Dari Tanah Merah ke Industri Aluminium: Masa Depan Hilirisasi Bauksit di Kalimantan Barat

Hanif • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 10:20 WIB
Ilustrasi bauksit. (Jawa Pos)
Ilustrasi bauksit. (Jawa Pos)

Oleh: Heriyanto*

SEJARAH peradaban manusia, tidak bisa dipisahkan dari material atau bahan tambang. Sejarah itu terus berlanjut. Bahan tambang digunakan untuk berbagai peralatan manusia. Mulai dari peralatan rumah tangga, hingga teknologi paling canggih di ruang angkasa.

Dalam buku "Sapien", Yuval Noah Harari menyebutkan, ketika peradaban manusia masih berburu, manusia harus makan daging buruan di lokasi. Butuh waktu sekitar delapan jam untuk kembali ke permukiman.

Ditemukannya api dengan memukul dua batu, memangkas waktu makan manusia jadi tiga jam. Sisa daging buruan dibawa ke permukiman. Selanjutnya, diawetkan dengan dibakar. Batu juga jadi senjata pemukul, merobek daging, atau mata tombak untuk berburu.

Ketika manusia memiliki waktu lebih banyak dengan komunitasnya, lahir berbagai penemuan dan teknologi, serta bahasa yang mempermudah hidup. Bahkan, membuat mereka dapat bertahan, ketika jenis manusia lain mulai punah.

 

Tanah Merah Kalimantan

Di Kalimantan, sejarah peradaban manusia juga terus berkembang. Peradaban itu tak bisa dilepaskan dengan bahan tambang. Tanah di Kalimantan, secara geologis merupakan bagian dari benua tua yang stabil (Sundaland).

Tanah Kalimantan bagian dari cekungan rawa-rawa raksasa, sambungan dari Sabuk Granit Asia Tenggara. Tanah itu jalur magmatik dan vulkanik purba yang sudah mati jutaan tahun. Struktur batuan dasar sangat tua dan kokoh. Tanah Kalimantan menghasilkan tambang batubara, bauksit, emas dan intan.

Di Kalimantan Barat, bauksit lebih banyak ditemukan dari wilayah lain. Alasannya, batuan granit umurnya sangat tua. Batuan mengalami pelapukan tropis dan sangat intensif, selama jutaan tahun.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2020, jumlah cadangan bauksit Indonesia mencapai 1,2 miliar ton atau 4 persen dari cadangan bijih bauksit dunia, sebesar 30,39 miliar ton. Kalimantan Barat memiliki cadangan bauksit sekitar 840 juta ton. Jumlah itu setara dengan 66,77 persen dari total cadangan nasional. Bauksit di Kalbar, ditemukan Sanggau, Ketapang, Mempawah, Landak, Bengkayang, Kubu Raya dan Kayong Utara. 

Smelter dan Hilirisasi Bauksit

Banyaknya potensi bauksit di Kalbar, menjadi dasar bagi pemerintah untuk membuka jalur produksi dan distribusi, bagi industri bauksit di Kalbar. Hilirisasi dilakukan dengan mengolah bauksit (bahan mentah), jadi produk bernilai tambah dan digunakan industri lain.

Hilirisasi dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Juga meningkatkan nilai ekonomi produk pertambangan. Hilirisasi dilakukan dengan pembangunan smelter. Pemerintah memberi izin pembangunan smelter untuk mengolah bauksit menjadi produk lebih bermutu. Yaitu, alumina dan alumunium. 

Kenapa hilirisasi penting? Hilirisasi membuat bauksit memiliki nilai tambah secara ekonomi hingga 300 persen.

Berdasarkan ketentuan Kementerian ESDM, harga bauksit mentah tak dipatok dalam satu angka tunggal. Namun, harga dihitung secara dinamis menggunakan Formula Harga Patokan Mineral (HPM) Bijih Bauksit.

Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 144.K/MB.01/MEM.B/2026, secara umum di pasar domestik, nilai bijih bauksit mentah sekitar USD 32 hingga USD 40 per ton. Ketika bauksit diolah jadi alumina, harga berkisar antara USD 350 hingga USD 400 per ton.

Bila alumina diolah jadi aluminium, harga pada kisaran US$ 3.138,53 per DMT (Dry Metric Ton). Harga pasar global aluminium sekitar US$ 3.283,10 per ton (per September 2026).

Karenanya, hilirisasi bauksit jadi syarat mutlak, bila ingin ada nilai tambah. Tak heran bila pemerintah memberikan jalan bagi pembangunan smelter. Di Kendawangan, Ketapang, misalnya, sudah beroperasi satu smelter milik PT WHW. Di Tayan, Sanggau, sudah beroperasi PT CMI (Antam). Di Mempawah, PT BAI (Inalum/Antam), juga sudah beroperasi.

Namun, tak semua pembangunan smelter berujung manis. Di Ketapang, misalnya, terdapat dua pembangunan smelter yang belum selesai hingga sekarang. Misalnya, PT SBM dan PT LM. Bahkan, PT LM dianggap tak bakal selesai alias mangkrak.

Di Sanggau, terdapat tiga pembangunan smelter. Yaitu, PT DSM, PT KBK, dan PT PPM. Dari tiga pembangunan smelter, PT DSM statusnya mangkrak. PT PPM belum selesai. Dan, PT KBP izinnya dicabut. Di Pontianak, terdapat satu smelter, PT QSS yang hingga kini belum selesai status pembangunannya.   

ESDM menyebut, mangkraknya pembangunan smelter, terkait masalah pendanaan atau investor. Juga kemajuan proses pembangunan yang dinilai rendah.

