Oleh: Abdul Hamid *
Pada tahun 1837, George Windsor Earl merilis buku perjalanan sejarah berjudul The Eastern Seas, or Voyages and Adventures in the Indian Archipelago in 1832-33-34, Comprising a Tour of the Island of Java, Visits to Borneo, the Malay Peninsula, Siam, & co. Buku tersebut diterbitkan oleh W. M. H. Allen and Co., London.
Dalam beberapa halaman buku tersebut, nama Singkawang ditulis sebagai "Sinkawan". Hal ini menunjukkan bahwa Sinkawan atau Singkawang telah dikenal di Eropa setidak-tidaknya sejak tahun 1834.
Secara administratif, Singkawang resmi menjadi sebuah kota sebagai daerah otonom pada 21 Juni 2001. Sebelumnya, Singkawang merupakan ibu kota Kecamatan Singkawang, Kabupaten Sambas, yang kemudian ditingkatkan statusnya menjadi Kota Administratif pada 1981.
Dalam beberapa laman web disebutkan bahwa menurut salah satu versi, nama kota ini berasal dari bahasa Hakka, yakni San Khew Jong (Shan Kou Yang), yang bermakna kota yang diapit oleh pegunungan, muara, laut, dan aliran sungai. Sementara itu, versi lokal menyebutkan bahwa nama Singkawang merujuk pada tanaman pohon sengkawang (sejenis pohon penghasil tengkawang) yang dahulu tumbuh subur di dataran rendah dan sepanjang bantaran sungai.
Jika berkunjung ke kota ini, memang terlihat bahwa Singkawang memiliki keunggulan geografis yang luar biasa. Kota ini tidak jauh dari laut, memiliki sejumlah sungai dengan Sungai Singkawang sebagai sungai utama, serta dikelilingi kawasan pegunungan dan pantai yang menarik. Kondisi tersebut tentu sangat mendukung Singkawang untuk berkembang sebagai kota wisata. Namun, potensi tersebut tampaknya belum sepenuhnya menjadi arah utama dalam visi pembangunan kota.
Pemerintah Kota Singkawang di bawah kepemimpinan Wali Kota Tjhai Chui Mie dan Wakil Wali Kota Muhammadin diketahui memiliki visi "Singkawang Maju, Atraktif, dan Berkelanjutan" dengan slogan "Singkawang Hebat". Makna visi tersebut dapat ditelusuri melalui berbagai sumber informasi yang tersedia. Namun, jika dicermati lebih jauh, visi tersebut masih terasa kurang tajam karena belum terlihat secara jelas arah pembangunan Singkawang ke depan. Dua dari lima misi yang dirumuskan antara lain penataan kota yang berkualitas, modern, dan seimbang, serta penyediaan fasilitas dan layanan dasar berupa infrastruktur dan pelayanan publik yang merata.
Perlunya Visi Jangka Panjang
Pada akhir Mei hingga awal Juni 2026, saya berkesempatan melakukan perjalanan wisata ke Kota Singkawang selama dua hari satu malam bersama istri, anak, menantu, dan cucu menggunakan mini bus carteran. Dalam perjalanan menuju Singkawang, kami menyempatkan diri singgah di objek wisata Pantai Kura-Kura di Kabupaten Bengkayang, wilayah yang berbatasan dengan Kota Singkawang. Pantai tersebut memiliki daya tarik tersendiri.
Pada malam harinya, saya bertemu dengan beberapa alumni Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura (Untan) di lantai dua salah satu warung kopi yang cukup dikenal. Dalam kesempatan tersebut, saya menyerahkan beberapa buku yang telah diterbitkan, antara lain Permasalahan Infrastruktur Teknik Sipil Perkotaan, Keterkaitan Infrastruktur: Pelabuhan dan Teknik Sipil Umum, serta Kumpulan 49 Kolom Serius Santai. Semoga buku-buku tersebut dapat memberikan manfaat.
