Menanam Harapan, Memanen Peradaban

Hanif • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 10:56 WIB
Bayu Indra Pratama
Bayu Indra Pratama

Oleh: Bayu Indra Pratama*

DI tengah pertumbuhan ekonomi, penurunan angka kemiskinan, dan hadirnya sekolah unggulan, Kabupaten Mempawah masih menghadapi tantangan besar, yaitu memastikan setiap anak benar-benar tumbuh bersama kemajuan daerahnya.

Setiap kali angka pertumbuhan ekonomi diumumkan, selalu ada alasan untuk optimistis. Kabupaten Mempawah, misalnya, mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,62 persen pada 2024, tertinggi di Kalimantan Barat. Angka kemiskinan turun dari 5,21 persen menjadi 4,83 persen, tingkat pengangguran menjadi 6,78 persen, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat dari 68,91 menjadi 69,63. Di atas kertas, Mempawah sedang bergerak ke arah yang benar.

Namun, pembangunan memiliki satu kebiasaan yang sering luput kita sadari. Ia gemar berbicara melalui angka, sementara kehidupan sehari-hari berbicara melalui manusia. Di antara dua bahasa itu, sering kali kita terlalu sibuk mendengarkan angka hingga lupa mendengarkan suara anak-anak kita sendiri.

Sebagai seorang guru, saya melihat setiap pagi ratusan wajah datang ke sekolah dengan membawa harapan yang sama: ingin belajar, ingin menjadi lebih baik, dan ingin memiliki masa depan yang lebih luas daripada hari ini. Sayangnya, tidak semua wajah itu mampu bertahan hingga garis akhir pendidikan. Sebagian hilang di tengah perjalanan, bukan karena mereka kehilangan kecerdasan, melainkan karena kesempatan perlahan meninggalkan mereka.

Data resmi Kabupaten Mempawah menunjukkan terdapat 472 satuan pendidikan yang terdiri atas 73 TK/RA, 243 SD/MI, 101 SMP/MTs, dan hanya 55 SMA/SMK/MA, dengan jumlah 62.493 peserta didik dan 5.081 guru, atau rasio sekitar satu guru melayani dua belas siswa. Angka tersebut sekilas tampak menggembirakan. Namun, ketika ditelusuri lebih dalam, muncul kenyataan yang jauh lebih sunyi.

Angka Partisipasi Murni (APM) tahun 2024 memperlihatkan bahwa 99,60 persen anak usia SD masih bersekolah sesuai jenjangnya. Namun, ketika memasuki jenjang SMP, angkanya turun menjadi 74,59 persen, dan saat memasuki jenjang SMA hanya mencapai 61,08 persen. Dengan kata lain, hampir empat dari sepuluh remaja usia SMA di Mempawah tidak lagi berada di bangku sekolah sesuai usianya.

Angka-angka tersebut tidak sekadar bercerita tentang statistik. Angka-angka itu sedang bercerita tentang anak-anak yang perlahan menjauh dari ruang kelas. Mereka tidak selalu tercatat sebagai anak putus sekolah, tetapi kehilangan kesempatan belajar pada waktu yang semestinya. Di balik setiap persentase terdapat nama, keluarga, dan cita-cita yang mungkin tidak pernah lagi menemukan jalannya.

Kita patut mengapresiasi rencana pembangunan SMA Unggul Garuda di Kecamatan Mempawah Timur yang ditinjau langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada 2025. Dengan luas lahan sekitar 24 hingga 33 hektare, sekolah tersebut berpotensi menjadi pusat pendidikan unggulan di Kalimantan Barat. Ini merupakan kabar baik yang layak disambut.

Namun, di sinilah kita perlu bersikap jujur kepada diri sendiri. Membangun sekolah unggulan memang membanggakan, tetapi membangun pemerataan jauh lebih mendesak. Sebab, pendidikan bukanlah perlombaan untuk mencetak segelintir anak hebat, melainkan memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal. Jangan sampai kita sibuk membangun mercusuar yang menjulang tinggi, sementara rumah-rumah di sekitarnya masih menyalakan pelita yang redup.

Kondisi mutu sekolah juga masih menjadi pekerjaan rumah yang panjang. Dari data yang tersedia, hanya 7,33 persen sekolah yang telah terakreditasi A, 43,06 persen terakreditasi B, 33,07 persen terakreditasi C, dan 16,54 persen bahkan belum terakreditasi sama sekali. Artinya, lebih dari separuh sekolah di Mempawah masih berada pada kategori mutu menengah ke bawah atau belum memiliki ukuran mutu yang memadai. Ironisnya, kita sering kali lebih bersemangat meresmikan gedung baru daripada memastikan kualitas pembelajaran di ruang kelas yang sudah ada.

Persoalan pendidikan ternyata tidak berjalan sendirian. Ia beriringan dengan persoalan keluarga, kesehatan, ekonomi, bahkan budaya. Hal tersebut terlihat dari data stunting. Jika banyak daerah berupaya keras menurunkan angka stunting, Kabupaten Mempawah justru mengalami kenaikan dari 25,1 persen pada 2022 menjadi 28,6 persen pada 2024. Fakta ini bukan sekadar persoalan tinggi badan anak. Pemerintah daerah sendiri mengaitkannya dengan pernikahan usia dini, kesehatan reproduksi remaja, anemia, hingga putus sekolah.

