Medsos

Hanif • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 11:43 WIB
Khairul Fuad
Khairul Fuad

Oleh: Khairul Fuad*

DI era sekarang seperti tanpa sekat, yang jauh berjarak tempat seolah dekat, justru bersebelah lekat terlihat renggang berlipat-lipat. Era media sosial dengan gawai sebagai alat, telah membuat hubungan tak lagi merapat, seolah tali-simpul tiada lagi terikat, terurai oleh layar gawai sehingga tertambat. Kondisi seperti itu kini dialami masyarakat, yang sedang atau malah sudah terlena dunia maya yang memikat, berpotensi dunia nyata rapuh lagi rungkat.

            Melek digital adalah penyeimbang atas arus kondisi yang dipenuhi bimbang agar tetap tegak, tidak tumbang, di atas rel tersebut sebagai tali tambang, terikat semestinya dan selayaknya agar tidak terpeleset ke dalam jurang. Melek digital sepertinya pengetahuan sebagai kemampuan memilah-memilih informasi di tengah arus informasi elektronik seperti banjir bandang, siap menerjang setiap yang menghadang  

            Melek digital seolah kapal pandu, mengarahkan kapal besar untuk tidak karam, dari terantuk karang yang jauh terpendam. Kapal besar pun aman melintasi muara hingga sampai pelabuhan di dalam. Begitulah melek digital menjadi suluh seseorang seolah saat di hari malam. Menjadi penerang di belantara media sosial agar tidak berkesudahan kelam. Pengetahuan tersebut menjadi parameter saring sebelum sharing agar tidak mengakibatkan suram dan runyam, unggah mana yang baik dan tidak baik agar warganet tidak menaruh geram.

Suka tidak suka, kehidupan kini terhubung, bahkan tergantung dengan media sosial. Alih-alih menghindar justru dapat berakibat terpental. Dari komunitas masyarakat besar, menengah, dan kecil sekalipun terkoneksi dengan sinyal. Segala informasi berupa pengetahuan maupun sekadar pemberitahuan, sekarang ini diteruskan oleh internet melalui kanal-kanal. Oleh karena itu, di satu sisi perlu melek digital agar bisa tetap aktual, namun, di sisi lain, perlu waspada dan hati-hati sebagai bekal karena apapun itu tetap ada pertimbangan di ranah publik-sosial

Apapun itu, termasuk media sosial terdapat positif dan negatif, yang tak dipungkiri dan ingkari. Berita nun jauh di batas negeri, seketika itu dapat diketahui tanpa menunggu sekian hari. Kegiatan masyarakat mudah dirasakan progresifnya cukup melalui grup elektronik dalam satu koordinasi. Bahkan, untuk secangkir kopi di pagi hari, cukup melalui piranti berupa aplikasi atau sebungkus roti dinikmati di malam hari hanya gunakan telepon pintar, kurir akan siap men-delivery.  Akan tetapi, sisi negatif perlu sekali, mendapat porsi agar dampak tidak menimbulkan hal yang berarti. Menghindari dampak negatif yang menyertai lebih awal dicermati daripada dampak positif yang nantinya mengikuti.

Langkah yang perlu dan penting, tentu melalui pengetahuan tersebut sebagai antisipasi dampak media sosial yang kini menjadi fenomena. Di manapun saja kini orang berada yang selalu mampir dan melewati sebuah beranda. Dulu, disibukkan apa yang terjadi di dunia nyata, sekarang ditambah apa yang viral di dunia maya.  Yang nyata kini dialihkan oleh yang maya sebagai yang nyata, padahal hanya semata maya, mengalihkan pandang mata berdampak cidera logika.

Media sosial sejatinya hanya sekadar wahana, tidak berpengaruh apa-apa, netral untuk digunakan di sini maupun di sana. Alat hanya penunjang kehidupan saja agar berdaya-guna untuk mengatasi segala kendala. Jika dulu berkirim surat menunggu beberapa masa, kini seolah sekejap mata, pesan yang dilayangkan dapat dibaca. Sebagai alat yang kini ada telah menggeser, bahkan menggusur yang dulu ada. Melalui gawai, segalanya tersedia, tentunya dengan memiliki cukup kuota.

