Membangun Patriotisme Melalui Budaya Baca

Hanif • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 12:18 WIB
Aswindirno,S.Pd.,M.Pd
Aswindirno,S.Pd.,M.Pd

Oleh: Aswindirno, S.Pd., M.Pd., C.MTr., C.PS., C.HL.C.LS.*

BAGI bangsa Indonesia, bulan Agustus selalu menghadirkan semangat baru. Berbagai perlombaan diselenggarakan, bendera Merah Putih berkibar di seluruh penjuru negeri, dan masyarakat mengenang perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan bangsa. Namun, di tengah semarak peringatan tersebut, ada satu pertanyaan penting yang perlu direnungkan bersama: bagaimana mengisi kemerdekaan agar tetap bermakna bagi generasi masa kini?

Salah satu jawabannya adalah membangun budaya membaca. Patriotisme tidak hanya diwujudkan melalui penghormatan terhadap simbol-simbol negara atau keikutsertaan dalam upacara bendera, tetapi juga melalui upaya meningkatkan kualitas diri demi kemajuan bangsa. Membaca merupakan fondasi utama dalam membentuk warga negara yang cerdas, kritis, berkarakter, dan memiliki rasa cinta tanah air.

Bung Karno pernah mengingatkan bahwa perjuangan setelah kemerdekaan akan jauh lebih berat karena bangsa Indonesia harus melawan kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Pesan tersebut tetap relevan hingga saat ini. Tantangan bangsa bukan lagi penjajahan secara fisik, melainkan derasnya arus informasi, penyebaran hoaks, rendahnya tingkat literasi, serta lunturnya nilai-nilai kebangsaan akibat pengaruh globalisasi dan perkembangan teknologi digital.

Dalam situasi seperti ini, membaca menjadi salah satu bentuk perjuangan kontemporer. Melalui kegiatan membaca, seseorang memperoleh pengetahuan, memperluas wawasan, memahami sejarah bangsa, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Bangsa yang masyarakatnya terbiasa membaca secara mendalam akan lebih siap menghadapi perubahan dibandingkan bangsa yang hanya mengandalkan informasi singkat tanpa proses berpikir yang matang.

UNESCO telah lama menegaskan bahwa literasi merupakan hak dasar setiap manusia sekaligus kunci pembangunan berkelanjutan. Sementara itu, Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed menyatakan bahwa membaca bukan sekadar mengenali huruf dan kata, melainkan juga "membaca dunia" (reading the word and the world). Dengan kata lain, budaya membaca membentuk kesadaran kritis yang mendorong masyarakat memahami realitas sosial sekaligus mengambil peran dalam memperbaikinya.

Pandangan tersebut sejalan dengan teori literasi yang dikemukakan Richard Vacca dan Jo Anne Vacca. Menurut mereka, literasi merupakan kemampuan memanfaatkan kegiatan membaca dan menulis untuk memperoleh, mengolah, serta mengomunikasikan informasi secara efektif. Artinya, masyarakat yang literat bukan hanya mampu membaca, tetapi juga mampu berpikir, menganalisis, dan mengambil keputusan secara bijaksana.

Budaya membaca juga memiliki hubungan yang erat dengan pembentukan karakter kebangsaan. Melalui buku-buku sejarah, biografi tokoh nasional, karya sastra, serta berbagai bacaan bermutu, generasi muda dapat memahami nilai-nilai perjuangan, pengorbanan, persatuan, toleransi, dan semangat gotong royong yang menjadi fondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Nilai-nilai tersebut akan tumbuh menjadi sikap patriotisme yang tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan tercermin dalam tindakan nyata di kehidupan sehari-hari. Sayangnya, tantangan dalam membangun budaya membaca di Indonesia masih cukup besar. Kehadiran media sosial memang mempermudah akses terhadap informasi, tetapi juga membawa risiko menurunnya kebiasaan membaca secara mendalam. Banyak orang lebih memilih membaca potongan-potongan informasi yang singkat daripada memahami isi buku secara utuh. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis, daya analisis, dan kualitas pengambilan keputusan menjadi kurang berkembang secara optimal.

Di sinilah peran strategis perpustakaan menjadi sangat penting. Perpustakaan modern bukan lagi sekadar tempat menyimpan koleksi buku, melainkan telah bertransformasi menjadi pusat pembelajaran sepanjang hayat, ruang kolaborasi masyarakat, pusat literasi digital, serta wahana pemberdayaan masyarakat. Transformasi perpustakaan yang inklusif memungkinkan seluruh lapisan masyarakat memperoleh akses terhadap pengetahuan tanpa memandang usia, latar belakang pendidikan, maupun kondisi sosial ekonomi.

Momentum peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2026 hendaknya tidak hanya diisi dengan perlombaan dan berbagai kegiatan seremonial, tetapi juga dimanfaatkan untuk menghidupkan kembali budaya membaca di tengah masyarakat. Festival literasi, kampung dongeng, pojok baca, bedah buku, lomba resensi, hingga gerakan membaca bersama merupakan bentuk nyata mengisi kemerdekaan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Patriotisme pada abad ke-21 bukan lagi tentang keberanian mengangkat senjata, melainkan keberanian melawan kebodohan, kemalasan berpikir, intoleransi, serta penyebaran informasi yang menyesatkan. Senjata utama dalam perjuangan tersebut adalah ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan lahir dari kebiasaan membaca.

Membangun budaya membaca berarti menyiapkan generasi yang mampu menjaga persatuan, memperkuat demokrasi, mengembangkan inovasi, serta membawa Indonesia menuju cita-cita Indonesia Emas 2045. Pada akhirnya, setiap lembar buku yang dibaca merupakan investasi bagi masa depan bangsa. Setiap perpustakaan yang hidup menjadi benteng peradaban. Setiap anak yang mencintai membaca adalah harapan baru bagi Indonesia.

Karena itu, marilah kita menjadikan budaya membaca sebagai wujud nyata patriotisme modern. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, kritis, dan siap mengabdi bagi negeri.**

 

*Penulis adalah Kabid Pengembangan Perpustakaan dan Gemar Membaca Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Sambas.

Editor : Hanif
modern Indonesia Emas 2045 generasi cerdas Patriotisme membaca