Oleh: Mustafa*
SETIAP kali penulis pulang ke kampung halaman di Parit Wansaleh, Desa Jungkat, seolah diajak menelusuri jejak-jejak pendidikan yang sesungguhnya. Hamparan perkebunan, aliran air parit yang membelah kampung, suara azan dari surau, serta sapaan hangat para tetua menghadirkan pengalaman yang tidak ditemukan di dalam buku pelajaran.
Di sana, penulis dapat belajar langsung tentang makna gotong royong, menghormati orang yang lebih tua, menjaga alam, hidup berdampingan dalam kebersamaan, serta berkumpul dalam kegiatan sosial keagamaan yang religius. Nilai-nilai tersebut tidak diajarkan melalui ruang kelas, melainkan diwariskan melalui keteladanan dan kehidupan sehari-hari.
Kini, suasana kampung halaman itu berubah begitu terasa. Anak-anak tumbuh dalam dunia yang semakin terbuka. Mereka dapat mengenal berbagai negara, bahasa, dan budaya hanya melalui layar yang berada dalam genggaman. Perubahan tersebut merupakan keniscayaan yang membawa banyak peluang.
Namun, di balik derasnya arus globalisasi, muncul kegelisahan: jangan-jangan generasi kita semakin mengenal dunia, tetapi perlahan mulai melupakan akar budayanya sendiri. Kegelisahan itulah yang mengantarkan penulis menemukan gagasan tentang "glokalisasi pendidikan". Glokalisasi merupakan perpaduan antara globalisasi dan lokalisasi, yaitu pendekatan yang mempertemukan wawasan global dengan kearifan lokal secara harmonis.
Dalam pendidikan, glokalisasi bukan hanya membekali murid dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan abad ke-21, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap budaya, bahasa, lingkungan, serta nilai-nilai agama dan kebangsaan. Pendidikan tidak seharusnya memaksa murid memilih antara menjadi modern atau mempertahankan tradisi. Sebaliknya, pendidikan harus mampu mempertemukan keduanya agar lahir generasi yang berakar kuat pada budayanya sekaligus siap menghadapi dunia.
Perkembangan teknologi digital dan keterbukaan informasi telah mengubah wajah pendidikan. Peserta didik dapat mengakses ilmu pengetahuan dari berbagai belahan dunia dengan mudah. UNESCO dalam Reimagining Our Futures Together (2021) menegaskan bahwa pendidikan masa depan harus membangun kompetensi global tanpa mengabaikan tanggung jawab sosial, etika, dan kemanusiaan.
Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mencetak manusia yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus melahirkan manusia yang berkarakter, berintegritas, dan mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Di sisi lain, globalisasi membawa tantangan yang tidak ringan. Arus budaya yang datang silih berganti dapat mengikis bahasa, tradisi, dan nilai-nilai lokal apabila tidak diimbangi dengan penguatan identitas.
Ki Hajar Dewantara berkata, "Pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak; maksudnya pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya" (Dewantara, 1977).
Pendidikan harus mampu mempersiapkan peserta didik menghadapi perkembangan zaman tanpa tercerabut dari lingkungan sosial, budaya, dan nilai-nilai yang membentuk jati dirinya. Roland Robertson dalam Globalization: Social Theory and Global Culture (1992) menyatakan bahwa globalisasi tidak harus menghapus identitas lokal. Sebaliknya, nilai-nilai global dapat berdialog dengan budaya lokal sehingga saling memperkaya.
Dalam konteks pendidikan, glokalisasi menjadi jalan tengah untuk membentuk peserta didik yang memiliki kompetensi global sekaligus tetap mencintai budaya, bahasa, lingkungan, dan nilai-nilai luhur bangsanya. Terdapat kaidah ushul fikih, "al-muhafaẓah 'ala al-qadim al-ṣaliḥ wa al-akhdzu bi al-jadid al-aṣlaḥ," yang berarti, "Memelihara nilai-nilai lama yang masih baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik."
Perubahan merupakan keniscayaan, tetapi harus tetap berpijak pada nilai-nilai yang membawa kemaslahatan. Tradisi bukanlah penghambat kemajuan, melainkan fondasi yang memberi arah bagi setiap inovasi.
Allah SWT berfirman:
"...Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah: 11).”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa ilmu merupakan kemuliaan yang harus terus dipelajari. Namun, kemuliaan ilmu tidak hanya diukur dari luasnya pengetahuan, melainkan juga dari kemampuannya melahirkan keimanan, kebijaksanaan, dan kemanfaatan bagi sesama.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (HR. Ahmad).”
Tujuan akhir pendidikan bukan hanya mencetak manusia yang cerdas, tetapi juga membentuk manusia yang berakhlak mulia. Karena itu, glokalisasi pendidikan perlu diwujudkan dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Guru tidak cukup hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga menjadi penuntun yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan realitas kehidupan murid.
Sekolah dan madrasah perlu memanfaatkan teknologi digital sekaligus menghidupkan budaya lokal, sejarah daerah, bahasa ibu, semangat gotong royong, serta kepedulian terhadap lingkungan. Dengan cara itulah pendidikan menjadi lebih kontekstual, bermakna, dan mampu membentuk karakter peserta didik secara utuh.
Sesungguhnya, glokalisasi pendidikan bukan hanya sebuah konsep, melainkan ikhtiar untuk membangun generasi yang mampu berdiri tegak di tengah pergaulan dunia tanpa kehilangan jati dirinya. Pendidikan harus membuka cakrawala seluas-luasnya, tetapi juga menanamkan akar sedalam-dalamnya. Sebab, hanya pohon yang berakar kuat yang mampu tumbuh menjulang tinggi.
Demikian pula generasi bangsa. Semakin luas wawasan mereka terhadap dunia, semakin kokoh pula pijakannya pada budaya, moral, dan spiritualitas. Dari pendidikan yang berakar di bumi sendiri itulah akan lahir generasi yang siap berkarya untuk dunia.**
*Penulis adalah Guru MAN 2 Pontianak dan Pengurus Orda ICMI Kota Pontianak.
Editor : Hanif