Oleh karena itu, manusia memegang peran penting terhadap media sosial. Digunakan dengan semestinya maka tidak berbuah sial, jika sebaliknya, tidak selayaknya maka ujung-ujungnya menyesal. Pengetahuan tersebut merupakan bekal sebagai pertimbangan di media sosial. Baik-buruk saat meramban di belantara media sosial merupakan pertimbangan demi menjaga kesehatan mental. Sesuatu yang baik bermanfaat berpotensi bakal akan bisa terkenal, sebaliknya sesuatu yang buruk memang dapat berkesudahan viral, tetapi dijadikan pembicaraan sumir di kalangan masyarakat digital di era kini milenial.

            Baik-buruk merupakan tumpuan sebagai modal utama. Selalu merasa pantas-takpantas atas nama norma dan agama. Pertimbangan baik-buruk dan layak maka dapat diunggah di dunia maya melalui kanal-kanal yang tersedia. Baik-buruk, tidak selayaknya  maka tidak perlu berada di dunia maya  yang akan bertandang ke semua beranda, dan dikhawatirkan berakhir lara. Sederhana unggah tanpa pertimbangan maka tak sesederhana menanggung dampak yang ada

            Pantas-takpantas menjadi pertimbangan saat berselancar untuk unggah-mengunggah. Pantas-takpantas menjadi pengetahuan untuk mencegah sehingga tidak dirundung musibah. Segala layak dan pantas selalu menyertai demi menjaga marwah. Jejak digital media sosial dapat dilacak dengan mudah, apa-apa yang dulu pernah ditumpah. Baik yang ditumpah dapat memantik berkah, sedangkan buruk yang diunggah hanya tertinggal gundah. Media sosial memang mudah berbagi kisah, tetapi tidak semudah menyaringnya untuk tidak merasakan gelisah dan tidak membikin resah. 

Sebuah Hadist Nabi Muhammad dapat menjadi penuntun sehingga irisan apapun di media sosial tetap dalam koridor santun. Jari-jemari tidak ngelantur, mengatur tutur meski satu kata sekalipun. Unggahan apapun selalu terukur saat bermedia sosial sampai kapanpun dan di manapun mengoperasikan gawai selalu terselip alarm diri, menghindar nantinya perundungan yang tiada ampun. Mulutmu memang harimaumu, jari-jemari sekarang pun terpumpun menjadi harimau karena akibatnya, bahkan dampaknya nanti bisa beruntun.“Seorang muslim adalah yang karenanya orang-orang muslim selamat dari lisan dan tangannya dan orang yang pindah adalah yang pindah dari apa yang Allah larang (HR Bukhori Muslim).”

            Tangan dulu menyisakan lara secara fisik, tetapi kini meninggalkan bara melalui unggahan kata-kata yang mengusik. Kata-kata berpotensi bara yang bakal membakar rasa, perlu telisik dan selidik dahulu agar media sosial tetap terhubung apik. Bahkan, jika dirasa tidak perlu unggah, lebih baik tangan takusah mengeklik karena unggahan dianggap asyik-asyik, orang lain dapat menganggapnya pelik. Berdampak hubungan di dunia nyata menjadi renik. Bisik-bisik berlanjut selidik-selidik dan potensi berkesudahan berisik.

            Oleh karena itu, berhati-hati interaksi di dunia maya karena dampaknya semakin terasa nyata. Betapa banyak korban akibat berselancar tanpa pertimbangan baik-buruk sebagai penjaga. Pada gilirannya, berkesudahan menginap di hotel prodeo, jauh dari keluarga dan sanak saudara. Hanya sekerat kata di dunia maya berakibat sekarat lara di dunia nyata. Gawai taklebih alat semata agar tetap di bawah kuasa, bukan diperalat sehingga tunakuasa mengendalikan dengan nyata.

Dengan harapan melalui melek digital,  tersulut rasa sadar saat tidak layak dan tidak patut tergelar, segera dihindar dari media sosial agar tidak tersebar. Era milenial dunia maya mudah sekali terdampak hal-hal yang belum tentu benar. Apalagi daya dukung berupa piranti lunak, berjajar siap memugar sesuatu menjadi seolah-olah benar padahal hanya hoaks takberdasar. Memang sulit menghindar dari sesuatu yang tengah bersinar, sebagaimana media sosial, tetapi pengetahuan tersebut ibarat tabir surya bakal menahan pendar sinar sehingga hati tetap bisa memantik sadar dan kedua mata berbinar-binar melihat dengan benar agar tidak terpapar.**

      

*Penulis adalah civitas BRIN Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL).

Editor : Hanif
media sosial medsos digital hoaks melek digital