Merah Putih Tetap di Dada, Walau Luka di Kepala

Hanif • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 12:58 WIB
Muhammad Azmi
Muhammad Azmi

Oleh: Muhammad Azmi*

HARI ini dentum meriam pusaka dan kepakan Sang Saka Merah Putih kembali mengingatkan kita pada sebuah kesepakatan besar bernama Indonesia. Namun, kita tidak boleh naif. Perayaan kemerdekaan kali ini berkibar di bawah langit yang sedang mendung. Di kedai kopi hingga linimasa media sosial, narasi perayaan bercampur aduk dengan keluh kesah masyarakat. Kebijakan yang mencederai rasa keadilan, gurita korupsi yang tak kunjung putus, hingga jurang ketimpangan ekonomi adalah hantaman realitas yang menyakitkan. Sangat manusiawi jika muncul kekecewaan di benak anak negeri, dan sangat logis pula jika muncul amarah atas ketidakadilan yang kasat mata.

Di tengah gelombang kekecewaan tersebut, sebuah fenomena mengkhawatirkan mulai merayap di ruang digital kita. Kita menyaksikan riak keputusasaan yang mulai bertransformasi menjadi ancaman keretakan pondasi berbangsa. Akhir-akhir ini, tidak sedikit anak negeri yang mulai menyuarakan keinginan untuk mengibarkan bendera identitas kedaerahan atau menonjolkan simbol etnisitas sebagai bentuk protes terbuka terhadap negara, sebagian lainnya menolak mengibarkan sang saka merah putih saat perayaan kemerdekaan.

Atas nama kekecewaan pada pusat, sentimen kedaerahan ditiupkan kembali. Ini adalah alarm keras di ruang tamu kebangsaan kita. Ketika kekecewaan politik membutakan mata, jiwa patriotik luntur, dan tanpa disadari, benih-benih separatisme sedang disemai di dalam kepala generasi muda.

Kita harus cerdas membaca arah angin provokasi yang menunggangi rasa ketidakadilan ini. Sejarah mengajarkan bahwa seruan yang membakar sentimen kesukuan di tengah krisis jarang sekali lahir dari ketulusan untuk memperbaiki keadaan.

Sebaliknya, provokasi tersebut sering kali digerakkan oleh hasrat tersembunyi segelintir kelompok yang ingin meraup keuntungan pribadi atau politik dengan memanfaatkan momentum kekecewaan rakyat. Mereka menggunakan luka sosial masyarakat sebagai bahan bakar untuk menciptakan panggung kekuasaan baru. Ketika emosi primordial tersulut, para provokator inilah yang akan memanen keuntungan di atas puing kehancuran bersama, sementara rakyat kecil kembali menjadi korban yang paling menderita.

Kita harus bijaksana memisahkan antara negara sebagai cita-cita luhur dan pemerintah sebagai pengelola sementara. Kecewa pada kebijakan adalah hak konstitusional, namun menggugat keutuhan NKRI adalah kekeliruan sejarah yang fatal. Mengganti Merah Putih dengan identitas kelompok tidak akan menyelesaikan ketidakadilan; tindakan emosional tersebut justru meruntuhkan satu-satunya fondasi hukum yang melindungi kita semua. Jika kita merobek tenun kebangsaan ini, kita akan terlempar ke dalam jurang kekacauan yang tak berkesudahan.

Mari bayangkan Indonesia sebagai sebuah kapal raksasa di tengah samudra luas yang penuh badai. Di dalam kapal ini, ada jutaan penumpang dari berbagai suku, agama, dan latar belakang yang bernaung di bawah atap yang sama. Saat ini, kapal kita memang sedang mengalami kebocoran di beberapa ruangan akibat kelalaian nakhoda dan keserakahan sebagian awak kapal. Kebocoran itu mewakili korupsi dan ketidakadilan yang kita saksikan sehari-hari. Logikanya, apa yang terjadi jika penumpang di bilik tertentu memutuskan menjebol dinding pembatas mereka, membuat sekoci terpisah, atau sengaja merusak lambung kapal karena marah pada nakhoda? Kapal itu akan tenggelam lebih cepat, dan tidak ada satu pun kelompok yang akan selamat dari gulungan ombak.

