Kalimantan dalam Garis Krisis Ekologi

Salman Busrah • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 16:19 WIB
Fauziah
Fauziah Noorchaliza

Oleh: Fauzia Noorchaliza,


Kalimantan selalu menghadirkan kesan kuat bahwa hutannya yang luas adalah paru-
paru bagi dunia. Kalimantan menjadi simbol keutuhan hutan hujan tropis yang menjadi rumah  bagi orangutan, bekantan, dan burung enggang. Kanopi pohon-pohon raksasa dipterokarpa menutupi wilayah hutan dan ribuan spesies menjadi bagian penting dari ekosistem hutan Kalimantan.


Saat pertama kali menginjakan kaki di Kalimantan tahun 2023, saya sebetulnya sangat ingin menelusuri hutan dan melihat langsung fauna-fauna endemiknya. Namun karena saat itu bertepatan dengan agenda Kongres HMI XXXII, keinginan itu saya simpan dalam-dalam. 

Rasa penasaran untuk melihat langsung dinamika ekosistem di Kalimantan, terus 
membuncah. 

Rasa penasaran itu kini bercampur dengan kekhawatiran. Khawatir bahwa tidak tersisa 
lagi bentang alam Kalimantan sebagaimana yang digambarkan oleh para peneliti seperti  Alfred Russel Wallace, Odoardo Beccari, dan para ahli biologi lainnya. Terhitung dalam kurun  waktu empat dekade terakhir, lebih dari 30% hutan Borneo hilang akibat pembalakan liar, 
kebakaran, pertambangan, dan ekspansi perkebunan. Sebagian besar hutan dataran rendah yang menjadi pusat biodiversitas telah terdegradasi dan mengalami konversi lahan.

Dibalik angka statistik tersebut justru menyingkap fakta menyedihkan berikutnya. 
Hutan Kalimantan yang kita miliki hari ini mengalami berbagai problematika seperti putusnya koridor satwa, terganggunya siklus hidrologi, dan melemahnya daya lenting ekosistem.

Rasanya menjadi sebuah paradoks bahwa pulau yang dikenal menjadi benteng 
keanekaragaman hayati, kini lebih sering dikenali melalui pemberitaan kebakaran, kepulan  asap, dan degradasi hutan. Seperti kaset yang rusak, kisah pembalakan dan kebakaran terus berulang di hutan Kalimantan. 

Simbol paling kuat dari krisis tersebut dapat disaksikan pada orangutan. Populasi 
orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) di alam liar telah mengalami penurunan drastis hingga 80% sejak tahun 1973. Perkiraan populasinya kini adalah 57.350 individu yang mana dengan angka tersebut, orangutan Kalimantan terancam punah (Critically Endangered).

Penurunan populasi ini banyak disebabkan oleh tekanan antropogenik. Hilangnya habitat bagi orangutan, sesungguhnya yang mengalami kehilangan bukan hanya satu spesies saja. DIketahui bahwa orangutan merupakan umbrella species, yakni 
spesies yang memiliki daerah jelajah yang sangat luas di hutan. Maka, berkurangnya luas habitat bagi orangutan memberi tanda bahaya pada keseluruhan sistem kehidupan yang banyak menopang organisme lain.
Ancaman terhadap hutan Kalimantan tidak hanya berasal dari hilangnya luas hutan, 
tetapi juga rusaknya ekosistem gambut. Gambut di Kalimantan merupakan salah satu penyimpan karbon terbesar di kawasan tropis. Gambut memiliki kadar air yang cukup tinggi.

Ketika dipaksa kering guna memenuhi berbagai kepentingan ekonomi, gambut akan berubah menjadi bom ekologis yang sewaktu-waktu dapat terbakar dan melepaskan ribuan ton karbon 
yang selama ini tersimpan selama ribuan tahun. 

