Bahaya Ego

Hanif PP • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 11:54 WIB
Ma
Ma'ruf Zahran Sabran

Oleh: Ma'ruf Zahran Sabran*

MOHON ampun kepada-Nya sudah menjadi kebiasaan kaum beriman, laki-laki dan perempuan. Sebab, dipastikan sebagai seorang hamba memiliki dosa. Dosa merupakan penghalang (hijab) hajat dan doa kepada-Nya. Hijab terbesar adalah ego, kesombongan diri terhadap-Nya yang Agung.

Tidak mungkin di dunia ada dua, tiga, empat, atau lebih banyak keagungan, kemurahan, dan kesempurnaan. Jangan mau disanjung sebagai manusia agung. Jangan mau dianggap manusia pemurah. Jangan mau dikata manusia sempurna. Mahaagung, Mahapemurah, Mahasempurna hanya satu, milik Allah. Niscaya Dia tidak akan menerima salat, puasa, zakat, haji, dan doa dari hati yang sombong.

Sombong, saudara kembar durhaka. Pasti Allah tidak menerima doa dari hati yang sombong. Orang sombong tampak dari kehidupan sehari-hari yang menolak kebenaran dan merendahkan sesama. Tidaklah doa mereka, kecuali dalam kesesatan karena berangkat dari hati yang lalai.

Ternyata, sangat dianjurkan sebelum berdoa untuk memohon ampun kepada-Nya terlebih dahulu. Istighfar ibarat pembukaan sebelum ke acara inti, yakni doa.

Mereka yang tidak mau melakukan introspeksi, evaluasi, dan muhasabah diri, tidak berguna lagi nasihat untuknya. Karena semua standar kebenaran berpusat pada dirinya (egosentris). Penentuan barometer benar-salah terdapat pada diri sendiri.

Dampaknya, orang yang egosentris akan sulit membangun pertemanan sejati. Sebab, jiwanya hanya ingin kehadirannya diterima dan dihargai. Namun, tidak mau menerima kehadiran orang lain.

Dampak penyerta lainnya, orang yang egois akan sulit membentuk keluarga sakinah, mawaddah warahmah. Karena orang di sekitarnya dibuat untuk tidak tenang. Mulai dari gaya bahasa sarkas, pembicaraan yang menyerang (ofensif), sampai konflik yang dihadirkan setiap hari.

Selama tidak menyadari bahwa diri merupakan bagian dari diri-diri yang lain, aku adalah bagian dari aku-aku yang lain. Selama itu pula masih berpola pikir negatif-ofensif, yaitu lebih baik menyerang daripada diserang.

Orang sekitar selalu dibuat gaduh, kalut, dan kusut. Orang lain disuruh memahami dirinya. Dirinya tidak pernah benar-benar memahami orang lain.

Egoisme berciri menolak semua nasihat karena menganggap dirinya penasehat ulung sehingga tidak bisa dinasihati. Multifaktor yang menyebabkan seseorang bersikap egoisme saat diri merasa sebagai sentral kebenaran. Terutama faktor masa kecil yang kurang bahagia.

Menjalani hari-hari penuh tekanan, tanpa kasih sayang, menjadi objek ambisi orang dewasa, tidak merasakan kemerdekaan sejati dan kebahagiaan murni. Atau masa kecil yang diselimuti kemanjaan berlebih sehingga tidak merasa berkewajiban dan tidak sanggup memikul tanggung jawab.

Di samping tidak dapat menghargai hak milik orang lain, mudah merampas, mencari, merampok. Kedua tipe asuhan masa kecil tersebut akan berefek buruk bagi jiwa setelah dewasa kelak.

Selain kebal nasihat, egoisme juga merasa kebal hukum. Contohnya Fir'aun, raja Mesir yang akhirnya mengaku Tuhan.

"Aku adalah Tuhanmu yang tinggi."

Pada kesempatan lain, Fir'aun mengatakan, "Sungguh negeri Mesir beserta Sungai Nil telah berada di bawah telapak kakiku."

Meskipun telah diperlihatkan kepadanya enam ayat-ayat (tanda) kebesaran Allah Swt., seperti wabah kutu, wabah katak, wabah darah, kemarau panjang sehingga Sungai Nil mengering, tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular besar sehingga memakan ular-ular kecil dari tongkat tukang sihir Fir'aun, serta tongkat Nabi Musa yang sanggup membelah Laut Merah dengan izin Allah. Tanda kekuatan, kebesaran, dan keagungan Allah belum menyadarkan Fir'aun akan kelemahan diri sebagai manusia biasa.

Lebih spektakuler lagi, Namrudz, seorang raja Babilonia yang juga mengaku Tuhan seperti Fir'aun. Klimaksnya, di puncak kekuasaannya, ia berbuat semena-mena dan melampaui batas.

Raja Namrudz menghukum Nabi Ibrahim ke dalam gundukan api yang menyala-nyala. Api yang bersifat panas seharusnya membakar tubuh Nabi Ibrahim, namun terjadi anomali fisika yang menggemparkan dunia. Api menjadi dingin dan memberi keselamatan kepada Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Tanda besar dari Allah tersebut tidak membuat Namrudz bergeming. Bahkan, semakin menguatkan superioritas ego ketuhanan.

