Oleh: Reynata Casdinapasha*
ADA satu pertanyaan yang layak diajukan ketika melihat suasana perkuliahan hari ini: mengapa sebagian mahasiswa mulai kehilangan ketertarikan untuk belajar? Di ruang kelas, mahasiswa yang menatap layar laptop tanpa benar-benar menyimak, sibuk dengan telepon genggam, atau sekadar menunggu dosen mengakhiri perkuliahan bukan lagi pemandangan yang sulit ditemukan. Ketika kondisi tersebut terjadi, jawaban yang paling mudah biasanya adalah: mahasiswanya malas. Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu.
Minat belajar bukan sekadar rasa suka terhadap suatu mata kuliah. Minat berkaitan dengan perhatian, rasa ingin tahu, kemauan untuk terlibat, serta kesediaan memberikan waktu dan usaha untuk memahami sesuatu. Mahasiswa yang tertarik pada pembelajaran cenderung tidak hanya menerima informasi, tetapi juga bertanya, berdiskusi, mencari sumber tambahan, dan berusaha memahami materi secara lebih mendalam. Minat memiliki peran penting dalam membangun perhatian dan keterlibatan mahasiswa dalam proses pendidikan (Harackiewicz et al., 2016).
Persoalannya, minat belajar sering dianggap sebagai tanggung jawab mahasiswa semata. Ketika mahasiswa tidak aktif, mahasiswa yang disalahkan. Ketika mahasiswa tidak memahami materi, mahasiswa dianggap kurang belajar. Ketika kelas terasa membosankan, mahasiswa diminta untuk lebih termotivasi. Cara pandang seperti ini perlu dipertanyakan. Proses pembelajaran juga dipengaruhi oleh lingkungan belajar, metode pengajaran, hubungan dosen dan mahasiswa, fasilitas, teknologi, serta kondisi psikologis mahasiswa.
Jangan Terlalu Cepat Menyebut Mahasiswa Malas
Menyebut mahasiswa malas memang jauh lebih mudah daripada mencari tahu mengapa mereka kehilangan ketertarikan untuk belajar. Mahasiswa yang tidak bertanya belum tentu tidak memahami materi. Mahasiswa yang diam belum tentu tidak memiliki pendapat. Mahasiswa yang sesekali melihat telepon genggam juga belum tentu tidak peduli terhadap perkuliahan. Perilaku yang terlihat dari luar tidak selalu menggambarkan keseluruhan kondisi belajar seseorang.
Minat belajar dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berasal dari dalam maupun luar diri mahasiswa. Motivasi, keyakinan terhadap kemampuan diri, kondisi emosional, ketahanan menghadapi kesulitan, dan rasa nyaman ketika belajar dapat menentukan seberapa jauh mahasiswa bersedia terlibat. Lingkungan pembelajaran juga memiliki pengaruh melalui metode pengajaran, hubungan dengan dosen, fasilitas, sumber belajar, dan teknologi. Faktor internal dan eksternal berkaitan dengan pengalaman belajar serta hasil pendidikan mahasiswa (Burke et al., 2024).
Artinya, ketika minat belajar menurun, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya: Mengapa mahasiswa tidak mau belajar? Pertanyaan lain yang tidak kalah penting, “Bagaimana pengalaman belajar yang sedang mereka jalani?”
Pertanyaan tersebut membuka ruang untuk melihat masalah secara lebih adil. Mahasiswa memang memiliki tanggung jawab terhadap proses belajarnya. Mereka harus memiliki kemauan untuk membaca, bertanya, berlatih, mengatur waktu, dan menyelesaikan tugas. Namun, mahasiswa juga membutuhkan lingkungan yang dapat membantu mereka mempertahankan perhatian dan keterlibatan. Menuntut mahasiswa agar selalu termotivasi tanpa memperhatikan pengalaman belajar yang mereka jalani sama saja dengan melihat persoalan hanya dari satu sisi.
Kuliah Tidak Boleh Berhenti pada Dosen yang Bicara
Bayangkan seorang mahasiswa duduk selama dua jam mendengarkan penjelasan yang panjang. Setelah itu, ia diberi tugas, diminta membaca beberapa halaman, lalu mengikuti ujian. Jika pola tersebut terus berulang, tidak mengherankan jika sebagian mahasiswa akhirnya menganggap kuliah sebagai rutinitas yang harus diselesaikan, bukan pengalaman yang ingin dijalani.
