Aku dan Angkatan 45, Renungan 81 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Hanif • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 11:47 WIB
Syafaruddin Daeng Usman
Syafaruddin Daeng Usman

Oleh: Syafaruddin Daeng Usman*

DARI para mentor saya yang rata-rata berasal dari Angkatan 45 dan merupakan pemimpin perjuangan, saya meyakini bahwa mereka adalah generasi pembebas. Mereka inilah yang kita kenal sebagai Angkatan 45.

Angkatan 45 dapat dikatakan sebagai the best generation of Indonesia. Sebagai anak muda, saya merasa beruntung karena sempat berinteraksi dengan banyak tokoh dari Angkatan 45. Bahkan, keluarga kami sendiri merupakan keluarga pejuang, bagian dari Angkatan 45. Suasana inilah yang secara tidak sadar menjadi bagian dari proses penerusan atau pewarisan nilai-nilai Angkatan 45 kepada generasi penerus, termasuk kepada saya.

Keluarga kami adalah keluarga Angkatan 45 dan Legiun Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia. Lingkungan saya adalah lingkungan keluarga pejuang kemerdekaan, lingkungan republikein jika merujuk istilah pada masa itu.

Angkatan 45 terbentuk dan bangkit karena mereka tidak ingin diperlakukan lebih hina oleh penjajah. Pada masa itu, mereka sering mendengar kalimat "Verboden voor Honden en Inlanders" (anjing dan pribumi dilarang masuk) serta melihat tulisan-tulisan tersebut di dinding-dinding.

Selain tumbuh dan besar dalam keluarga pejuang kemerdekaan, saya juga beruntung sering berinteraksi langsung dengan tokoh-tokoh Angkatan 45 di Kalimantan Barat. Saya sering berkunjung kepada Haji Abang Achmad Noor, Haji Gusti Mohammad Appandie Ranie, Ya' Syarif Umar, Haji Uray Ibrahim Saleh, Haji Achmad Mawardi Djafar, Syarif Mazwar Alhinduan, Kadaruddin Mundit, Syarif Alwi, AMS, SH Marpaung, M. Yanis, dan tokoh-tokoh lainnya.

Hal yang paling menonjol dari mereka yang saya lihat dan rasakan adalah, pertama, sikap patriotik. Kecintaan terhadap tanah air tidak pernah surut meskipun usia mereka terus bertambah.

Kedua, rasa percaya diri. Dari sorotan mata mereka terlihat rasa percaya diri, kebanggaan menjadi orang Indonesia, serta optimisme yang tinggi.

Benarlah sebuah adagium yang menyebutkan bahwa seorang guru sejati akan bangga melihat muridnya melampaui dirinya. Seorang guru akan memastikan anak didik dan bahkan anak buahnya berhasil melebihi dirinya, bahkan tidak sungkan ikut mengantarkan mereka menuju pintu pengabdian tertinggi bagi kepentingan bangsa dan negara.

Saya merasa mendapatkan kesempatan luar biasa yang belum tentu dapat diperoleh banyak orang di negeri ini, yakni dapat berdialog langsung dan mengikuti perjalanan tokoh-tokoh Angkatan 45 yang menjadi bagian penting dalam revolusi kemerdekaan di daerah ini.

Saya merasa menjadi murid dari para pelaku sejarah, terutama almarhum Haji Abang Achmad Noor, Haji Uray Ibrahim Saleh, Ya' Syarif Umar, dan Haji Achmad Mawardi Djafar. Beliau-beliau sering bercerita tentang pengalaman, pandangan, dan berbagai hal lainnya.

Mereka juga sangat menguasai sejarah, sebagaimana umumnya generasi Angkatan 45. Sangat mengasyikkan ketika mendengarkan mereka menyampaikan berbagai hal. Dari sikap dan budi pekerti yang luhur itulah saya sangat menghormati beliau-beliau.

Sebagaimana umumnya Angkatan 45, beliau-beliau sangat patriotik. Bahkan ketika telah berusia senja, perhatian mereka terhadap keutuhan bangsa, kedaulatan negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta pentingnya Pancasila sebagai dasar negara tetap sangat besar.

Pada umumnya para tokoh Angkatan 45, sebagaimana juga almarhum bapak saya, merupakan pribadi yang rendah hati (humble), tidak pernah ingin menjelekkan orang lain, sangat bijaksana, serta selalu ingin merangkul dan mempersatukan. Hidup mereka sangat bersahaja. Mereka ingin mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri.

Terutama dari almarhum bapak saya, beliau adalah sosok teladan yang banyak memengaruhi diri saya. Ajaran dan nasihatnya membentuk pribadi saya. Selain patriotisme yang menjadi ciri khas Angkatan 45, beliau mengajarkan agar selalu berpikir, berbuat, dan bertutur kata yang baik. Jangan pernah membiarkan diri berpikir buruk terhadap orang lain. Itulah ajaran bapak saya yang selalu melekat dalam hati.

Sampai sekarang, saya menganggap nilai-nilai yang beliau-beliau ajarkan sangat bermanfaat dan sesuai dengan budaya Indonesia. Bapak saya juga mengajarkan bahwa orang yang berani harus memiliki kegembiraan dalam menjalani hidup.

Dari para tokoh Angkatan 45, terutama almarhum Haji Abang Achmad Noor, saya juga mendapatkan pelajaran bahwa disiplin adalah napas, kesetiaan adalah jiwa, dan kehormatan adalah segalanya. Begitulah, saya dibesarkan oleh nilai-nilai Angkatan 45. Angkatan 45 adalah generasi yang sangat percaya diri, bangga, dan memiliki kepekaan tinggi. Kepercayaan diri mereka banyak didasari oleh kebesaran sejarah masa lalu.

We have repeatedly beaten the odds ...

 

*Penulis adalah Ketua Umum Dewan Harian Daerah Badan Pembudaya Kejuangan 45 (DHD 45)  Kalimantan Barat; anggota Dewan Paripurna Nasional 45 Republik Indonesia.

Editor : Hanif
warisan semangat refleksi Patriotisme republik indonesia kemerdekaan