Oleh: Br. Ferdianus Jelahu, S.Pd*
SALAH satu ciri khas pendidikan masa kini adalah penguatan pendidikan karakter. Pendidikan karakter menjadi pusat perhatian serius dari seluruh satuan pendidikan untuk menuju Generasi Emas. Analisis ini hanya mengacu pada salah satu indikator untuk mencapai Generasi Emas. Pendidikan karakter bukan sekadar mencapai prestasi akademik, tetapi juga membentuk kepribadian yang matang, bertanggung jawab, memiliki empati, dan menjunjung subsidiaritas. Capaian pendidikan karakter didasari nilai-nilai yang mendorong penguatan motivasi dan daya tahan dalam menghadapi tantangan di era disrupsi.
Pembentukan pendidikan karakter, selain didorong oleh usaha dari dalam diri untuk berupaya menjadi pribadi yang baik, juga tidak boleh melupakan peran orang lain yang turut membantu membentuk karakter seseorang. Ada pihak lain yang ikut ambil bagian dalam perkembangan tersebut. Di rumah, misalnya, ada orang tua. Di sekolah, ada guru dan tenaga kependidikan yang memiliki peran vital dalam membina, mendidik, dan membimbing murid agar memiliki motivasi positif, berperilaku baik, dan berkepribadian.
Faktor eksternal sangat menentukan pertumbuhan pendidikan karakter yang positif. Untuk mendukung perkembangan pendidikan karakter murid, ada berbagai bentuk pembinaan dan pembiasaan baik yang dapat dilakukan, misalnya memberikan pelatihan berbasis penguatan pendidikan karakter kepada murid, menyosialisasikan pembiasaan baik secara berkelanjutan, serta menjalin kemitraan dengan orang tua melalui paguyuban orang tua untuk melakukan bimbingan secara berkelanjutan. Antara sekolah dan orang tua di rumah perlu terjalin kerja sama yang konvergen, yaitu adanya keselarasan tujuan yang sama.
Perkembangan teknologi tidak dapat dielakkan dan dapat memberikan pengaruh kuat terhadap pemahaman atau pola pikir yang kemudian membentuk kebiasaan dan karakter. Pengaruh tersebut bisa saja mengubah kebiasaan baik menjadi kurang baik apabila penggunaan media tidak dikontrol.
Menyadari hal ini, sekolah memiliki upaya untuk meminimalkan penggunaan gawai. Penggunaannya diatur sedemikian rupa sehingga pola kehidupan murid tidak sepenuhnya bergantung pada gawai. Tujuan meminimalkan penggunaan gawai di sekolah adalah agar murid dapat menumbuhkan kepekaan sosial dan kepedulian terhadap teman yang mengalami kesulitan. Kebiasaan-kebiasaan seperti ini perlu dibangun secara terus-menerus dan berkelanjutan. Lalu, bagaimana dengan pengaturan gawai di rumah?
Murid juga dilatih memiliki discernment, yaitu kepekaan batin untuk melihat realitas konkret yang dialami di sekolah. Pengalaman diskresi membantu murid merasakan dan mengalami hal yang sama dengan murid lainnya. Dibutuhkan discernment agar murid mampu memilah mana yang baik dan mana yang kurang baik. Hal ini memungkinkan apabila pendidikan karakter “menyatu” dalam diri murid.
Tidak ada kata terlambat untuk meningkatkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Yang paling penting, pendidikan karakter tidak hanya berlaku bagi murid di sekolah atau orang tua di rumah, tetapi untuk semua lini usia (Koesoema, 2018:73).
Dari Mana Memulai Pendidikan Karakter?
Pendidikan karakter dimulai dari lingkungan keluarga dan diteruskan di lingkungan pendidikan. Keluarga memiliki peran penting dalam penguatan pendidikan karakter. Demikian pula di sekolah, guru memiliki peran strategis dalam mendorong peningkatan pendidikan karakter. Peran strategis guru di sekolah bukan berarti mengambil alih tugas orang tua di rumah, melainkan menjalin kemitraan untuk memperkuat pendidikan karakter yang sudah dimulai dari keluarga.
Kemitraan dengan orang tua merupakan bagian dari proses penguatan pendidikan karakter, mengingat proses pembentukan karakter bukan hanya tugas guru di sekolah. Demikian pula sebaliknya, pendidikan karakter bukan hanya tugas orang tua di rumah. Keduanya memiliki tanggung jawab dalam mendorong penguatan pendidikan karakter bagi murid.
