Generasi Z Sulit Bertahan, atau Dunia Kerja yang Berubah?

Hanif • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 12:31 WIB
Ilustrasi lelah bekerja.
Ilustrasi lelah bekerja.

Oleh: Kiki Amalia, M.Psi., Psikolog*

"GEN Z sekarang susah." Kalimat itu hampir selalu muncul ketika saya berbincang dengan pemilik usaha, praktisi sumber daya manusia (HR), atau pimpinan instansi.

"Baru tiga bulan kerja sudah resign."

"Tidak bisa diberi masukan."

"Maunya fleksibel, tetapi targetnya tinggi."

Seolah-olah, setiap kali muncul persoalan di tempat kerja, jawabannya sederhana: salahkan Generasi Z. Namun, benarkah persoalannya sesederhana itu?

Saya justru memiliki pertanyaan lain. Jangan-jangan yang berubah bukan hanya Generasi Z. Jangan-jangan dunia kerjanya juga.

Hari ini, anak muda memasuki dunia kerja yang sangat berbeda dibandingkan sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Teknologi berkembang sangat cepat. Kecerdasan buatan mulai mengambil alih sebagian pekerjaan. Persaingan semakin ketat. Pada saat yang sama, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur. Notifikasi pekerjaan dapat muncul kapan saja, bahkan setelah jam kerja berakhir.

Di tengah perubahan tersebut, cara Generasi Z memandang pekerjaan pun ikut berubah. Jika dahulu orang bertanya, "Bekerja di mana?"

Kini pertanyaannya bergeser menjadi, "Bagaimana budaya kerjanya?"

Jika dahulu ukuran keberhasilan adalah bertahan selama mungkin di satu perusahaan, kini banyak anak muda lebih peduli apakah mereka masih memiliki kesempatan untuk berkembang, belajar, dan tetap memiliki kehidupan di luar pekerjaan.

Bagi sebagian orang, perubahan ini dianggap sebagai tanda bahwa Generasi Z kurang loyal. Padahal, berbagai penelitian justru menunjukkan gambaran yang berbeda.

Sebuah penelitian terhadap pekerja Generasi Z di Indonesia menemukan bahwa kecenderungan quiet quitting, tetap bekerja, tetapi kehilangan keterlibatan dan hanya menyelesaikan pekerjaan sekadarnya, lebih rendah pada mereka yang mengalami job flourishing. Artinya, ketika seseorang merasa dihargai, memiliki kesempatan berkembang, menjalin hubungan kerja yang baik, serta menemukan makna dalam pekerjaannya, keinginan untuk "menyerah secara diam-diam" ikut menurun. Menariknya, faktor-faktor psikologis tersebut terbukti lebih berpengaruh dibandingkan sekadar besarnya gaji. Temuan ini menyampaikan pesan sederhana. Seseorang tidak bertahan hanya karena dibayar. Ia bertahan karena merasa pekerjaannya masih layak diperjuangkan.

Di sisi lain, penelitian lain terhadap pekerja Generasi Z menunjukkan bahwa burnout menjadi salah satu penyebab utama munculnya quiet quitting. Ketika tekanan terus meningkat, target semakin tinggi, tetapi dukungan dari organisasi tidak ikut hadir, banyak pekerja memilih menarik diri secara emosional. Mereka tetap datang ke tempat kerja, tetapi semangatnya telah hilang.

Sering kali kondisi ini disalahartikan sebagai kemalasan. Padahal, malas dan lelah adalah dua hal yang berbeda. Sayangnya, kita sering lebih cepat menghakimi daripada bertanya. Kita bertanya mengapa mereka mengundurkan diri. Namun, kita jarang bertanya apa yang membuat mereka ingin pergi.

Tentu saja, hal ini bukan berarti semua keputusan Generasi Z selalu benar. Ada pula pekerja muda yang menginginkan segala sesuatu serba cepat. Baru beberapa bulan bekerja sudah berharap promosi. Baru menerima satu kritik langsung menganggap lingkungannya tidak sehat. Padahal, dunia kerja memang bukan tempat yang selalu nyaman. Di sanalah seseorang belajar menerima masukan, mengelola emosi, bekerja sama dengan orang yang berbeda, serta bertumbuh sebagai seorang profesional.

Namun, organisasi juga perlu bercermin. Apakah tempat kerja yang dibangun hari ini benar-benar membuat orang ingin berkembang, atau sekadar bertahan? Apakah pemimpin lebih sering memberikan umpan balik, atau hanya muncul ketika terjadi kesalahan?

Apakah karyawan dipandang sebagai manusia, atau sekadar angka dalam laporan kinerja? 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin penting karena persaingan mendapatkan talenta terbaik tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya gaji. Orang dapat berpindah kapan saja. Yang membuat mereka tetap bertahan adalah pengalaman bekerja yang sehat.

Mungkin inilah saatnya kita berhenti melihat persoalan ini sebagai pertarungan antara "Gen Z yang manja" dan "atasan yang terlalu keras." Sesungguhnya, yang sedang berubah adalah cara manusia memaknai pekerjaan.

Bekerja tidak lagi semata-mata untuk mencari nafkah. Orang juga mencari ruang untuk belajar, dihargai, membangun relasi, serta merasakan bahwa hidupnya memiliki makna.

Bagi Generasi Z, pesannya sederhana: jangan terburu-buru menyerah hanya karena menghadapi kesulitan pertama. Tidak semua tekanan merupakan tanda bahwa Anda berada di tempat yang salah. Kadang-kadang, justru melalui tekanan itulah kemampuan dan karakter sedang dibentuk.

Bagi para pemimpin, jangan terburu-buru memberikan label. Cobalah lebih banyak mendengar. Tempat kerja yang sehat bukan berarti tanpa target atau tanpa disiplin. Tempat kerja yang sehat adalah tempat yang mampu menantang setiap orang untuk berkembang tanpa membuat mereka kehilangan jati dirinya.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang selama ini kita ajukan memang kurang tepat. Bukan, "Mengapa Generasi Z sulit bertahan?" Melainkan, "Mengapa semakin banyak orang tidak ingin bertahan?"

Sebab, jika hanya satu orang yang memilih pergi, mungkin itu persoalan pribadi. Namun, jika hampir semua organisasi mengeluhkan hal yang sama, mungkin sudah saatnya kita melihat persoalannya dari sisi sistem.

Bisa jadi, bukan Generasi Z yang terlalu lemah. Bisa jadi, justru dunia kerja kita yang sedang ditantang untuk menjadi tempat yang lebih layak bagi manusia untuk bertumbuh.**

 

*Penulis adalah dosen Program Studi Psikologi Islam IAIN Pontianak.

Editor : Hanif
budaya kerja produktivitas loyalitas Gen Z dunia kerja