Mengimani Allah dalam Sifat Jamal dan Jalal

Hanif PP • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 12:26 WIB
Ma
Ma'ruf Zahran Sabran

Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*

IMAN kepada dua sifat utama Allah SWT, yaitu sifat jamal dan jalal, menjadi harmoni dalam kehidupan alam semesta. Tumbuhan dan hewan yang diciptakan berpasangan menjadi tanda bahwa Zat Allah Yang Maha Esa tidak memiliki pasangan.

Seluruh makhluk hidup menjalankan dua sifat tersebut. Jamal berarti sifat kelembutan, keindahan, keelokan, kesantunan, serta seluruh nama, sifat, zat, dan perbuatan kasih sayang serta kemurahan dari-Nya. Sementara itu, jalal berarti sifat keagungan, kebesaran, keperkasaan, keterpujian, kemuliaan, termasuk memberikan peringatan, hingga memaksa dan mengalahkan.

Perlu dipahami bahwa Dia Yang Maha Memulai tidak dapat diperintah oleh siapa pun apabila Dia belum berkehendak untuk memulai. Dia Maha Menahan karunia (menutup tangan-Nya), sehingga tidak ada seorang pun yang mampu membuka tangan-Nya. Bagaimanapun seseorang ingin berubah, tetapi apabila Dia belum memberikan restu, seseorang tidak akan berubah sampai Allah SWT berkehendak mengubahnya.

Sebab, sifat manusia adalah lemah dalam kehendak (‘ajuz). Memaksakan sesuatu yang belum tiba waktunya sebagai takdir baik bagi seseorang tidak akan mampu dilakukan oleh dirinya maupun orang lain. Sebaliknya, apabila seseorang telah ditakdirkan mendapatkan suatu keburukan, tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi datangnya takdir tersebut.

Artinya, sifat jamal Allah SWT hadir dan kembali dalam kehidupan manusia sesuai dengan takdir yang telah ditetapkan-Nya sejak masa azali. Begitu pula sifat jalal Allah SWT apabila datang, sungguh tidak dapat dibendung dan tidak mampu ditahan oleh siapa pun. Perlakuan jamal dan jalal-Nya pasti terjadi.

Sebagai contoh, Allah SWT memberikan sifat jamal-Nya dalam bentuk rahmat kepada Nabi Musa AS dan menuntunnya menuju jalan kebenaran sehingga mendapatkan keselamatan. Sebaliknya, Allah SWT memberikan sifat jalal-Nya berupa siksa yang pedih kepada Fir’aun karena memilih kesesatan daripada petunjuk.

Contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat pada pasien yang sedang menunggu kesembuhan. Apakah sifat jamal atau sifat jalal Allah SWT yang diturunkan kepadanya? Apabila sifat jamal yang menyapa, pasien akan kembali sehat lahir dan batin seperti sediakala tanpa menyisakan rasa sakit. Namun, apabila sifat jalal yang datang, sakit tersebut dapat berlangsung panjang dan berakhir dengan takdir kematian. Meskipun ditangani oleh tim dokter ahli, tetap saja tangan Allah SWT berada di atas tangan-tangan manusia.

Ketika Allah SWT menetapkan sifat jamal-Nya kepada seseorang, Dia menyiapkan jalan yang mengantarkan kepada kebaikan melalui kemurahan, kelembutan, kelapangan, dan kesantunan dari-Nya. Bukti dari hal tersebut adalah Dia memudahkan hamba untuk taat dengan membuka pintu ketaatan dan penerimaan amal, serta menutup pintu kemaksiatan.

Sebaliknya, apabila Dia menghendaki keburukan pada seseorang, Dia dapat menutup pintu ketaatan dan membuka pintu kemaksiatan. Di sinilah pelajaran bahwa seorang hamba tidak boleh sombong kepada Allah SWT, Sang Penentu takdir.

Ketika datang sifat jamal-Nya, Allah SWT dapat menyediakan dan membuka jalan ketaatan melalui kelimpahan harta. Semakin kaya seseorang, semakin taat kepada-Nya. Sebab, Allah SWT mengetahui bahwa apabila diberikan kemiskinan, hamba tersebut mungkin akan durhaka. Dengan demikian, ia mendekat dan bersujud kepada Allah melalui jalan syukur.

Atau Allah SWT menunjukkan jalan ketaatan melalui kemiskinan. Semakin miskin seseorang, semakin taat kepada-Nya. Sebab, Allah mengetahui bahwa apabila diberikan kelimpahan harta, ia mungkin akan durhaka. Dengan demikian, ia mendekat dan bersujud kepada-Nya melalui jalan kesabaran.

Syukur dan sabar akan menempatkan seorang hamba pada kedudukan mahabbatullah (cinta kepada Allah). Akhirnya, ia akan mencapai ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah). Oleh karena itu, berbaik sangkalah kepada Allah SWT. Semua yang berasal dari Allah pasti memiliki kebaikan. Mengapa harus berburuk sangka? Bukankah seluruh perbuatan terjadi atas kehendak-Nya?

"Dan Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki (QS. Al-Buruj: 16)”.

Berpegang teguh pada keyakinan terhadap dua sifat Allah SWT, yaitu jamal dan jalal, akan menjadikan manusia berjaya di dunia dan memperoleh kesempurnaan di akhirat. Kesempurnaan di akhirat bermakna bahwa neraca keadilan akan ditegakkan secara sempurna. Akhirat merupakan tempat pembalasan yang tepat, di mana seluruh bukti dan fakta akan dihadirkan. Sekecil apa pun amal manusia, meskipun hanya sebesar biji sawi, Allah SWT akan mendatangkannya dan memberikan balasan, baik atas amal baik maupun amal buruk.