Masalahnya bukan pada aktivitas mendengarkan. Penjelasan dosen tetap diperlukan. Persoalan muncul ketika penjelasan menjadi satu-satunya bentuk pembelajaran. Mahasiswa akhirnya hanya berada pada posisi sebagai penerima informasi, sementara kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, memecahkan masalah, melakukan praktik, dan menghubungkan teori dengan kenyataan menjadi terbatas.
Padahal, mahasiswa yang memiliki minat cenderung ingin mengetahui lebih jauh. Mereka tidak hanya ingin mengetahui “apa”, tetapi juga “mengapa” dan “bagaimana”. Karena itu, ruang kuliah seharusnya memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengemukakan pertanyaan, menyampaikan pendapat, menghadapi persoalan nyata, dan mencoba menemukan jawaban.
Pembelajaran yang melibatkan mahasiswa secara langsung dapat menjadi salah satu cara untuk membangun keterlibatan tersebut. Aktivitas praktis, misalnya, dapat memberikan pengalaman belajar yang berbeda karena mahasiswa tidak hanya menerima informasi, tetapi ikut melakukan sesuatu dalam proses pembelajaran. Pentingnya aktivitas praktis dalam melibatkan mahasiswa pada pembelajaran tatap muka maupun daring (Bai et al., 2023).
Pembelajaran yang menarik juga tidak harus selalu menggunakan teknologi yang rumit. Diskusi sederhana, studi kasus, praktik, dan pemecahan masalah dapat menghidupkan suasana kelas. Teknologi memang dapat membantu, tetapi teknologi hanyalah alat. Hal yang lebih penting adalah bagaimana alat tersebut digunakan untuk membuat mahasiswa berpikir dan terlibat.
Dosen Bukan Satu-Satunya Penentu, tetapi Perannya Tidak Bisa Diabaikan
Membicarakan minat belajar mahasiswa bukan berarti seluruh kesalahan harus diarahkan kepada dosen. Dosen tidak mungkin membuat setiap mahasiswa tertarik pada semua materi. Setiap mahasiswa memiliki latar belakang, kemampuan, tujuan, dan pengalaman belajar yang berbeda. Mahasiswa tetap memiliki tanggung jawab untuk membangun motivasi dan mengembangkan kebiasaan belajar.
Peran dosen tetap besar karena banyak hal yang terjadi di ruang kelas berada dalam pengaruh cara dosen mengelola pembelajaran. Cara materi diperkenalkan, cara pertanyaan diterima, cara mahasiswa diajak berdiskusi, cara kesalahan diperlakukan, serta cara teori dikaitkan dengan persoalan nyata dapat membentuk pengalaman belajar mahasiswa.
Dosen tidak harus menjadi penghibur di dalam kelas. Pembelajaran yang menarik juga tidak berarti setiap perkuliahan harus dipenuhi permainan atau teknologi. Hal yang lebih penting adalah membuat mahasiswa memiliki alasan untuk memperhatikan. Materi yang sulit tetap dapat menarik apabila disampaikan melalui persoalan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Materi sederhana pun dapat terasa membosankan apabila hanya disampaikan secara monoton tanpa ruang interaksi.
Kreativitas dalam pembelajaran menjadi penting pada titik ini.
Diskusi, studi kasus, pembelajaran berbasis masalah, praktik, dan pemanfaatan teknologi dapat digunakan sesuai kebutuhan. Tujuannya bukan membuat kelas terlihat canggih, tetapi membuat mahasiswa terlibat dalam proses berpikir. Peran dosen dan fasilitas pembelajaran juga berkaitan dengan minat mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran, termasuk pada pembelajaran hybrid (Unsriana et al., 2023).
Pada saat yang sama, mahasiswa juga perlu berhenti menunggu untuk selalu “diajari”. Mereka perlu mengambil kembali perannya sebagai subjek pembelajaran. Datang ke kelas dengan pertanyaan, membaca sebelum perkuliahan, berani menyampaikan pendapat, mencari sumber tambahan, dan menghubungkan materi dengan persoalan nyata merupakan bentuk keterlibatan yang dapat dilakukan mahasiswa.
