Oleh: Markus*
SETIAP kali kemarau panjang, warga Pontianak berhadapan dengan persoalan yang tidak lagi dianggap biasa, yaitu air berubah menjadi asin. Persoalan air asin menjadi seperti agenda tahunan ketika terjadi kemarau panjang. Air asin masih menjadi keluhan serius bagi masyarakat di sejumlah wilayah Pontianak. Hingga saat ini, solusi yang benar-benar efektif dan merata belum sepenuhnya tersedia.
Air yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci, memasak, dan minum, menjadi tidak layak atau terbatas penggunaannya karena kandungan garam yang tinggi. Dampak air asin juga berpengaruh pada kehidupan masyarakat, kesehatan tubuh, maupun kerusakan pada peralatan rumah tangga dan kendaraan. Kandungan garam dapat mempercepat proses karat pada besi, baja, serta bagian logam lainnya. Peralatan seperti pompa air, pipa, mesin cuci, keran, alat masak, dan perangkat elektronik serta kendaraan berisiko lebih cepat rusak apabila sering terkena air asin.
Selain merusak peralatan rumah tangga dan kendaraan, air asin juga dapat berdampak pada kesehatan. Penelitian William Mueller dan kolega, “Saltwater Intrusion and Human Health Risks for Coastal Populations Under 2050 Climate Scenarios” (2024), menunjukkan bahwa salinisasi sumber air minum dapat meningkatkan risiko kesehatan, termasuk terhadap sistem kardiovaskular dan ginjal. Garam dapat membuat tubuh dehidrasi. Jadi, semakin banyak air garam yang diminum, semakin banyak cairan tubuh yang hilang. Menurut National Ocean Service, ginjal hanya dapat memproses air yang mengandung sedikit garam.
Bila minum air laut atau air asin, ginjal akan membuang lebih banyak cairan daripada yang bisa diserap oleh tubuh. Ketika minum air asin, air yang sudah ada di tubuh akan dialihkan untuk membantu tubuh mencairkan kelebihan garam. Itulah sebabnya setelah minum air asin justru akan merasa semakin haus.
Meminum air asin akan membuat seseorang lebih sering buang air kecil karena tubuh berusaha menyingkirkan kelebihan garam. Meminum air garam berlebih dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal. Ginjal menyaring kelebihan bahan kimia dari darah. Bahaya minum air asin karena dapat meningkatkan jumlah garam pada ginjal yang menyaring darah. Karena itu, ginjal harus membuang garam dengan bantuan air dalam jumlah besar. Air dan garam kemudian disaring dan dibuang melalui urine.
Tingginya garam yang dikonsumsi dapat menyebabkan kelebihan kalsium dalam ginjal sehingga memungkinkan terbentuknya batu ginjal. Bahkan, bila konsumsi air laut dalam waktu yang lama, kelebihan air akan membanjiri ginjal dan merusaknya. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi serius dan bahkan kematian.
Mengonsumsi garam atau natrium yang berlebihan dapat memicu kenaikan tekanan darah. Tekanan darah tinggi adalah faktor risiko sejumlah penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung dan stroke. Dengan kekurangan cairan dan pengeluaran urine berlebih, masalah dehidrasi yang dialami akan semakin memburuk.
Persoalan air bersih seharusnya menjadi perhatian penting dan mendesak untuk diatasi oleh pemerintah. Oleh karena itu, perlu ada inovasi atau terobosan baru yang dilakukan pemerintah maupun pihak terkait agar persoalan ini tidak terjadi lagi pada masa mendatang.
Pemerintah Perlu Membuat Terobosan dan Solusi Mengatasi Krisis Air Bersih
Krisis air bersih merupakan masalah yang harus segera ditangani secara serius. Air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan menjaga kesehatan. Ketika akses air bersih terbatas, kehidupan sehari-hari masyarakat terganggu dan risiko penyakit meningkat.
Pemerintah Kota Pontianak dalam situs web resminya menyampaikan bahwa pemerintah sudah berupaya mengatasi persoalan air asin atau krisis air bersih. Upaya yang dilakukan ialah PDAM menambah titik air tawar gratis bagi masyarakat.
Namun, solusi ini hanya meringankan masalah karena untuk mandi dan mencuci masih menggunakan air asin. Selain itu, masalah krisis air bersih belum teratasi secara tuntas sehingga akan menjadi persoalan kembali ketika terjadi kemarau panjang.
Pemerintah perlu membuat terobosan yang nyata, tidak hanya berupa bantuan sementara. Dalam buku berjudul Menghalau Air Asin (Solusi Fisik untuk Pesisir Berkelanjutan) karya Dr. Ir. Nurnawaty, S.T., M.T. dan Dr. Ir. Abd. Rakhim Nanda, S.T., M.T., IPU, terdapat beberapa solusi dengan pendekatan teknis yang menekankan pada solusi fisik, mulai dari konsep dasar hidrogeologi pesisir, teknologi recharge buatan, pembangunan barrier fisik, sistem drainase, hingga teknologi pemodelan dan monitoring.
Krisis air bersih memang merupakan persoalan yang tidak mudah untuk diatasi. Persoalan air asin atau kurangnya air bersih di Kota Pontianak biasanya disebabkan kondisi alam, keterbatasan sumber air, dan perubahan cuaca yang dapat menjadi penyebab masalah ini terus terjadi.
Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa penyelesaian krisis air bersih membutuhkan proses, anggaran, dan kerja sama dari berbagai pihak. Semoga Pemerintah Kota Pontianak serta pihak-pihak terkait bisa menemukan inovasi dan terobosan baru untuk mengatasi krisis air bersih di kota besar ini agar persoalan air asin tidak terjadi terus-menerus dan berulang-ulang setiap terjadi kemarau panjang.**
*Penulis adalah mahasiswa STT Pastor Bonus.
Editor : Hanif