Oleh Sholihin HZ*
Dalam kitab Risalah Mu’awanah (hlm. 10) disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Suatu waktu Jibril AS mendatangiku dan berkata: Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu, tetapi ingatlah bahwa engkau akan mati. Cintailah siapa pun atau apa pun yang engkau sukai, tetapi ingatlah bahwa engkau akan berpisah dengannya. Berbuatlah sesuka hatimu, tetapi ingatlah bahwa kelak engkau akan mendapatkan balasan atas setiap perbuatanmu."
Ditinjau dari penggunaan kalimatnya, dalam bahasa Indonesia ungkapan tersebut menggunakan gaya bahasa paradoks dan antitesis. Kalimat tersebut juga dapat dikategorikan sebagai gaya bahasa sindiran atau peringatan (pepatah/aforisme) yang bertujuan menyadarkan manusia tentang hakikat kehidupan.
Bagaimana menjadikan pesan tersebut sebagai peringatan bagi diri kita?
Ucapan ini sesungguhnya menyindir manusia: silakan berbuat apa saja, lakukan apa pun yang engkau kehendaki, cintai apa saja yang engkau puja meskipun secara berlebihan. Kumpulkan harta sebanyak-banyaknya hingga mungkin menyamai Qarun. Raih jabatan dan kekuasaan setinggi-tingginya bahkan mungkin menyamai Firaun.
Namun, ketahuilah bahwa semua yang engkau kumpulkan, semua yang engkau cintai, dan semua yang engkau banggakan pada akhirnya akan berpisah darimu. Ketika semua itu telah meninggalkanmu, keadaan akan berbalik dan engkau hanya akan tertunduk dalam penyesalan.
Mari kita renungkan firman Allah SWT dalam QS. Al-Jumu’ah ayat 8:
"Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
Allah SWT juga menjelaskan bahwa hari penghisaban, yaitu hari perhitungan seluruh amal manusia, pasti akan tiba. Pada saat itu, yang menjadi saksi bukan hanya ucapan manusia, tetapi juga anggota tubuhnya sendiri.
Dalam QS. Yasin ayat 65 Allah SWT berfirman:
"Pada hari ini Kami membungkam mulut mereka. Tangan merekalah yang berkata kepada Kami dan kaki merekalah yang akan bersaksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."
Hari ini, saat masih hidup di dunia, manusia mungkin dapat mengelabui orang lain, memutarbalikkan fakta, memengaruhi massa, bahkan memanipulasi data. Namun, ketahuilah bahwa semua itu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Kematian bagi manusia bukanlah akhir dari seluruh urusan. Kematian bukanlah peristiwa yang membuat semua persoalan selesai ketika seseorang dimasukkan ke liang lahat. Sesungguhnya manusia akan kembali hidup setelah kehidupan dunia ini.
Ada dua fase kehidupan, tetapi dengan esensi yang berbeda. Kehidupan pertama adalah kehidupan dunia saat ini, tempat manusia diberi kebebasan untuk memilih dan berbuat. Sementara kehidupan kedua adalah kehidupan akhirat, tempat manusia mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya selama hidup di dunia.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 28:
"Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia akan mematikan kamu, Dia akan menghidupkan kamu kembali, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan?"
Sesungguhnya sejarah kemanusiaan dengan segala hiruk-pikuknya telah memberikan banyak pelajaran. Manusia dengan segala daya, kecerdikan, bahkan kelicikannya telah menyaksikan bagaimana umat-umat terdahulu yang melampaui batas akhirnya mendapatkan balasan dari Allah SWT.
Sebut saja kaum Tsamud, umat Nabi Saleh AS. Mereka menolak dakwah Nabi Saleh, membangkang, bahkan dengan sengaja menyembelih unta betina yang menjadi mukjizat dari Allah. Lalu apa yang Allah timpakan kepada mereka? Mereka dihancurkan dengan suara petir yang sangat kuat dan gempa bumi dahsyat pada pagi hari hingga mereka mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka.
Ada pula kaum Saba’. Mereka dahulu hidup dalam negeri yang makmur dengan kebun-kebun yang subur, tetapi mereka mengingkari nikmat Allah dan memilih kufur. Allah kemudian mengirimkan banjir besar yang menghancurkan bendungan mereka serta mengubah kebun yang dahulu indah menjadi tanaman yang tidak memberikan manfaat.
Yang menjadi perhatian kita saat ini adalah perilaku kaum Luth, penduduk Sodom, yang melakukan perbuatan keji dan menyimpang serta menolak bertobat meskipun telah diperingatkan. Apa yang Allah timpakan kepada mereka? Negeri mereka dijungkirbalikkan dan dihujani batu dari tanah yang terbakar.
Allah SWT berfirman dalam QS. Hud ayat 82:
"Maka, ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkannya (negeri kaum Lut) dan Kami menghujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar secara bertubi-tubi."
Pada akhirnya, semua kembali kepada diri kita masing-masing. Allah SWT telah menyediakan tuntunan melalui jalan fi sabilillah (jalan Allah). Namun, ada pula manusia yang memilih jalan lain, yaitu jalan fi sabilisy syaithan (jalan setan).
Allah SWT telah memberikan manusia fasilitas berupa jasmani, pikiran, dan kemampuan akal. Allah juga mengutus para nabi dan rasul untuk membimbing manusia agar tetap berada dalam koridor nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran.
Maka, sudah sepatutnya manusia senantiasa memohon pertolongan Allah agar diberikan kekuatan untuk selalu mengingat-Nya, bersyukur atas nikmat-Nya, serta memperbaiki kualitas ibadah kepada-Nya.
"Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir (mengingat)-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu."**
*Penulis adalah Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Kalimantan Barat; Kepala Man 1 Pontianak.
Editor : Rafael B. Junior