Kabut Asap Karhutla Bikin Kulit Gatal dan Kering? Kenali Dampaknya dan Cara Melindungi Skin Barrier

Miftahul Khair • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 13:03 WIB
Ilustrasi cara menjaga skin barrier di tengah paparan kabut asap karhutla. (ILUSTRASI AI).
Ilustrasi cara menjaga skin barrier di tengah paparan kabut asap karhutla. (ILUSTRASI AI).

Oleh: dr. Verika Christabela Tansuri

Setiap musim kemarau, warga Pontianak dan sebagian besar Kalimantan Barat kembali akrab dengan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Selama ini perhatian kita lebih banyak tertuju pada sesak napas, batuk, dan mata perih. Padahal organ terluas yang paling langsung bersentuhan dengan asap adalah kulit.

Bagi sebagian orang, periode dengan kualitas udara yang buruk dapat disertai keluhan kulit seperti kering, gatal, kemerahan, atau terasa lebih sensitif. Keluhan tersebut dapat semakin mengganggu pada orang yang memang memiliki kulit sensitif atau penyakit kulit tertentu, seperti dermatitis atau eksim.

Mengapa asap dapat memengaruhi kulit?

Asap karhutla, terutama dari lahan gambut, mengandung berbagai polutan, termasuk particulate matter PM2.5, hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), senyawa organik mudah menguap, karbon monoksida, dan berbagai gas iritan. Ukuran partikel PM2.5 kurang dari 2,5 mikrometer. Karena itu partikel ini mudah menempel di permukaan kulit dan dapat masuk ke pori-pori serta folikel rambut.

Baca Juga: Bahaya Cuci Muka Pakai Air Hangat! Ini Dampaknya bagi Kesehatan Kulit Wajah

Bagaimana Asap Merusak Skin Barrier?

Kulit memang memiliki sistem pertahanan alami yang disebut skin barrier. Lapisan terluar kulit, yaitu stratum korneum, bekerja seperti dinding bata. Sel-sel kulit adalah batanya, sedangkan lemak alami seperti seramid, kolesterol, dan asam lemak berperan sebagai semennya. Skin barrier ini berfungsi untuk menjaga kelembapan kulit sekaligus menahan zat asing dari lingkungan.

Paparan polusi dapat meningkatkan stres oksidatif dan peradangan pada kulit. Kondisi ini dapat membuat “semen” tersebut rapuh sehingga fungsi skin barrier terganggu. Kulit akan lebih mudah kehilangan air, terasa kering, kasar, bersisik, gatal, bahkan perih. Dalam jangka panjang, paparan polusi juga dikaitkan dengan munculnya flek hitam dan penuaan kulit dini.

Siapa yang Paling Rentan?

Pada dasarnya, siapa pun dapat mengalami iritasi akibat paparan asap. Namun, perhatian lebih perlu diberikan kepada anak-anak, lansia, orang dengan kulit sensitif, serta mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Orang yang sudah memiliki dermatitis atau eksim juga perlu lebih memperhatikan kondisi kulitnya, karena lingkungan yang mengiritasi dapat memicu kekambuhan.

Meski begitu, asap bukanlah satu-satunya penyebab dermatitis. Penyakit kulit dermatitis dipengaruhi banyak faktor, termasuk kondisi skin barrier, sistem imun, genetik, dan pemicu lain dari lingkungan.

Baca Juga: Manfaat Buah Alpukat Bagi Kesehatan, Salah Satunya Bisa Melembabkan Kulit!

Cara Menjaga Skin Barrier Selama Musim Asap

1.      Kurangi paparan. Pantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Saat kategorinya tidak sehat, batasi aktivitas di luar dan tutup jendela. Bila harus keluar, kenakan masker N95/KN95, baju lengan panjang, dan topi.

2.      Bersihkan kulit secara lembut. Setelah beraktivitas dari luar, cuci muka dan mandi dengan air bersuhu biasa, bukan air panas. Gunakan sabun yang lembut dan bebas pewangi. Hindari menggosok kulit terlalu kuat karena gesekan dapat semakin merusak skin barrier.

3.      Gunakan pelembap. Oleskan pelembap segera setelah mengeringkan tubuh, saat kulit masih sedikit lembap. Pilih produk yang mengandung seramid, gliserin, asam hialuronat, atau petrolatum untuk membantu memperbaiki skin barrier. Ulangi minimal dua kali sehari atau setiap kali kulit terasa kering.

4.      Tetap gunakan tabir surya. Langit berkabut tidak berarti bebas sinar ultraviolet. Jika tetap beraktivitas di luar, gunakan tabir surya broad-spectrum dengan SPF yang sesuai. Paparan sinar UV berulang tidak hanya membuat kulit lebih gelap, tetapi juga berperan dalam penuaan dini dan flek.

5.      Hindari produk yang mengiritasi. Saat kulit sedang perih atau sensitif, tunda dulu penggunaan scrub, produk eksfoliasi, dan produk aktif yang keras. Terlalu banyak produk justru dapat memperburuk iritasi.

Baca Juga: Manfaat Buah Naga untuk Kesehatan Kulit jadi Cerah Alami, Berikut Penjelasan Ahli

6.      Jangan digaruk. Garukan dapat merusak lapisan pelindung kulit dan membuka jalan bagi infeksi. Kompres dingin dapat membantu meredakan gatal.

Kapan Harus ke Dokter?

Keluhan kulit ringan umumnya dapat membaik setelah paparan asap dikurangi dan kulit dirawat dengan baik. Namun, periksakan diri ke dokter bila gatal sangat mengganggu, muncul ruam atau pembengkakan yang meluas, terdapat luka akibat garukan atau tanda infeksi seperti kulit bernanah, maupun keluhan tidak membaik setelah satu hingga dua minggu.

Hindari penggunaan salep kortikosteroid tanpa anjuran dokter karena pemakaian yang tidak tepat dapat memperburuk atau menimbulkan masalah kulit lainnya.

Kabut asap karhutla bukan hanya persoalan saluran pernapasan, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan kulit, terutama pada mereka yang memiliki kulit sensitif atau penyakit kulit sebelumnya.

Saat kualitas udara memburuk, melindungi kulit tidak harus dilakukan dengan rutinitas yang rumit. Mengurangi paparan asap, membersihkan kulit dengan lembut, menjaga kelembapan, serta tetap melindungi diri dari sinar UV merupakan langkah sederhana yang dapat membantu mempertahankan skin barrier.

Editor : Miftahul Khair
skin barrier cara melindungi kesehatan kulit karhutla kabut asap