Dalam pertemuan itu, saya menyampaikan gagasan agar sejumlah tokoh masyarakat Kota Singkawang mulai merintis kemungkinan pendirian perguruan tinggi di Singkawang dengan penekanan pada program studi yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan kota, khususnya untuk mendukung pembangunan Singkawang dan Kalimantan Barat secara umum. Perguruan tinggi tersebut pada masa mendatang dapat saja dikembangkan menjadi Institut Teknologi Singkawang, dengan bidang keilmuan yang menyesuaikan kebutuhan pembangunan daerah.
Saya belum mengetahui secara pasti apakah Kota Singkawang telah memiliki visi jangka panjang yang benar-benar disusun berdasarkan potensi wilayahnya. Visi jangka panjang tersebut penting sebagai rujukan bagi calon wali kota dan wakil wali kota dalam menyusun visi, misi, program, serta kegiatan pembangunan, sehingga keberhasilan kepemimpinan dapat diukur secara lebih transparan.
Jika melihat berbagai persoalan kota, seperti masalah persampahan, banjir musiman, konflik tata ruang, infrastruktur dasar, pengembangan pariwisata, serta meningkatnya kejadian gempa bumi, kebutuhan terhadap sumber daya manusia dengan kompetensi khusus sudah dapat diperkirakan. Sebagai langkah awal, pendirian perguruan tinggi tersebut dapat dilakukan melalui kerja sama dengan Untan atau perguruan tinggi lainnya.
Merancang Kota Masa Depan
Oleh karena itu, sudah saatnya dirumuskan visi jangka panjang Kota Singkawang yang lebih jelas dan terarah. Visi tersebut nantinya menjadi dasar dalam menyusun program tahunan, program lima tahunan, maupun visi setiap calon wali kota dalam setiap periode kepemimpinan.
Pembangunan kota tidak boleh hanya berorientasi pada kebutuhan umum yang berlaku bagi setiap wilayah, tetapi harus disesuaikan dengan karakter, potensi, dan keunggulan daerah masing-masing. Jika dilihat dari luas wilayah, Kota Singkawang memiliki luas sekitar 504 kilometer persegi atau 50.400 hektare. Luas tersebut sekitar 4,5 kali lebih besar dibandingkan Kota Pontianak yang memiliki luas sekitar 118,32 kilometer persegi atau 11.832 hektare.
Permasalahan Kota Singkawang dan Kota Pontianak saat ini memiliki sejumlah kesamaan. Pontianak, misalnya, mulai menghadapi keterbatasan ruang akibat perkembangan kawasan permukiman yang mengubah sejumlah wilayah perkebunan. Kondisi tersebut membutuhkan perencanaan bersama dengan Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Mempawah.
Karena itu, perencanaan jangka panjang Kota Singkawang menjadi sangat penting untuk mempersiapkan berbagai dokumen strategis, seperti master plan drainase, master plan infrastruktur, master plan transportasi, serta master plan tata ruang kota. Perencanaan tersebut diperlukan agar perubahan fungsi lahan tidak mudah dilakukan tanpa mempertimbangkan arah pembangunan jangka panjang.
Apabila setiap pemimpin daerah tidak berpegang pada visi jangka panjang, perkembangan kota berisiko berjalan berdasarkan selera kepemimpinan dan kebutuhan jangka pendek semata.
Saat ini, jumlah penduduk Kota Singkawang masih sekitar 253.812 jiwa, dengan luas wilayah yang jauh lebih besar dibandingkan Kota Pontianak. Momentum ini harus dimanfaatkan agar pembangunan Singkawang ke depan dapat berlangsung lebih terintegrasi dan tertata, meskipun berbagai persoalan kota akan selalu muncul seiring dengan perkembangan zaman.
Bukankah tenaga ahli di Kalimantan Barat saat ini sudah jauh lebih beragam dibandingkan kondisi pada era 1970-an? Bukankah pula proses perencanaan pembangunan kini dapat dilakukan lebih cepat dengan dukungan perangkat lunak (software) yang semakin canggih? Dengan potensi geografis, sumber daya manusia, dan perkembangan teknologi yang tersedia, Singkawang memiliki peluang besar untuk menjadi kota yang dirancang dengan visi masa depan yang kuat.**
*Penulis adalah purnatugas dosen/ASN pada Jurusan Teknik Sipil Fak Teknik Untan; anggota PII.
Editor : Hanif