Sukses dengan Pendidikan, Berilmu, dan Berbudaya

Hanif • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 10:57 WIB
Santriadi.
Santriadi.

Oleh: Santriadi*

HIDUP ini tidak terlepas dari sebuah proses. Keberhasilan dan kesuksesan seseorang tentunya juga merupakan hasil dari proses panjang yang telah dilaluinya. Salah satu proses penting tersebut adalah pendidikan.

Pendidikan mengandung dua elemen yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, yaitu proses pembelajaran atau transfer of knowledge dan pembentukan kepribadian yang baik atau good character building.

Ilmu pengetahuan merupakan investasi yang sangat berharga dan hanya dapat diperoleh melalui proses pendidikan yang berkualitas. Namun, ilmu pengetahuan tanpa didasari oleh kepribadian yang baik akan menghadapi kendala ketika seseorang berada di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, ilmu dan adab atau akhlak (kepribadian) harus berjalan beriringan. Keduanya harus ditempa melalui proses pendidikan. Pendidikan merupakan aspek yang harus mendapat perhatian dari semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Sebab, pendidikan menjadi kunci dari berbagai aspek kehidupan. Melalui proses pendidikan yang baik, seseorang mampu membuka cakrawala dunia seluas-luasnya serta menggapai berbagai kebaikan dan cita-cita yang diharapkan.

Dalam Islam, pendidikan memiliki kedudukan yang sangat penting. Bahkan ketika negara dalam kondisi menghadapi peperangan, Allah SWT tidak memerintahkan seluruh kaum Muslimin untuk pergi ke medan perang. Sebagian dari mereka tetap tinggal untuk memperdalam ilmu agama agar dapat memberikan pengajaran kepada masyarakat setelah mereka kembali.

Hal tersebut ditegaskan Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 122:

"Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya."

Ayat tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan dan pembelajaran memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan umat manusia. Ketahuilah bahwa salah satu tujuan diutusnya para rasul oleh Allah SWT adalah untuk menyampaikan dan mengajarkan pentingnya proses pembelajaran serta pendidikan.

Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an, tepatnya Surah Al-Baqarah ayat 151:

"Sebagaimana Kami telah mengutus kepada kalian seorang rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepada kalian kitab (Al-Qur'an) dan hikmah (sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kalian ketahui."

Selain ayat tersebut, terdapat pula hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW diutus untuk mendidik dan mengajar umat manusia.

Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya Allah tidak mengutusku untuk mempersulit orang lain dan tidak pula untuk mencari-cari kesulitan, tetapi Dia mengutusku sebagai pendidik (pengajar) yang memberi kemudahan." (HR. Muslim)

Bahkan ketika terjadi Perang Badar, para tawanan perang tidak selalu diminta menebus dirinya dengan harta benda. Sebagian dari mereka diberikan kewajiban mengajarkan ilmu menulis kepada anak-anak kaum Anshar sebagai bentuk tebusan.

Hal ini menunjukkan betapa Rasulullah SAW sangat memperhatikan pentingnya ilmu pengetahuan bagi generasi yang akan datang.

Dalam kitab Musnad Imam Ahmad juz 4 halaman 92 dijelaskan:

"Sebagian tawanan Perang Badar tidak memiliki sesuatu sebagai tebusan mereka, kemudian Rasulullah menetapkan tebusan mereka dengan cara mereka mengajarkan anak-anak Anshar ilmu menulis."

Pendidikan yang berkualitas akan menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan kompeten. Melalui pendidikan, setiap orang dapat mengembangkan potensi dan bakatnya secara maksimal.

Pendidikan juga membantu seseorang mencapai impian dan tujuan hidupnya, sekaligus memberikan kontribusi positif bagi orang lain. Oleh karena itu, pendidikan merupakan warisan yang sangat berharga bagi generasi penerus yang akan melanjutkan perjalanan peradaban manusia.

Pendidikan bahkan lebih berharga dibandingkan harta benda. Warisan berupa harta dapat habis dimakan waktu, sementara ilmu pengetahuan akan terus berkembang dan memberikan manfaat sepanjang zaman.

Orang yang memiliki harta akan selalu berusaha menjaga hartanya, sedangkan orang yang memiliki ilmu justru akan dijaga oleh ilmunya.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambil warisan tersebut, maka ia telah mengambil bagian yang banyak." (HR. Tirmidzi)

Demikianlah Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan dan pendidikan. Hal tersebut menjadi bukti bahwa Islam sangat memerangi kebodohan dan keterbelakangan.

Umat Islam diwajibkan untuk memperkaya ilmu pengetahuan agar mampu membaca, memahami, meneliti, dan mentadaburi ayat-ayat Allah SWT, baik yang tertulis dalam mushaf maupun ayat-ayat kauniyah yang terdapat di alam semesta.

Proses pembelajaran dalam memperkaya ilmu pengetahuan melalui membaca, meneliti, dan memahami harus senantiasa disertai dengan mengingat Allah SWT. Sebab, seluruh ilmu pengetahuan yang terdapat di alam semesta merupakan ciptaan-Nya.

Hal ini telah Allah SWT tegaskan dalam wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Surah Al-'Alaq ayat 1-4:

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena."

Dari sini dapat dipahami bahwa pendidikan membawa manusia menuju proses berbudaya yang lebih tinggi. Melalui pendidikan, seseorang dapat memperkaya ilmu pengetahuan. Dengan ilmu tersebut, manusia mampu mencapai derajat yang lebih tinggi.

Orang yang berilmu dan berbudaya akan memancarkan karakter serta kharisma yang tidak selalu dimiliki oleh mereka yang tidak memiliki ilmu dan wawasan. Pada akhirnya, orang yang berpendidikan, berilmu, dan berbudaya akan lebih mampu meraih kesuksesan serta menggapai cita-cita yang diimpikan. Wallahu a'lam.**

 

*Penulis adalah guru SMP Negeri 1 Tebas, Kabupaten Sambas.

Editor : Hanif
pendidikan generasi unggul transfer ilmu AKHLAK