik semakin sulit dipisahkan. Banyak hal yang terjadi patut kita amati. Biasanya, trofi Piala Dunia hanya diserahkan oleh Presiden FIFA. Akan tetapi, pada Piala Dunia 2026 prosesi tersebut terasa tidak biasa karena presiden negara tempat penyelenggaraan partai final turut menyerahkan langsung trofi kepada sang juara.

Bukan Donald Trump namanya jika tidak menghadirkan kontroversi. Pada prosesi penyerahan trofi, Trump bersama Presiden FIFA Gianni Infantino menyerahkan trofi kepada kapten Spanyol, Rodri. Sebelumnya, Trump membantu Presiden FIFA memasangkan medali kepada para pemain Argentina dan Spanyol. Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum serta Perdana Menteri Kanada Mark Carney, sebagai wakil negara-negara tuan rumah bersama Amerika Serikat pada Piala Dunia 2026, hanya berdiri di sebelah kiri Trump dan berjabat tangan dengan para pemain. Yang menjadi sorotan, setelah penyerahan trofi selesai, Trump tetap bersikeras berada di podium dan berdiri di samping para pemain Spanyol yang sedang merayakan kemenangan dengan mengangkat trofi juara.

Dapat dibayangkan betapa muaknya sebagian penonton. Bahkan, sebelum prosesi penyerahan trofi dimulai, ketika Trump berjalan menuju panggung, penonton sudah bersorak meneriakinya. Laporan Gedung Putih bahkan mencatat tingkat kebisingan stadion meningkat dari 78 desibel menjadi 84 desibel pada saat itu. Apalagi setelah melihat sikap Trump selama dan setelah prosesi penyerahan trofi juara tersebut.

Masyarakat dunia terbelah pada final Piala Dunia kali ini. Kampanye dukungan kepada Palestina maupun Israel dilakukan secara masif. Bahkan, narasi yang berkembang menjadi liar dengan mengklaim bahwa mendukung Argentina berarti mendukung Zionis, sedangkan mendukung Spanyol berarti mendukung Palestina. Padahal, dukungan kepada klub maupun tim nasional sepak bola sering kali jauh dari urusan politik.

Namun, pada Piala Dunia 2026, persoalan dukung-mendukung menjadi tidak sesederhana itu. Sepak bola adalah olahraga yang semestinya menjadi hiburan. Akan tetapi, ketika aspirasi politik dibungkam, keadilan dianaktirikan, serta mereka yang tertindas dan terzalimi kehilangan ruang untuk menyuarakan perlawanan, sepak bola menjadi panggung politik yang tepat untuk menyampaikan pesan keadilan karena merupakan olahraga paling populer di dunia.

Menilik ke belakang menjelang final Piala Dunia 2026, Duta Besar Argentina untuk Israel, Axel Wahnish, memamerkan video dirinya saat memberikan hadiah berupa jersey resmi tim Lionel Messi dan kawan-kawan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Hadiah tersebut diberikan sebagai ucapan terima kasih atas dukungan Netanyahu kepada Argentina untuk menjadi juara Piala Dunia 2026. Hal ini tentu menarik perhatian publik karena tidak berkaitan langsung dengan Lionel Messi. Netanyahu sendiri menegaskan bahwa dirinya mendukung Argentina karena Presiden Javier Milei. Menurutnya, Milei merupakan teman sejati, sahabat yang hebat, sekaligus salah satu pendukung terbesar Israel. Tentunya, Netanyahu berharap apabila Argentina menjuarai Piala Dunia 2026, Partai Likud dan dirinya tetap populer serta mampu menjaga elektabilitas menjelang Pemilu Israel pada Oktober 2026.

Pemerintah Argentina di bawah Presiden Javier Milei menjadikan Israel sebagai sekutu utama. Hal ini didorong oleh kedekatan ideologis dan persahabatan pribadi antara Javier Milei dan Benjamin Netanyahu. Hubungan diplomatik Israel dan Argentina sebenarnya telah dimulai sejak 1949, hanya setahun setelah Israel mendeklarasikan kemerdekaannya sebagai negara.