Ketika persatuan goyah dan ego sektarian mengambil alih, kompas kemanusiaan kita akan hilang. Hukum rimba akan berlaku, kekuatan asing dengan mudah mengeksploitasi kelemahan kita, dan konflik horizontal akan membakar tanah air. Kerugian terbesar dari hilangnya persatuan bukanlah dirasakan oleh elite politik atau oligarki yang memiliki modal untuk melarikan diri ke luar negeri. Penderitaan terdalam justru dipikul oleh rakyat kecil yang kehilangan kedamaian di rumahnya sendiri. Menghancurkan NKRI karena kecewa pada sistem hukum sama saja dengan membakar seluruh rumah hanya karena ingin mengusir seekor tikus yang ada di dapur.

Slogan NKRI Harga Mati bukanlah jargon usang tanpa makna. Kalimat itu adalah benteng psikologis dan fisik yang memastikan anak cucu kita tidak perlu mengalami ngerinya perang saudara. Cinta tanah air adalah energi untuk memperbaiki yang rusak, bukan alasan pembenaran untuk menghancurkan apa yang sudah dibangun dengan darah para syuhada. Para pahlawan terdahulu telah menuntaskan tugas sejarah mereka merebut kemerdekaan dengan taruhan nyawa. Hari ini, definisi pahlawan telah bergeser. Pahlawan hari ini bukan lagi mereka yang memegang bambu runcing, melainkan setiap kita yang menolak menyerah pada keadaan dan tetap memilih berbuat baik untuk maslahat bangsa.

Setiap kita memiliki kapasitas untuk menjadi pahlawan di medan juang profesi masing-masing. Seorang guru di pelosok negeri adalah pahlawan yang memotong mata rantai kebodohan sekaligus membentengi jiwa kritis anak muda agar tidak mudah dipecah belah oleh hoaks kesukuan. Petani dan buruh adalah pahlawan ketahanan pangan dan penggerak utama roda ekonomi yang menjaga urat nadi bangsa tetap berdenyut. Begitu pula dengan tenaga medis yang menjadi benteng pertahanan kemanusiaan, serta pelaku UMKM dan kreator konten yang menyebarkan optimisme, menciptakan lapangan kerja, dan membuktikan karya anak bangsa mampu menantang dunia.

Bahkan mahasiswa dan aktivis yang bersuara di ruang publik adalah pahlawan penjaga nalar sehat, selama kritik bertujuan meluruskan kebijakan yang bengkok, bukan merobohkan tiang negara. Jangan biarkan rasa kecewa kepada oknum membuat kita berhenti memberikan kontribusi terbaik. Ketika sistem terasa korup, jadilah satu titik putih yang tetap jujur. Ketika ketidakadilan merajalela, jadilah uluran tangan yang merangkul sesama tanpa memandang sekat etnisitas maupun kedaerahan.

Indonesia terlalu berharga untuk dikorbankan hanya karena kita sedang marah pada segelintir orang yang menyalahgunakan kekuasaan. Mari kita ambil kembali kendali narasi bangsa ini dari tangan-tangan yang ingin memecah belah. Di momen Hari Kemerdekaan ini, mari kita rekatkan kembali barisan, buang jauh-jauh ego kesukuan yang sempit, dan gaungkan dengan penuh kebanggaan, kritik terhadap ketimpangan harus dijalankan sekencang-kencangnya, tetapi keutuhan NKRI tetap menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Sekali merdeka tetap merdeka, NKRI harga mati!**

 

*Penulis adalah pegiat literasi.

Editor : Hanif
persatuan Indonesia Sentimen kedaerahan nkri nasionalisme kemerdekaan indonesia