 

Penebang dan KIPP 

Pembangunan smelter di Pulau Penebang, Kayong Utara itu termasuk sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). PSN merupakan proyek infrastruktur atau program prioritas yang ditetapkan oleh pemerintah. Tujuannya, mempercepat pembangunan nasional, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan memeratakan kesejahteraan masyarakat.

PT DIB jadi pengelola percepatan dan pembangunan smelter di wilayah Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP). Perusahaan yang sudah punya pengalaman di bisnis pertambangan. Pembangunan smelter dimulai awal 2025. Target pembangunan selesai pada 2027. Tahun 2028, ditargetkan dapat beroperasi secara penuh.

Kehadiran smelter di Kayong Utara, tentu jadi angin segar bagi industri bauksit dan pengolahan alumina, serta alumunium. Sebab, Kayong Utara juga wilayah yang memiliki potensi bauksit.

Kayong Utara bisa jadi kawasan penyangga, dalam rantai pasok industri hilirisasi bauksit di Kalbar, bahkan tingkat nasional. Mengingat, banyak pembangunan smelter di Kalbar, mengalami stagnasi atau mandeg. Bahkan, mangkrak atau izin dicabut.   

 

Negeri Betuah Kayong Utara

Wilayah Kabupaten Kayong Utara, sejak dulu terhubung dengan dinamika dan sejarah Nusantara. Wilayah sangat strategis. Kondisi itu menjadikan Kayong Utara, wilayah perlintasan jalur perdagangan dunia. Yaitu, jalur perdagangan dari Arab dan Persia menuju China, dan sebaliknya. Bahkan, Kayong Utara merupakan wilayah persinggahan, ketika pasukan Kubilai Khan dari Mongol, menghukum Raja Jawa, Singasari di Kediri.

Jalur pelayaran dan perdagangan tradisional sudah terbentuk selama ratusan tahun. Hal itu tentu sangat menguntungkan wilayah Kayong Utara, secara ekonomi, pertahanan dan geopolitik kawasan.

Kehadiran proyek PSN dan KIPP, diharapkan tak hanya memenuhi kebutuhan pengolahan bauksit jadi alumina dan alumunium. Tapi, juga dapat dirasakan kehadirannya oleh masyarakat, menumbuhkan ekonomi dan kesejahteraan warga di pesisir wilayah Kalimantan Barat bagian barat tersebut. 

Saat ini, per Agustus 2026 proyek KIPP telah menyerap sekitar 3.030 tenaga kerja lokal asal Kalimantan Barat. Dari jumlah tersebut, hampir 2.000 orang di antaranya berasal dari Kayong Utara.

Kebutuhan tenaga kerja tersebut, tentu harus selaras dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM). Meningkat SDM masyarakat, tentu bukan proyek sekali jadi. Semua pihak harus bekerja sama. Harus ada program pemerintah dan swasta, yang selaras dan saling melengkapi. Begitu pun peran kampus dan akademisi.

Harus ada cetak biru peningkatan SDM di Kayong Utara, untuk memberikan pelatihan, peningkatan kualitas dan keahlian bagi para calon tenaga kerja. Hal ini bisa dicapai, bila pemerintah, akademisi, lembaga pendidikan, kampus atau lembaga vokasi, saling bekerja sama untuk mempersiapkan SDM tersebut. 

Kebutuhan logistik di KIPP sangat tinggi. Memenuhi kebutuhan makanan dan minuman karyawan di KIPP, tentu bukan hal mudah. Perlu strategi khusus dalam pengelolaannya. Katakanlah, berapa harus disediakan beras setiap bulannya. Sayuran, minyak, telur, ikan, dan lainnya. Rantai pasok itu, harus dijaga agar produktivitas karyawan, terus berlangsung dan produktif.

Jalan paling rasional, tentu mendatangkan bahan makanan dan kebutuhan tersebut, dari wilayah terdekat dengan lokasi KIPP. Sebab, semakin dekat, biaya transportasi semakin murah. Semakin dekat, produk bahan makanan, terutama sayuran bisa terus terjaga kualitasnya.

Pemenuhan bahan kebutuhan pokok tersebut, bisa dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat lokal. Harus ada transfer teknologi pertanian. Warga lokal harus diberi pelatihan cara bercocok tanam yang baik. Menanam sayuran supaya bisa hasilkan produk berkualitas. Juga melibatkan warga untuk memahami dan menguasai rantai pasok produksi. Supaya warga tak dieksploitasi, atau terjebak para rentenir.  

Dari sisi transportasi, tentu kehadiran KIPP membawa potensi cukup besar. Terutama dari sisi angkutan, menuju wilayah KIPP. Harus ada kapal penyeberangan yang aman, murah dan terjangkau.  Pemerintah Kayong Utara wajib memberikan fasilitas publik yang baik. Misalnya, tersedianya steiher dan terminal penyeberangan yang baik. Juga regulasi yang baik untuk moda transportasi darat atau laut, bagi para pekerja di KIPP.  Artinya, semua potensi pemenuhan kebutuhan tersebut, bisa dilakukan dengan memberdayakan warga sekitar lokasi KIPP. Tujuannya, selain mendatangkan keuntungan warga lokal, juga keberlangsungan bisnis smelter itu sendiri.

Warga punya rasa memiliki, sehingga mereka juga turut menjaga keberlangsungan KIPP. Ketika KIPP dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan, bisnis warga dapat terus berlanjut. Simbiosis mutualisma ini harus dipahami dan disadari, sebagai satu kebutuhan bersama. Sehingga keberadaan smelter dan KIPP, dapat menumbuhkan peningkatan ekonomi warga di Kayong Utara. Juga keberlangsungan hilirisasi bauksit di Kalimantan Barat. **

 

*Penulis adalah mahasiswa Program Doktoral di Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS).

Editor : Hanif
bauksit kalbar Smelter KIPP Hilirisasi Bauksit kayong utara kalimantan barat