Pada hari Jumat, 21 Agustus 2026, terpantau dari situs Sipongi Kemenhut, terdapat 8.638 titik panas di Kalimantan. BMKG menyampaikan bahwa salah satu penyebab kebakaran hutan disebabkan oleh El Nino. Namun rasanya terlalu sederhana jika menjadikan El Nino sebagai kambing hitam atas krisis yang sedang terjadi. El Nino memang dapat menjadi katalisator untuk mempercepat peluang munculnya api. 

Namun, proses sebelum itu, tidak lepas darifaktor antropogenik yang merusak keseimbangan ekosistem. Api tidak akan mudah menjalar jika ekosistem hutan terjaga dan gambut tidak kehilangan kondisi hidrologisnya yang stabil.

Hutan Kalimantan masih sering dibaca melalui nilai-nilai pemanfaatan yang berujung pada over-exploitation. Hutan menjadisekadar penyedia komoditas, mineral menjadi sumber energi, dan lahan dikonversi menjadi ruang produksi. Padahal, perlu diingat kembali, bahwa bentang alam di Kalimantan telah lama menjadi ruang hidup bagi manusia, flora dan fauna, 
serta berbagai siklus ekologi yang saling berkesinambungan. Kerusakan pada satu komponen akan menjalar pada komponen ekologi lainnya. Tak perlu menunggu lama, efek domino pun terjadi.

Sesungguhnya, kebakaran bukan masalah utama. Kebakaran adalah gejala yang terlihat, untuk manusia membaca tanda-tanda dan isyarat alam. Di bawahnya, ada persoalan jauh lebih kompleks: perubahan tutupan lahan, fragmentasi habitat, degradasi gambut, penurunan keanekaragaman hayati, hingga tekanan terhadap ruang hidup masyarakat. Maka, 
krisis ekologi di Kalimantan perlu dipandang lebih serius.

Masyarakat adat seharusnya mendapat porsi lebih besar dalam penjagaan ruang hidup di hutan. Selama ratusan tahun, masyarakat adat telah menjalin keharmonisan dengan hutan. 

Pengetahuan masyarakat terhadap siklus hutan membuat masyarakat adat perlu untuk dijadikan mitra utama dalam mitigasi dan restorasi ekosistem.

Sayangnya, mitigasi ketika menghadapi kebakaran masih berpusat setelah api muncul. Dapat dikatakan bahwa pendekatan preventif untuk mencegah kebakaran hutan masih belum 
menyentuh akar kerentanan. Hutan Kalimantan tidak bisa diselamatkan hanya melalui patroli kebakaran, pemantauan titik panas, atau operasi pemadaman kebakaran. Penting memang, namun masih bersifat reaktif. Kalimantan butuh reformasi tata Kelola lanskap secara menyeluruh, perlindungan terhadap hutan primer yang masih tersisa, restorasi gambut, penegakan hukum, dan pemenuhan hak-hak masyarakat adat. 

Perlu diingat kembali bahwa kasus kebakaran ini juga tidak hanya terjadi di Kalimantan. 

Di Sumatra dan Papua pun kerap terjadi kebakaran hutan skala besar yang memberikan berbagai kerugian dari sudut pandang ekologis. Karena itu, Indonesia membutuhkan kebijakan yang bergerak lebih cepat dari penyebaran api.

Kalimantan tidak hanya menyimpan warisan ekologis. Lebih dari itu, Kalimantan 
menyimpan jejak peradaban manusia. Maka, sejarah akan menilai apakah generasi kita layak disebut sebagai penjaganya atau justru kita hanya menjadi saksi hilangnya mahakarya alam terbesar yang pernah dimiliki bumi.

*) Wabendum Kohati PB HMI 2024-2026, Wakil Ketua Indonesia Geopark Youth Forum, Wakil Ketua Indonesia Geopark Youth Forum Mahasiswa Pascasarjana Biosains Hewan IPB

 

Editor : Salman Busrah
gambut Kalimantan kebakaran kemarau 2026 Kemarau