Sementara itu, kejayaan di dunia tampak ketika seseorang tidak berputus asa saat sifat jalal Allah SWT datang, seperti melalui nama-Nya Adh-Dharr (Yang Memberi Kemudaratan), Al-Jabbar (Yang Maha Memaksa), dan Al-Qahhar (Yang Maha Mengalahkan). Pada saat itulah seorang hamba hendaknya berdoa kepada-Nya, membuktikan ketundukan, kepasrahan, dan mengalahkan egonya di hadapan Allah SWT. Menyerahlah ketika Allah SWT menampakkan kebesaran nama-nama-Nya. Dialah yang memaksa setiap makhluk untuk tunduk kepada pilihan-Nya.

Seolah-olah patahlah bumi tempat berpijak seluruh makhluk, runtuhlah langit harapan yang selama ini digantungkan kepada sesama manusia, dan tersingkaplah kebenaran bahwa selama hidup manusia sering kali lebih mengikuti kehendak manusia daripada kehendak Allah SWT. Padahal, kepandaian manusia tidak lebih dari setetes air yang menempel pada sayap nyamuk dibandingkan luasnya samudra ilmu Allah SWT.

Bahkan, seandainya ditambahkan tujuh samudra lagi sebagai tinta untuk menuliskan ilmu Allah SWT, niscaya seluruh air itu akan habis sebelum selesai menuliskan ilmu-Nya yang Maha Luas.

Berkeyakinan kuat terhadap sifat jamal Allah SWT merupakan tanda pengakuan atas keindahan cara Allah menguatkan ketaatan hamba kepada-Nya. Dalam sifat jamal terkandung kelembutan, kasih sayang, kepedulian, kemurahan, dan kebaikan yang tidak berbatas. Namun, hamba yang memahami sifat jamal Allah SWT tidak akan terlena dan lalai dalam beribadah. Sebaliknya, ketika Allah SWT menampakkan sifat jamal-Nya, ia justru semakin malu dan semakin mencintai-Nya. Antara rasa malu dan cinta itulah tumbuh suasana batin seorang hamba.

Demikian pula kondisi sehat dan sakit merupakan bentuk peneguhan sifat jamal dan jalal Allah SWT yang tidak dapat dihalangi kedatangannya dan tidak dapat ditolak ketika waktunya telah tiba. Jangan sampai seseorang terlena ketika sehat dan lapang, sebab akan datang saatnya ia merasakan sakit dan kesempitan. Kedua keadaan tersebut Allah SWT pergilirkan di antara manusia.

Jamal merupakan bentuk peringatan Allah SWT yang lembut, sedangkan jalal merupakan bentuk peringatan-Nya yang penuh kebijaksanaan. Barang siapa diberi kemampuan oleh Allah SWT untuk bersikap benar melalui syukur dan sabar, sungguh ia akan memperoleh kesudahan yang baik. Orang yang bersyukur akan memperoleh akhir yang mulia, demikian pula orang yang bersabar.

Kesabaran bagi orang yang sedang sakit sesungguhnya menjadikan seluruh anggota tubuhnya senantiasa berzikir kepada Allah SWT. Zikir seperti ini sering kali terlupakan oleh orang yang sedang menikmati kesehatan, kesuksesan, kebahagiaan, kesenangan, dan kelapangan rezeki. Sebab, nafsu manusia cenderung menyukai kesenangan hingga menjadikannya kikir. Sebaliknya, ketika penderitaan dan musibah datang, nafsu mudah berkeluh kesah dan berputus asa.

Kecuali orang-orang yang mendirikan salat, yaitu mereka yang senantiasa istiqamah dalam salatnya, menginfakkan sebagian hartanya kepada fakir miskin yang meminta maupun yang menjaga kehormatannya sehingga tidak meminta.

Adapun rasa syukur bagi orang yang sehat merupakan bentuk kecerdasan dalam menyambut sifat jamal Allah SWT. Bersyukur atas kehidupan dan keberadaan di muka bumi diwujudkan dengan memakmurkan bumi sebaik-baiknya. Manusia sebagai khalifah diberi amanah untuk mengelola bumi, sehingga sifat kepemimpinannya harus mencerminkan sifat-sifat Allah SWT yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pemurah.

Seorang khalifah tidak boleh tertipu oleh luasnya kasih sayang, limpahan karunia, dan cinta Allah SWT hingga melalaikan tugasnya. Sebaliknya, ia harus bersungguh-sungguh mewujudkan negeri yang adil dan makmur di bawah lindungan Tuhan Yang Maha Pengampun.

Selanjutnya, seorang hamba hendaknya menebarkan kasih dengan sifat pemurah, menyebarkan sayang dengan sikap memudahkan, bukan mempersulit. Memperkuat karakter peduli, menolong meskipun tidak ditolong, mempermudah meskipun dipersulit, mengasihi meskipun tidak dikasihi, bahkan tidak membalas keburukan ketika disakiti. Sebab, setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya sendiri, bukan atas perbuatan orang lain. Oleh karena itu, berikanlah jawaban terbaik melalui amal yang benar dan ikhlas agar kelak selamat dari penghakiman pada hari pembalasan.

Ada orang yang terus berbuat baik ketika Allah SWT menampakkan sifat jamal-Nya, tetapi berhenti berbuat baik ketika Allah SWT menampakkan sifat jalal-Nya. Padahal, keduanya selalu hadir berdampingan sebagai sunnatullah dalam kehidupan. Kehidupan akan benar-benar hidup apabila manusia mampu mengimani kedua sifat tersebut secara seimbang. Itulah kehidupan hati orang-orang yang beriman kepada sifat jamal dan jalal Allah SWT. Wallahu a'lam.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Rafael B. Junior
Sabar/Reza Iman takdir syukur