Oleh Nuriskandar
Lolos sebagai pemuda tani pelopor tingkat Provinsi Kalimantan Barat, alumni Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura yang beternak ayam bukan ras hingga ratusan jumlahnya sekaligus menggerakkan Kelompencapir Cahaya Baru Sungai Raya mendapat ucapan selamat dari Gubernur Mayjen TNI H Aspar Aswin.
Selain mendapatkan sertifikat dan plakat, rupanya dapat hadiah studi tour ke negeri Jiran yang maju pertaniannya. Apalagi kalau bukan Thailand. Dan rupanya KB-1 yang pernah menjabat Wagub Bali ini juga ikut ke Bangkok.
Di tahun 2001 alumni Fakultas Pertanian Untan itu sudah bergabung di Jawa Pos Media Group. Ia bertani, namun juga jurnalis. Maksudnya "tempo doeloe" adalah menekuni kuliah pertanian sambil mengasah hobi jurnalistika. Namun dalam perkembangannya menjadi profesional jurnalis dengan hobi pertanian. Kebulak. Eh kebalik. Mang dunia kerap jungkar-jangkir alias bolak-balik. Macam setrikaan. Atau arus AC-DC. Hehehe. Gak soal. Terpenting ilmu. Pengetahuan. Keterampilan.
Nah. Saat kami inap di hotel Kota Bangkok dari layar televisi saya mengetahui bahwa agenda Presiden RI, kala itu baru--bungas--terpilih Megawati Soekarno Putri--juga berada di Bangkok. Ia tour keliling Asean seusai upacara 17-an Agustus. Ia diterima PM Thaksin Sinavatra dan keesokan paginya akan diskusi bersama warga Indonesia Kota Bangkok di Kedutaan Besar RI.
Walaupun saat itu belum ada Google Maps dengan insting wartawan saya bertanya dimana alamat Kedubes RI. Dan? Dapat! Walaupun orang Thailand tak mudah berbahasa Inggris. Paham. Tapi celat...
Walhal, Kedubes hanya beberapa blok dari hotel. Tak pelak saya pun gontai berjalan kaki dengan menenteng tas bermerek Jawa Pos. Warna biru. Hadiah dari CEO Dahlan Iskan saat rapat evaluasi para Redpel di Gedung Graha Pena Surabaya.
Dengan menenteng tas Jawa Pos itu saya dengan mudah masuk Kedubes. "Mas wartawan Jawa Pos ya?" Tanya security di gerbang utama. Saya jawab iya. Sebab memang iya. Saya kerja di Harian Equator. Equator anak Pontianak Post. Pontianak Post anaknya Jawa Pos. So jujurly...dan dapat kartu ID. Disilahkan masuk, bahkan didampingi atase pers yang berasal dari Surabaya. So dia familiar betul dengan Jawa Pos.
Di ruang pertemuan sudah penuh WNI. Mereka senang akan berdialog dengan RI-1. Saya pun sumringah. Satu di antara mereka.
Bu Mega tampil tak seperti yang saya kenal. Bahwa dia irit bicara. Tidak. Ternyata pidatonya mengalir hebat. Begitupula tanya jawab. Saya pun meliput dengan baik. Mengirim artikel yang jadi headline di koran tempat saya bekerja: Harian Equator. Sisi lain tentang pikiran dan tindakan Megawati yang orang tak tahu sebelumnya.
***
Saat ratusan WNI menikmati kudapan, saya lihat satu anggota delegasi yang harus saya buru. Siapa dia? Dia adalah bungsu dari Sang Proklamator. Si pekerja seni yang kerap membanggakan RI dengan karya tari, bahkan lagu. Siapa lagi kalau bukan Guruh Sukarno Putra.
Saya dekati, ia tidak menolak. Saya wawancarai, ia layani. Bahkan saya minta foto, dia pun suka.
Sebuah kenangan indah bersama Guruh dan Kakaknya Megawati di Kedubes Bangkok. Aksi di sela tugas studi pertanian lanjutan dari Kalimantan.
Saya tertegun hari ini mendengar kabar bahwa Guruh menghembuskan napas terakhirnya (73th) dini hari tadi lewat pertemanan sosial Asosiasi Tradisi Lisan yang disampaikan langsung oleh Bunda Tradisi Lisan Indonesia, Prof Dr Pudentia MPSS.
Innalillahi wainna ilaihi roji'un.
Saya langsung terkenang lagu besutannya yang amat jreng di kalangan remaja - pemuda berjudul Kala Cinta Menggoda. Lagu tenar bin populer aransemen Erwin Gutawa dan dinyanyikan si suara emas Chrisye.
Lagu ini diaransemen ulang oleh Band Noah 2021, tetap juga tampil sebagai jawara...
Berikut sepotong larik puitis karya Guruh yang menggondol AMI: Anugerah Musik Indonesia era 1997.
...
Memang serba salah rasanya tertusuk panah cinta
Apalagi aku juga tahu dia ada pemiliknya
Tapi aku tak mampu membohongi hati nurani...
Ku tak mampu menghindar gejolak cinta ini...
Maka maafkan jika aku mencintaimu...
Atau biarkan ku mengharap kau sayang padaku...
Maka maafkan jika aku mencintaimu...
Atau biarkan ku mengharap kau sayang padaku...
...
Lagu yang trengginas di dada sampai kini. Tembang lawas yang bernas lantaran alamiahnya bisa terjadi. Salah sebuah puncak karya Almarhum Guruh Sukarno Putra, bungsu mendiang Presiden Soekarno yang penuh cita karya dan citarasa tinggi.
Guruh sosok inspirasi. Bahwa anak Presiden bisa berbagi suatu arti. Sisi sisi manusiawi.
Ia bukan sekedar anak Presiden, tapi juga kreator seni. Bahkan dua periode pula duduk di Senayan sebagai politisi. Anggota DPR RI.
Saat kami jumpa di Bangkok kapasitasnya selaku wakil rakyat. Ia mudah diwawancarai. Sigap menjawab pertanyaan wartawan.
Wawancara di ruang makan Kedubes Bangkok saat itu jadi kenangan emas saya. Sekali itu berjabat tangan...bahwa kita pernah diketemukan Tuhan.
Mas Guruh, selamat jalan...Alfatihah. Washallu 'Alan Nabi. Karya karya seni Mas Guruh jadi kenangan.
* Penulis adalah jurnalis yang pernah bekerja di bawah grup Jawa Pos, kini bergiat di bidang seni, budaya, agama dan literasi.
Editor : Salman Busrah