Bahaya ego ketika ego lepas dari kendali Tuhan, menjadilah ego liar. Ego liar boleh disebut hawa nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan. Sebagaimana perkataan Nabi Yusuf tentang nafsu:

"Dan aku berlepas diri terhadap nafsuku. Sesungguhnya nafsu selalu mengajak kepada keburukan. Kecuali nafsu yang dirahmati Tuhanku, sesungguhnya Tuhanku sangat pengampun lagi penyayang (Yusuf: 53)."

Pernyataan ini lahir dari pengalaman Yusuf menghadapi dirinya (nafsu) sendiri. Di istana, gejolak nafsu ketika Yusuf hampir saja melayani kehendak Zulaikha.

Al-Qur'an mengisahkan faktanya:

"Sebenarnya Zulaikha senang kepada Yusuf, dan Yusuf senang kepada Zulaikha. Sekiranya Yusuf tidak menyaksikan peringatan Tuhannya. Demikian cara Kami mencegah Yusuf dari perbuatan keji dan mungkar. Sesungguhnya Yusuf bagian dari hamba Kami yang disucikan (Yusuf: 24)."

Orang yang merasa diri memiliki kekuatan ego untuk mengatasi hidup, untuk berpikir, berkehendak, dan kuasa untuk bertindak, mendengar, melihat, dan bicara. Sesungguhnya ego yang demikian sudah terlepas dari penjagaan Allah tanpa disadari.

Al-Qur'an menyebut mereka telah terpapar penyakit stadium empat, yaitu tuli, bisu, dan buta. Bukan telinga yang tuli, tetapi hati sudah tidak sanggup mendengar karena ditulikan oleh ego. Bukan lidah yang bisu, tetapi hati tidak mampu bicara karena dibisukan oleh ego. Bukan mata yang buta, tetapi hati tidak dapat melihat karena dibutakan oleh ego.

Akibatnya, mereka tidak bisa lagi kembali kepada kebenaran, tersesat jalan karena  memegangi prinsip ego yang luput dari perlindungan-Nya. Mereka tidak sanggup lagi berpikir karena ego tidak berkesadaran bersama Allah Swt. Tidak mampu mengetahui karena ego telah menguasai wilayah jiwa. Tidak merasa, tidak menyadari karena mereka yang memercayai dan menuruti ego pertanda telah mati rasa.

Tidak bersyukur kepada Allah saat berkelimpahan nikmat, tidak bersabar ketika didera musibah bencana, dan tidak rida terhadap ketetapan takdir baik dan buruk dari-Nya. Terapi membuang ego lalu menyerahkannya kepada Sang Pemilik ego untuk diarahkan merupakan solusi tepat. Upaya rohani pelepasan berupa memutus rantai kemelekatan yang sejak lahir telah disemai atas nama penghargaan berupa gelar juara, kehormatan, kemuliaan, dan kebaikan.

Padahal, semua nilai berharga tersebut hanya pinjaman. Sertifikat hak guna pakai, bukan sertifikat hak milik. Karena hak profesi akan ada masa pensiun, hak hidup hanya menunggu kematian.

Bisikan halus ego ingin didaulat lalu memperturutkan pujian atasnya adalah kondisi jiwa yang sangat berbahaya. Mulai dari berbuat baik sampai kepada minta diakui kebaikannya sedunia.

Mulai dari rajin ibadah hingga disebut ahli ibadah. Sejak dari membiasakan gemar sedekah sampai digelar ahli sedekah. Mulai dari belajar dan mengajar taat sampai melekat padanya sebutan ahli taat. Mulai dari mendirikan salat sampai bergelar ahli salat.

Bila sebutan ahli tersebut minta diakui untuk dipuji, maka terjebak ahli taat ke dalam batin maksiat. Sebab, ego merasa sangat puas apabila dipuji dengan sanjungan, terlebih di dalam majelis.

Dan ego sangat marah kalau diuji dengan hinaan, celaan, makian, dan hujatan. Padahal, sering pujian menjadi racun jiwa, dan kadang hinaan menjadi obat racikan hati. Sebab, sifat hinaan membuat ego waspada, tersentak, dan tercerahkan. Sedangkan sifat pujian membuat ego lalai, lengah, lupa, dan sombong.

Dalam konteks ego, Imam Ahmad Ibnu Athaillah As-Sakandari rahimahullahu 'anhu, yang bergelar guru besar ketiga dari silsilah Tarekat Syaziliyah (wafat di Mesir, 709 Hijriah), menulis dalam kitab Al-Hikam (kumpulan hikmah) berikut:

"Keadaanmu yang dahulu, tatkala engkau bergelimang dosa lalu engkau tangisi dan sesali. Pendosa berharap sedikit cahaya ampunan, kasih, sayang, penerimaan dari-Nya dengan tatapan rahmat. Sungguh, lebih Dia senangi daripada keadaanmu yang sekarang bergilang taat dalam kesombongan. Karena engkau hari ini menduga dengan taatmu sanggup meraih pahala dan meraup surga. Karena bagaimana Dia akan melimpah-ruahkan rahmat agung kepada orang yang sudah merasa sempurna dengan taat? Sungguh, tangisan penyesalan dari ahli maksiat lebih dicintai Allah daripada kesombongan ahli taat." Wallahu a'lamu bish-shawab.**

 

*Penulis adalah dosen IAIN Pontianak.

Editor : Rafael B. Junior
Egoisme kesombongan Istighfar Muhasabah Diri Doa