Oleh: H. Abdul Hamid*
ALHAMDULILLAH, kita sedang memasuki bulan Rabiul Awal 1448 H, bulan ketiga dalam kalender Hijriah, yang oleh umat Islam disebut juga sebagai Bulan Maulid, bulan kelahiran Nabi akhir zaman, Muhammad SAW. Setiap tahun di negeri ini, khususnya, entah sejak kapan, umat Islam memperingati Hari Maulid Nabi, bahkan sampai akhir bulan Rabiul Akhir. Sungguh, betapa cintanya umat Islam kepada Baginda Rasul.
Rasulullah SAW membawa Kitab Suci Al-Qur'an sebagai mukjizat, yang dengan jelas menyebutkan bahwa satu-satunya agama yang diridai-Nya adalah Islam.
QS Ali Imran 3:19: “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”
Setelah diturunkan-Nya Al-Qur'an, Islam menjadi satu-satunya agama umat manusia sampai akhir zaman kelak, dan tidak ada nabi setelah Baginda Rasul. Namun demikian, disampaikan pula bahwa tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam.
QS Al-Baqarah 2:256: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.”
Dengan tibanya bulan Maulid, tentu sangatlah tepat apabila umat Islam, khususnya, memperingati Maulid Nabi Akhir Zaman ini, walau masih tetap ada yang beranggapan tidak perlu atau bidah. Esensinya, di antaranya, adalah mengungkapkan rasa syukur kepada-Nya atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, menunjukkan rasa cinta, meneladani Baginda Rasul dengan mengingat kembali akhlak mulia dan terpujinya, serta kian menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama. Al-Qur'an dan Al-Hadis juga dijadikan sebagai pedoman hidup sehari-hari, bagi diri sendiri khususnya dan umat manusia umumnya.
Sebagaimana diketahui dan selalu disampaikan dalam setiap peringatan Maulid, Sayyidah Aisyah r.a. mengatakan bahwa akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur'an. Hal ini setidaknya mengandung makna bahwa seluruh sikap, ucapan, dan perbuatan Nabi Muhammad SAW merupakan wujud nyata atau penjabaran dari isi Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.
Perayaan Maulid Rasul mengingatkan kita, umat Islam, untuk menjalankan semua kebaikan, peringatan, suruhan, dan meninggalkan segala hal yang dicela atau dilarang di dalam Kitab Suci ini serta menjadikannya sebagai pedoman hidup sehari-hari. Dalam setiap kisah dan riwayat, Rasulullah SAW telah memberikan suri teladan tentang sifat-sifat mulia, seperti jujur, amanah, sabar, pemaaf, adil, dan dermawan. Segala perilaku, perbuatan, dan perkataan Rasulullah SAW adalah cerminan dari isi Al-Qur'an. Oleh karena itulah, para ulama menyebut Baginda Rasul sebagai Al-Qur'an berjalan. Sungguh, suatu cerminan yang utuh dari Nabi Akhir Zaman ini.
Sebagai satu negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, kita tentunya sangat prihatin dengan berita-berita, baik dari dalam maupun dari luar negeri, yang menyebut Indonesia sebagai negara terkorup. Bahkan, mantan presiden ada yang disebut sebagai salah satu koruptor terbesar.
Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa banyak umat Islam di Nusantara yang belum berislam sebagaimana mestinya, seperti belum mematuhi syariat Islam dan belum berislam secara kaffah. Di samping itu, hal tersebut juga menunjukkan adanya kekurangan dalam manajemen pemerintahan negara.
Setiap perayaan Maulid setiap tahun, kita diingatkan tentang pentingnya akhlak baik atau akhlak mulia bagi diri, keluarga, dan masyarakat umumnya. Namun, sayangnya, kemerosotan akhlak kian transparan dalam berbagai bidang kehidupan.
Sejumlah akhlak buruk atau tercela tampak kian nyata dipertontonkan melalui media sosial oleh mereka yang seharusnya menjadi contoh berakhlak mulia. Beberapa akhlak tercela yang terlihat nyata itu, di antaranya, adalah menyampaikan pendapat secara tergesa-gesa, berlebih-lebihan, sombong atau angkuh, menipu, berbohong, berbuat tidak sesuai dengan perkataan (munafik), terang-terangan dalam berkata buruk, mengadu domba, berburuk sangka, mengumpat, keras hati, lalai, khianat, ingkar janji, dan merusak.
Apakah kita tidak prihatin dengan akhlak di negeri Pancasila ini ketika sekelas menteri (mantan) agama saja ditengarai terlibat kasus korupsi dana haji, juga kasus oknum penegak hukum yang terlibat kasus hukum, sebagaimana diberitakan media massa? Seorang tokoh pers terkenal tahun 1950-an hingga 1970-an, Mochtar Lubis, pernah berpidato dalam suatu forum kebudayaan tentang sifat-sifat manusia Indonesia. Ada sejumlah sifat asli manusia Indonesia yang disampaikannya, yang tampaknya, menurut saya, termasuk kategori akhlak buruk atau tercela. Sifat-sifat yang dikritiknya, di antaranya, adalah jiwa feodal yang masih kuat, munafik atau hipokrit, tidak mau bertanggung jawab, dan percaya tahyul.
Pidato tersebut diterbitkan sebagai buku pada tahun 1977. Beliau pernah dipenjara sekitar sembilan tahun karena “keberanian”-nya mengkritik pemerintah era Presiden Soekarno dan sempat ditahan lagi pada era Presiden Soeharto. Ternyata, akhlak buruk atau tercela penyelenggara negara telah ada sejak kemerdekaan dan, maaf, kian menggejala dalam era reformasi sampai kini. Sifat-sifat buruk dan akhlak tercela ini seharusnya jauh dari diri umat Islam jika Al-Qur'an dan Al-Hadis dijadikan sebagai pedoman hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui peringatan Maulid tahun ini, setidaknya mulai dilakukan perbaikan diri dan pemerintahan secara sungguh-sungguh dalam segala aspek kehidupan, dengan mengamalkan akhlak terpuji Rasul, meskipun hal ini tidaklah mudah dalam era digital yang kian canggih. Jika mau selamat hidup di dunia dan di akhirat kelak, segeralah berislam secara kaffah, benar-benar menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama dengan mengamalkan secara utuh, penuh kesadaran, akhlak terpuji yang dicontohkan Rasulullah SAW, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, serta sejumlah akhlak terpuji lainnya.
QS Al-Maidah 5:8: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Berbuat nyatalah, bukan hanya sekadar “omon-omon”.**
*Penulis adalah purnatugas dosen PNS/ASN Untan sejak 1 Agustus 2020; pengasuh Bacaan Ringan Salam Pontianak; anggota Dewan Penasihat Masjid Almuhtadin Untan.
Editor : Hanif