Pendidikan karakter juga berkaitan dengan berbagai aspek, misalnya perkembangan kepribadian, sikap sosial, spiritual, relasional, perkembangan akademik atau belajar, dan lain sebagainya. Pendidikan karakter harus dimulai sejak dini. Kebiasaan-kebiasaan baik perlu diajarkan terus-menerus. Tidak cukup hanya dua atau tiga kali, tetapi harus dilakukan secara berkelanjutan. Tujuannya sederhana, yakni membangun kesadaran mendalam tentang sikap-sikap yang baik.
Sebagai guru di sekolah, kita pun selalu menghadapi pengalaman yang sama dalam mendampingi murid. Bukan berarti membosankan dalam mendidik murid. Tentu bukan seperti itu. Murid masa kini perlu didampingi dengan penuh cinta melalui kebiasaan-kebiasaan positif yang dilakukan secara terus-menerus.
Pendidikan Karakter Perlu Analisis Kritis
Pendidikan karakter bukan sekadar ikut arus, tetapi merupakan identitas yang selalu melekat. Pendidikan karakter yang kuat selalu mengacu pada komitmen dari dalam diri. Komitmen ini melahirkan daya kritis terhadap “gejolak” yang terjadi di luar diri.
Ada fenomenologi yang kuat dari dalam diri sehingga seseorang tidak mudah terpengaruh oleh berbagai situasi negatif dari luar. Pendidikan karakter yang kuat selalu melahirkan nalar kritis dan kemampuan untuk belajar dari pengalaman.
Pendidikan karakter cukup kompleks (Koesoema, 2015). Karena itu, pendidikan karakter tidak selalu mudah disederhanakan. Dibutuhkan waktu dan proses untuk terus mengejawantahkan konsep ke dalam praktik pendidikan. Keselarasan antara keduanya dapat membantu proses pembentukan pribadi yang utuh dan dewasa.
Target yang ingin dicapai dalam pendidikan karakter adalah pertumbuhan pribadi yang matang dan dewasa. Berkaitan dengan hal ini, pendidikan karakter berlaku sepanjang hayat. Bukan saja untuk satuan pendidikan yang sasarannya adalah murid, tetapi juga berlaku untuk semua.
Ada tiga hal yang tidak dapat dilepaskan dalam pendidikan karakter, yaitu pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Dikatakan oleh Suyanto dalam Wibowo (2012:33), tanpa ketiga aspek tersebut pendidikan karakter tidak akan berjalan efektif.
Ketiga hal ini menjadi konsentrasi pembentukan pendidikan karakter dalam satuan pendidikan. Untuk itu, ketiganya tidak dapat dipisahkan dalam praktik sehari-hari di sekolah.
Namun, perlu juga menjadi catatan kritis bahwa pendidikan karakter tidak mengabaikan peran pengetahuan. Demikian juga aspek perasaan. Apa yang dirasakan oleh murid dan guru perlu memiliki kesatuan hati. Guru perlu masuk dalam perasaan murid.
Artinya, melalui kemampuan pengetahuan seorang guru, guru dapat mendengarkan secara total dan memberikan pemahaman kepada murid dengan baik sehingga murid dapat merasakan serta memiliki kesadaran penuh dalam tindakannya. Sesuatu yang tidak mudah bagi guru masa kini adalah pembentukan dan peningkatan karakter murid. Epistemologi seolah-olah menganggap pendidikan karakter sebagai tugas guru di sekolah. Padahal, tidak demikian. Pendidikan karakter adalah tugas semua orang dewasa. Perlu menjadi otokritik: apakah orang dewasa tidak perlu pendidikan karakter?
Pendidikan Karakter untuk Semua Orang
Pendidikan karakter ditujukan kepada semua orang, bukan hanya murid. Sebagai guru dan orang tua, kita juga memerlukan pendidikan karakter. Menyadari pentingnya pendidikan karakter bagi semua orang, sekurang-kurangnya peran strategis guru dan orang tua adalah menjadi teladan.
Example is better than precept. Contoh lebih baik daripada perintah. Peran strategis inilah yang menjadi salah satu contoh yang sangat praktis dan ideal. Orang tua dan guru terlebih dahulu harus menjadi teladan.
Hal serupa juga disampaikan Syarbini (2017) dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Karakter Berbasis Keluarga, bahwa keluarga perlu menjadi model atau figur yang dapat menjadi contoh bagi penguatan pendidikan karakter anaknya.
Ada empat model yang dikaji dari perspektif Robert Glaser, yakni tujuan, program, proses, dan evaluasi. Keempat model ini mengarah pada satu kata kunci, yaitu orang perlu menjadi model.
Jika ingin memperdalam model dari Robert Glaser, keempat hal ini perlu dilakukan orang tua di rumah. Pertama, menetapkan tujuan, yakni sasaran yang ingin dicapai sebagai hasil dari proses pendidikan karakter di rumah. Kedua, program, yakni bentuk usaha atau program yang dilakukan di rumah untuk menanamkan nilai pendidikan karakter. Ketiga, proses, yakni menyinergikan semua komponen pendidikan, seperti sosial, spiritual, akademik, dan lain-lain, dalam rangka mencapai tujuan. Keempat, evaluasi, yakni mengukur tingkat keberhasilan setelah menetapkan tujuan.