Salah satu faktor penting yang memperkuat hubungan kedua negara adalah besarnya komunitas Yahudi di Argentina. Negara Amerika Selatan tersebut menjadi rumah bagi komunitas Yahudi terbesar di Amerika Latin sekaligus komunitas Yahudi berbahasa Spanyol terbesar di dunia. Diperkirakan terdapat sekitar 180.000 hingga 300.000 warga Yahudi yang tinggal di Argentina. Sebagian besar menetap di ibu kota Buenos Aires. Sekitar 85 persen berasal dari kelompok Ashkenazi atau keturunan Yahudi Eropa Timur dan Eropa Tengah, sedangkan sekitar 15 persen lainnya berasal dari kelompok Sephardim yang berasal dari Balkan, Timur Tengah, dan Afrika Utara.

Meskipun pemerintah Argentina bersikap sangat pro-Israel, kebijakan tersebut tidak sepenuhnya mewakili pandangan seluruh rakyat Argentina. Di tengah narasi politik tersebut, banyak pendukung tim nasional dan warga Argentina secara vokal menunjukkan solidaritas terhadap Palestina melalui aksi demonstrasi di jalanan. Oleh karena itu, menyimpulkan bahwa membenci tim Argentina hanya karena pemerintahnya mendukung Israel dapat menjadi kesimpulan yang kurang tepat. Bagaimanapun, ini adalah sepak bola. Siapa pun berhak mendukung tim pilihannya dan hal itu bukanlah sebuah kejahatan. Namun, kegeraman sebagian masyarakat mungkin muncul karena tim nasional Argentina mendapat dukungan terbuka dari Netanyahu sehingga memunculkan persepsi tersebut.

Spanyol sendiri mendukung Palestina karena komitmennya terhadap hak asasi manusia, penegakan hukum internasional, dan keyakinan bahwa solusi dua negara merupakan satu-satunya jalan menuju perdamaian abadi di Timur Tengah. Spanyol juga memiliki pengalaman sejarah berada di bawah rezim kediktatoran sehingga dinilai lebih bersimpati terhadap perjuangan Palestina. Bersama Islandia, Irlandia, Malta, Luksemburg, dan Norwegia, Spanyol merupakan negara Eropa yang mengakui secara resmi kemerdekaan Palestina. Dalam ajang Piala Dunia ini, para suporter dan pemain Spanyol, terutama Lamine Yamal, pada beberapa pertandingan sebelumnya ketika meraih kemenangan, kerap berlari sambil mengibarkan bendera Palestina.

Karena itu, warga Palestina, terutama di Jalur Gaza, secara masif mendukung tim nasional Spanyol pada Piala Dunia 2026 sebagai bentuk apresiasi atas dukungan politik dan kemanusiaan Spanyol yang konsisten terhadap hak dan kemerdekaan rakyat Palestina. Momen ini juga dimanfaatkan untuk menyuarakan tragedi yang mereka alami, dengan jumlah korban jiwa warga Palestina di Jalur Gaza disebut telah mencapai sedikitnya 73.200 orang sejak 7 Oktober 2023. Menurut otoritas kesehatan setempat dan laporan lembaga internasional seperti PBB, angka tersebut juga mencakup lebih dari 21.000 anak-anak yang meninggal dunia, sementara sekitar 170.000 hingga 172.000 orang lainnya mengalami luka-luka.

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa mendukung Argentina tidak berarti mendukung Zionisme. Begitu pula para pendukung Spanyol tidak serta-merta mendukung kemerdekaan Palestina. Namun, kemenangan Spanyol sebagai juara Piala Dunia 2026 dengan skor 1-0 atas Argentina pada partai final subuh waktu Indonesia tadi tentu membuat Netanyahu merasa terpukul setelah secara terbuka menunjukkan dukungannya kepada Argentina. Entah bagaimana nasibnya pada Pemilu Israel Oktober mendatang.

Di sisi lain, Trump, tanpa rasa malu menurut pandangan penulis, memanfaatkan panggung Piala Dunia 2026 sebagai panggung politiknya. Akan tetapi, panggung tersebut sesungguhnya tidak sepenuhnya menjadi milik para politisi. Panggung itu juga menjadi milik masyarakat dunia, masyarakat yang melawan kezaliman dan terus menyuarakan keadilan. Hal tersebut terlihat dari derasnya dukungan terhadap Palestina melalui momentum Piala Dunia 2026. Apakah kemenangan Spanyol yang "direpresentasikan" sebagai pendukung Palestina merupakan pertanda zaman bahwa kemerdekaan Palestina sudah dekat? Wallahu a'lam bishawab.**

 

*Penulis adalah mahasiswa Magister Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Editor : Rafael B. Junior
opini panggung politik olahraga kekuasaan Piala Dunia