SPMB Membuka Pintu, MPLS Menyalakan Semangat

Hanif • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 10:55 WIB
Marselus
Marselus

Oleh: Marselus*

SPMB dan MPLS telah selesai. Gerbang penerimaan ditutup dan panggung orientasi telah dibongkar. Kini kegiatan belajar-mengajar berjalan normal. Pertanyaannya: mampukah sekolah menjaga semangat awal itu? Selama ini SPMB dan MPLS kerap menjadi tolok ukur "kesuksesan" sekolah di awal tahun. Panitia bekerja keras, sambutan meriah, materi motivasi disampaikan. Namun jika setelah itu proses pembelajaran kembali monoton dan nilai-nilai MPLS hanya jadi slogan, maka kedua kegiatan itu kehilangan makna. Ia hanya menjadi seremonial tahunan.

Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) telah usai. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pun telah berlalu. Ruang kelas kembali dipenuhi aktivitas belajar, dan para murid perlahan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Di mata sebagian orang, selesainya dua agenda tersebut menandai berakhirnya kesibukan awal tahun ajaran. Padahal, bagi dunia pendidikan, justru di titik inilah pekerjaan yang sesungguhnya dimulai.

Selama beberapa bulan terakhir, perhatian publik lebih banyak tertuju pada proses penerimaan murid baru. Perdebatan mengenai daya tampung sekolah, jalur domisili, afirmasi, prestasi, hingga pemerataan akses pendidikan menjadi topik hangat di berbagai daerah. Pemerintah daerah, dinas pendidikan, dan sekolah bekerja keras memastikan proses seleksi berjalan transparan, akuntabel, serta memberikan rasa keadilan bagi masyarakat.

Namun, setelah semua proses itu selesai, perhatian kita seolah ikut mereda. Padahal, persoalan terbesar pendidikan bukanlah bagaimana menerima peserta didik, melainkan bagaimana mendidik mereka. SPMB hanyalah pintu masuk. Kualitas pendidikan sesungguhnya ditentukan oleh apa yang terjadi setelah gerbang sekolah terbuka. Hal serupa berlaku pada MPLS.

Dalam beberapa tahun terakhir, pelaksanaan MPLS menunjukkan perubahan yang patut diapresiasi. Praktik-praktik perpeloncoan semakin ditinggalkan dan digantikan dengan kegiatan yang lebih edukatif, ramah anak, serta menanamkan nilai kebangsaan, disiplin, dan karakter. Perubahan ini merupakan kemajuan yang perlu dipertahankan.

SPMB dan MPLS memang penting. Ia adalah pintu gerbang dan jembatan pengenalan. Namun keduanya hanya seremonial jika tidak ditindaklanjuti dengan pembuktian nyata di dalam kelas. Siswa baru sudah terseleksi, sudah dikenalkan visi-misi, ekstrakurikuler, dan tata tertib. Nah, sekarang giliran sekolah yang diuji. Membuktikan diri bukan berarti harus langsung juara olimpiade atau menang lomba. Bukti paling sederhana ada pada 3 hal: kualitas mengajar, karakter yang dibangun, dan rasa aman-nyaman di sekolah. Apakah guru datang tepat waktu dan mengajar dengan metode yang membuat siswa paham, bukan sekadar mencatat? Apakah nilai-nilai yang digaungkan saat MPLS seperti disiplin, toleransi, dan gotong royong benar-benar hidup di koridor dan kantin? Apakah siswa merasa didengar dan tidak takut bertanya?

Kita sering lupa, orang tua menitipkan anak bukan hanya untuk dapat seragam dan ijazah. Mereka menitipkan masa depan. Masyarakat juga menilai sekolah bukan dari meriahnya MPLS, tapi dari lulusan yang dihasilkan.

Saatnya sekolah membuktikan diri bukan di atas panggung MPLS, melainkan di dalam kelas. Pembuktian itu ada pada tiga pilar utama. Pertama, mutu pembelajaran. Apakah kurikulum dijalankan dengan metode yang adaptif dan berpusat pada siswa? Apakah guru hadir bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi sebagai fasilitator yang menumbuhkan nalar kritis?

Kedua, penguatan karakter. Nilai-nilai yang digaungkan saat MPLS seperti disiplin, integritas, dan toleransi harus menjadi budaya sekolah. Bukan slogan yang pudar setelah minggu pertama.

Ketiga, akuntabilitas kepada publik. Orang tua menitipkan anak dengan harapan besar. Masyarakat berhak mendapat laporan berupa lulusan yang berkompeten, bukan hanya daftar prestasi seremonial.

Pendidikan tidak bisa berhenti pada proses seleksi dan orientasi. Itu baru 5% dari perjalanan. 95 persen sisanya ada pada konsistensi kita setiap hari. Jika SPMB adalah pintu masuk dan MPLS adalah pemantik semangat, maka kualitas proses belajarlah yang akan menjadi bukti.

Sudah saatnya kita berhenti menilai hebatnya sebuah sekolah dari semarak pembukaannya. Mari kita nilai dari apa yang terjadi setelahnya. Karena pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan seberapa meriah MPLS kita, tetapi seberapa hebat lulusan yang kita hasilkan.**

 

*Penulis ADALAH Analis Kurikulum dan Pembelajaran Dinas Pendidikan Kabupaten Landak.

Editor : Hanif
spmb karakter pembelajaran gotong royong mpls