Minat Belajar Harus Dibangun Bersama
Jika seluruh tanggung jawab diletakkan pada dosen, persoalan yang sama akan terus berulang. Dosen dapat membuat kelas lebih menarik, tetapi mahasiswa tetap memiliki tanggung jawab untuk menentukan apakah mereka akan terlibat atau tidak. Minat belajar tidak selalu muncul sebelum seseorang mulai belajar. Ketertarikan justru dapat tumbuh setelah seseorang mulai memahami, mencoba, bertanya, dan menemukan hubungan antara materi dengan kebutuhannya.
Mahasiswa dapat mulai membangun minat melalui langkah sederhana. Mereka dapat mencari tahu mengapa suatu materi penting, apa hubungannya dengan bidang yang dipelajari, dan bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan dalam kehidupan nyata. Rasa ingin tahu yang awalnya kecil dapat berkembang ketika mahasiswa mulai menemukan makna dari materi yang dipelajari.
Keterlibatan mahasiswa juga tidak dapat dilepaskan dari motivasi dan strategi belajar. Adanya keterkaitan antara keterlibatan belajar, motivasi akademik, dan strategi belajar mahasiswa perguruan tinggi. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa mahasiswa bukan sekadar penerima pengajaran. Cara mahasiswa mengatur proses belajarnya sendiri ikut menentukan kualitas keterlibatan mereka. (Gavín-Chocano et al., 2024).
Perguruan tinggi pun memiliki tanggung jawab. Fasilitas belajar, sumber informasi, teknologi, serta suasana akademik yang baik dapat membantu mahasiswa mempertahankan minat. Pembelajaran yang fleksibel dan sesuai dengan perkembangan kebutuhan mahasiswa juga dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan pengalaman belajar yang lebih relevan.
Pada akhirnya, minat belajar adalah tanggung jawab bersama. Dosen perlu menciptakan ruang pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa terlibat. Mahasiswa perlu mengambil peran aktif dalam proses tersebut. Perguruan tinggi perlu menyediakan lingkungan yang mendukung keduanya. Ketiga unsur ini tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.
Minat belajar mahasiswa tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan sederhana tentang rajin atau malas. Di balik mahasiswa yang pasif terdapat banyak kemungkinan: materi yang terasa jauh dari kehidupan mereka, metode pembelajaran yang kurang melibatkan, lingkungan belajar yang tidak mendukung, motivasi yang menurun, atau ketidakpercayaan terhadap kemampuan diri sendiri.
Karena itu, kebiasaan menyalahkan mahasiswa perlu dihentikan. Bukan berarti mahasiswa bebas dari tanggung jawab, melainkan tanggung jawab tersebut perlu ditempatkan secara proporsional. Mahasiswa bertanggung jawab membangun motivasi dan keterlibatan. Dosen bertanggung jawab menciptakan ruang belajar yang memungkinkan keterlibatan itu tumbuh. Perguruan tinggi bertanggung jawab menyediakan lingkungan dan fasilitas yang mendukung proses tersebut.
Kampus seharusnya bukan tempat mahasiswa belajar hanya untuk mendapatkan nilai. Kampus semestinya menjadi tempat tumbuhnya rasa ingin tahu. Ketika mahasiswa mulai berani bertanya, dosen membuka ruang untuk berdiskusi, dan pembelajaran mampu menghubungkan teori dengan kenyataan, kuliah tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang harus dilewati.
Ruang kuliah yang baik bukanlah ruang yang selalu sunyi karena semua mahasiswa diam mendengarkan. Ruang kuliah yang hidup justru dapat dipenuhi pertanyaan, pendapat, diskusi, bahkan perbedaan pemikiran. Di sanalah proses belajar benar-benar berlangsung.
Jadi, ketika mahasiswa mulai kehilangan minat belajar, mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya, “Mengapa mahasiswa malas?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Sudahkah ruang kuliah kita mengundang mereka untuk ingin tahu?”**
*Penulis adalah mahasiswa program Studi Farmasi, Universitas Tanjungpura.
Editor : Hanif