Stunting akhirnya menjadi seperti bayangan panjang yang mengikuti setiap langkah pembangunan manusia. Ia tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan lahir dari rangkaian persoalan yang dibiarkan berlangsung selama bertahun-tahun.

Karena itu, tidak mengherankan apabila isu pernikahan usia anak terus menjadi fokus berbagai program pemerintah, mulai dari Generasi Berencana (GenRe), Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja), hingga berbagai kegiatan edukasi keluarga. Pesan "jangan menikah muda, jangan melakukan seks bebas, dan jangan menggunakan narkoba" bukan sekadar slogan yang diulang-ulang dalam spanduk atau seminar. Pesan tersebut lahir dari kenyataan bahwa masa depan remaja sedang diperebutkan oleh begitu banyak tantangan.

Ancaman tersebut bukan sekadar kekhawatiran tanpa dasar. Pada Maret 2025, aparat kepolisian mengamankan sejumlah pelajar yang terlibat tawuran. Di sisi lain, sebanyak 1.080 pelajar SMK Negeri 1 Mempawah Hilir bersama BNN Kabupaten Mempawah mendeklarasikan komitmen antinarkotika. Dua peristiwa tersebut menunjukkan bahwa energi anak muda sesungguhnya sangat besar. Persoalannya bukan apakah mereka memiliki energi, melainkan siapa yang mengarahkan energi tersebut. Air yang sama dapat menghidupi sawah, tetapi juga dapat menjadi banjir ketika kehilangan arah.

Yang menarik adalah munculnya program "Sekolah Bersama Ayah". Program ini lahir dari kesadaran sederhana bahwa pendidikan selama ini terlalu sering dianggap hanya menjadi urusan guru dan ibu. Padahal, seorang ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga teladan pertama bagi anak-anaknya. Ketika rumah kehilangan teladan, sekolah sering kali dipaksa bekerja dua kali lebih keras untuk menambal kekosongan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Data sosial lainnya juga memberikan pesan yang tidak kalah penting. Pada 2024 tercatat 1.398 pernikahan, dengan 34 kasus cerai talak dan 237 kasus cerai gugat. Sebanyak 215 kasus perceraian, atau sekitar 73 persen, disebabkan oleh ketidakharmonisan rumah tangga. Angka tersebut mengingatkan kita bahwa kualitas keluarga merupakan fondasi pendidikan yang sesungguhnya. Tidak ada sekolah yang cukup kuat untuk menggantikan rumah yang kehilangan kehangatan.

Di sisi lain, kita patut mengapresiasi berbagai langkah yang telah dilakukan pemerintah daerah. Pelatihan guru melalui Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), kerja sama dengan Universitas Terbuka, penguatan pengawasan layanan pendidikan bersama Ombudsman, Gerakan Kakak Asuh Anak Stunting, sosialisasi antinarkoba oleh BNN, hingga berbagai program parenting menunjukkan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Yang masih perlu diperkuat adalah memastikan seluruh program tersebut bertemu pada sasaran yang sama, bukan berjalan sendiri-sendiri dalam ruang administrasi yang berbeda.

Kajian ini juga menemukan satu persoalan mendasar, yaitu keterpisahan data antarinstansi. Data pendidikan berada di satu meja, data kesehatan di meja lain, data perlindungan anak berada di tempat berbeda, sementara data terkait narkoba berada pada lembaga yang lain lagi. Akibatnya, kita memiliki banyak data, tetapi belum memiliki satu cerita utuh tentang kondisi anak-anak Mempawah. Padahal, seorang anak tidak hidup dalam kolom statistik. Ia hidup dalam keluarga, sekolah, lingkungan, dan masyarakat yang saling memengaruhi.

Sudah saatnya Kabupaten Mempawah membangun dashboard terpadu melalui Satu Data Mempawah yang menghubungkan berbagai indikator, mulai dari pendidikan, kesehatan, kemiskinan, usia perkawinan pertama, hingga kenakalan remaja. Dengan demikian, setiap kebijakan benar-benar dapat disusun berdasarkan bukti. Sesungguhnya, Mempawah tidak sedang kekurangan potensi. Daerah ini sedang bertumbuh. Ekonominya bergerak, infrastrukturnya berkembang, dan optimisme terus dibangun.

Namun, pertumbuhan ekonomi hanyalah kendaraan. Tujuan akhirnya tetap manusia. Sebab, tidak ada artinya jalan yang semakin mulus apabila masih terlalu banyak anak yang tidak berhasil mencapai masa depannya.

Barangkali, ukuran keberhasilan sebuah daerah bukanlah seberapa tinggi gedung yang  berhasil dibangun, melainkan seberapa tinggi cita-cita anak-anaknya dapat diwujudkan. Sebab, ketika satu anak kehilangan kesempatan belajar, sesungguhnya daerah ini kehilangan sebagian masa depannya. Namun, ketika setiap anak diberi ruang untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi, Mempawah tidak sekadar membangun hari ini. Mempawah sedang menulis peradaban untuk generasi yang akan datang.

Hari Anak sudah kita peringati lebih dari sepekan yang lalu. Namun, semangat perbaikan tidak boleh berhenti. Terus bergerak dan lakukan perubahan menuju masa depan yang lebih baik.**

 

*Penulis adalah guru di SMPIT Anak Shaleh Mempawah. Aktif menulis tentang pendidikan, pembangunan manusia, dan isu sosial kemasyarakatan.

Editor : Hanif
mempawah Kemajuan masa depan ipm pemerataan pendidikan