Selain upaya yang telah dilakukan dalam keluarga, satuan pendidikan perlu memperkuat pendidikan karakter. Peran strategis tenaga pendidik di sekolah dapat membantu kelangsungan pendidikan karakter pada murid agar semakin tangguh dan meningkat. Agar semuanya dapat berjalan bersama orang tua dan sekolah, diperlukan kerja sama dalam mendorong pendidikan karakter yang lebih kuat dan pantang menyerah.
Dikatakan oleh Tuloli dan Ismail (2012) pada bagian pengantar buku Pendidikan Karakter Menjadi Manusia Berkarakter Unggul bahwa pendidikan dimulai dari tenaga pendidik atau guru. Guru terlebih dahulu harus melaksanakan pendidikan karakter. Pendidik atau guru harus lebih dahulu dipersiapkan agar menjadi pendidik yang memiliki pengetahuan tentang apa dan bagaimana karakter unggul atau karakter kejuangan.
Bagaimana cara agar guru sungguh-sungguh dipersiapkan untuk menjadi pendidik yang mampu menerapkan pendidikan karakter? Betapa pentingnya mengikuti pelatihan tentang pendidikan karakter, mempelajari berbagai praktik baik, dan melakukan evaluasi secara berkelanjutan tentang pendidikan karakter di satuan pendidikan. Hal ini akan membantu para pendidik atau guru dalam memberikan pemahaman tentang pendidikan karakter.
Secara etimologi, karakter berasal dari bahasa Latin, character, yang berarti watak, tabiat, sifat-sifat, kejiwaan, budi pekerti, kepribadian, dan akhlak. Secara terminologi, karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya yang bergantung pada faktor kehidupan itu sendiri (Fitri, 2017:20). Lebih lanjut, Fitri menyatakan bahwa tujuan pendidikan karakter adalah membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku murid agar menjadi pribadi yang positif, berakhlak karimah, berjiwa luhur, dan bertanggung jawab.
Seberapa kuat pun pengaruh dari luar lingkungan, apabila sinergi pendidikan karakter kuat, pengaruh tersebut tidak akan memberikan dampak yang dahsyat terhadap nilai pendidikan karakter apabila fondasi dasarnya sudah kuat. Untuk memperkuat fondasi dasar ini, diperlukan sinergi antara guru dan murid serta guru dan orang tua. Hal tersebut menjadi salah satu kunci utama dalam mengubah karakter murid.
Tentu saja, perubahan tidak terjadi dalam waktu sekejap, tetapi membutuhkan proses yang dapat membentuk kepribadian. Menjadi teladan bagi orang lain juga bukan hal yang mudah. Dibutuhkan pengorbanan, pemberian diri, dan kerendahan hati karena semuanya dapat memberikan dampak bagi orang lain.
Pendidikan karakter tidak bisa diukur hanya melalui satu indikator capaian. Namun, hal yang melekat dalam diri seseorang adalah kemampuan atau potensi untuk membedakan mana yang baik atau positif dan mana yang tidak baik atau negatif.
Kemampuan ini perlu didorong oleh motivasi yang kuat. Kemampuan dan motivasi tidak dapat dipisahkan dalam diri seseorang. Keduanya secara otomatis melekat dalam diri seseorang. Pertanyaannya, faktor mana yang lebih kuat memengaruhi? Apakah kemampuan dan motivasi yang dikembangkan atau pengaruh faktor-faktor negatif?
Seseorang yang mampu memaksimalkan kemampuan dan motivasinya akan semakin terdorong untuk membentuk karakter yang kuat. Pendidikan karakter selalu menemukan dua faktor yang tidak dapat dipisahkan, yakni faktor internal dan eksternal. Karena itu, peran semua orang dewasa dalam pendidikan karakter adalah membantu membimbing murid, baik dari aspek pengetahuan, perasaan, maupun tindakan. Ketiga hal ini perlu menjadi gerakan bersama dari orang dewasa sehingga mendorong peningkatan nilai pendidikan karakter dalam diri murid.
Sekali lagi, semua ini membutuhkan kemitraan atau kerja sama, baik dari tenaga pendidik, murid, orang tua, maupun pemerhati pendidikan. Semoga pendidikan karakter yang terus ditingkatkan dapat menjawab tantangan zaman.**
*Penulis adalah Kepala SMP Bruder Pontianak; alumni USD Yogyakarta; mahasiswa Magister Prodi AP Untan.
Editor : Rafael B. Junior