Memelihara Semangat Belajar di Tengah Kepungan Asap

Hanif PP • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 11:21 WIB
Y Priyono Pasti.
Y Priyono Pasti.

Oleh: Y Priyono Pasti*

KABUT pekat yang menggelayuti langit bukan sekadar penghalang pandangan, melainkan ancaman nyata bagi masa depan generasi bangsa. Ketika asap akibat kebakaran hutan dan lahan kembali mengepung permukiman, ruang gerak kita seketika lumpuh. Udara bersih yang menjadi hak dasar setiap manusia berubah menjadi barang mewah yang harus dibayar mahal dengan kesehatan. Di tengah situasi yang menyesakkan dada ini, sektor pendidikan menjadi salah satu korban yang paling terdampak, memaksa sekolah-sekolah ditutup dan memaksa anak-anak kembali belajar dari balik dinding rumah.

Namun, di balik jendela yang tertutup rapat demi menghalau racun udara, ada satu hal yang tidak boleh ikut padam, yakni semangat untuk menuntut ilmu. Memelihara nyala api belajar di tengah kepungan asap memang bukan perkara mudah, melainkan sebuah ujian ketangguhan mental yang luar biasa. Kita tidak boleh membiarkan pekatnya jerebu mengaburkan visi masa depan anak-anak kita. Justru di masa-masa sulit seperti inilah, esensi sejati dari pendidikan sebagai media perjuangan dan adaptasi sedang diuji secara nyata.

Banyak yang berargumen bahwa kesehatan adalah prioritas utama, dan hal tersebut sama sekali tidak salah. Mengurangi aktivitas di luar ruangan dan meliburkan sekolah tatap muka adalah langkah mutlak demi melindungi paru-paru generasi muda. Namun, menghentikan proses pembelajaran sama sekali adalah sebuah kekeliruan fatal yang dampaknya bisa berlangsung jangka panjang.

Kehilangan masa belajar atau yang dikenal dengan istilah ‘learning loss’ yang berkepanjangan akan menciptakan kesenjangan pengetahuan yang sulit dikejar di masa mendatang. Oleh karena itu, tantangan kita sekarang adalah bagaimana mengalihkan ruang belajar tanpa menurunkan kualitas dan motivasi belajar itu sendiri.

Menjaga konsistensi belajar di dalam rumah yang kualitas udaranya belum tentu terjamin tentu membutuhkan daya juang yang lebih tinggi dari biasanya. Rasa bosan, keterbatasan interaksi, hingga gangguan kesehatan fisik seperti mata perih dan ISPA menjadi kerikil tajam yang siap menghentikan langkah. Di sinilah pentingnya menanamkan pola pikir bahwa belajar bukan sekadar kewajiban formalitas di ruang kelas. Belajar adalah proses seumur hidup yang tidak boleh didikte oleh kondisi cuaca. Kita harus membakar semangat dalam diri bahwa setiap baris kalimat yang dibaca hari ini adalah modal untuk membangun benteng yang lebih kuat di masa depan.

Peran orang tua menjadi jangkar utama dalam menjaga stabilitas emosional dan motivasi anak selama masa krisis ini. Ketika guru tidak dapat mendampingi secara langsung, orang tualah yang berdiri di garis depan sebagai fasilitator sekaligus motivator. Menciptakan suasana rumah yang kondusif, memastikan sirkulasi udara bersih buatan terjaga, serta memberikan pendampingan psikologis adalah bentuk investasi nyata. Kehadiran orang tua yang suportif akan memberikan rasa aman, sehingga anak tetap merasa memiliki tujuan yang jelas meskipun dunia di luar rumah mereka sedang abu-abu.

Di sisi lain, pemanfaatan teknologi digital harus dioptimalkan secara bijak sebagai jembatan ilmu yang menembus pekatnya jerebu. Modul pembelajaran daring, perpustakaan digital, dan ruang diskusi virtual harus dimanfaatkan bukan sebagai beban tambahan, melainkan sebagai peluang tanpa batas. Melalui gawai yang ada di tangan, anak-anak dapat menjelajahi dunia yang luas tanpa harus terpapar udara beracun di luar sana. Teknologi menjadi sayap yang membawa mereka terbang melewati batas kabut asap yang mengurung fisik mereka.

Selain itu, situasi krisis ini sebenarnya dapat dikonversi menjadi laboratorium kehidupan yang sangat berharga bagi para pelajar. Alih-alih hanya meratapi nasib karena terkurung di dalam rumah, siswa dapat diajak untuk mempelajari akar masalah dari bencana yang sedang mereka alami.

Mengapa kebakaran ini terus berulang? Bagaimana dampaknya terhadap ekosistem pendidikan? Apa solusi ilmiah yang bisa ditawarkan? Melalui pendekatan ini, semangat belajar tidak akan pudar karena materi yang dipelajari terasa sangat relevan dan kontekstual dengan realitas hidup mereka.

Kita juga harus menyadari bahwa memelihara semangat belajar di tengah kepungan asap adalah sebuah bentuk perlawanan moral. Dengan tetap belajar, kita sedang mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa masa depan generasi ini tidak bisa dihanguskan oleh keserakahan pihak-pihak yang membakar lahan. Setiap lembar halaman buku yang dibalik oleh seorang anak di tengah pekatnya asap adalah simbol keteguhan hati yang menolak untuk menyerah pada keadaan. Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah keadaan, termasuk untuk mencegah bencana lingkungan ini terjadi lagi di masa depan.

Kolaborasi yang solid antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat juga memegang kunci penting dalam menjaga nyala lentera ilmu ini. Pemerintah harus memastikan infrastruktur pembelajaran jarak jauh tetap dapat diakses dengan mudah dan murah oleh seluruh lapisan masyarakat. Sekolah perlu menerapkan kurikulum yang fleksibel dan tidak membebani siswa secara berlebihan secara psikologis. Sementara itu, komunitas lokal dapat saling bahu-membahu menyediakan ruang-ruang baca mandiri yang aman dari paparan asap bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan fasilitas di rumahnya.

Pada akhirnya, mari kita renungkan bersama bahwa kabut asap ini bersifat sementara, namun masa depan anak-anak kita bersifat selamanya. Asap lambat laun akan tertiup angin atau padam oleh guyuran hujan, tetapi waktu belajar yang hilang tidak akan pernah bisa diputar kembali. Jangan biarkan jerebu mencuri mimpi-mimpi besar yang telah dirajut. Jadikan setiap tarikan napas di tengah keterbatasan ini sebagai pengingat tekad bahwa kita harus menjadi lebih pintar, lebih bijaksana, dan lebih tangguh agar mampu menciptakan bumi yang lebih baik dan bebas asap kelak.

Oleh karena itu, kepada seluruh pelajar, pendidik, dan orang tua, mari kita rapatkan barisan dan bulatkan tekad. Jangan biarkan semangat belajar itu redup, apalagi padam di bawah bayang-bayang langit yang kelabu. Teruslah membaca, teruslah menulis, dan teruslah mengasah pikiran dengan ilmu pengetahuan. Mari kita buktikan bahwa kecerdasan dan keteguhan jiwa manusia selalu jauh lebih kuat dan lebih abadi daripada pekatnya asap yang mencoba mengurung kita.**

 

*Penulis adalah alumnus USD Yogya; guru di SMP/SMA St. F. Asisi Pontianak.

Editor : Rafael B. Junior
pembelajaran dari rumah Pendidikan Kalbar Anak dan Pendidikan karhutla kabut asap