Apa yang Diam-Diam Dipelajari Mahasiswa?

Hanif • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 09:20 WIB
Syamsul Kurniawan
Syamsul Kurniawan

Oleh: Syamsul Kurniawan*

ADA pengetahuan yang diajarkan dengan suara lantang. Ada pula yang diajarkan tanpa pernah disebut sebagai pelajaran. Yang pertama tertulis di silabus, tercetak dalam buku, dijelaskan di depan kelas, lalu diuji melalui lembar ujian. Yang kedua tumbuh dari kebiasaan: dari cara mahasiswa duduk, datang, berbicara, membaca, berdiskusi, memperlakukan teman, menjaga kebersihan, menaati aturan, bahkan dari cara mereka memandang keberhasilan. Justru pengetahuan yang kedua inilah yang sering luput kita tanyakan: apa yang diam-diam dipelajari mahasiswa?

Kita sering mengukur keberhasilan pendidikan melalui angka. Nilai ujian, indeks prestasi, jumlah lulusan, publikasi, dan berbagai capaian akademik menjadi tanda yang mudah dilihat. Semua itu penting, tetapi pendidikan tidak berhenti pada apa yang mudah dihitung. Seorang mahasiswa mungkin sangat baik dalam mengingat teori, tetapi belum tentu terbiasa bertanya. Ia mungkin mampu menjelaskan toleransi, tetapi belum tentu sanggup hidup bersama orang yang berbeda. Ia dapat berbicara tentang tanggung jawab, tetapi belum tentu merasa bertanggung jawab terhadap ruang yang digunakannya bersama.

Di antara pengetahuan yang tercantum dalam kurikulum dan kebiasaan yang tumbuh dalam keseharian, berlangsung sebuah pendidikan yang lebih senyap. Mahasiswa belajar bahwa datang tepat waktu adalah bentuk penghargaan kepada orang lain. Mereka belajar bahwa kebersihan bukan hanya urusan petugas. Mereka belajar bahwa pendapat teman perlu didengar meskipun berbeda. Mereka belajar bahwa karya yang baik layak dipublikasikan. Mereka belajar bahwa membaca tidak selalu harus menunggu tugas dosen. Pelajaran-pelajaran itu tidak selalu memiliki jam kuliah, tetapi dapat menetap jauh lebih lama daripada materi ujian.

Karena itu, budaya kampus sesungguhnya merupakan bagian dari pendidikan. Kampus bukan sekadar bangunan tempat ilmu pengetahuan dipindahkan. Ia adalah lingkungan sosial tempat seseorang dibentuk melalui perjumpaan yang terus-menerus. Setiap lorong, ruang kelas, perpustakaan, organisasi mahasiswa, forum diskusi, papan pengumuman, aturan, dan kebiasaan membawa pesan tertentu tentang manusia seperti apa yang diharapkan tumbuh di dalamnya.

Dalam konteks ini, pendidikan moral dan budi pekerti tidak cukup diletakkan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri. Nilai harus menemukan tubuhnya dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran harus memiliki ruang untuk dipraktikkan. Tanggung jawab harus memiliki kesempatan untuk dijalankan. Toleransi harus memperoleh pengalaman konkret. Kesopanan harus hadir dalam percakapan. Kepedulian harus terlihat dalam tindakan. Pendidikan akan kehilangan sebagian kekuatannya apabila nilai hanya berhenti sebagai kalimat indah yang dihafalkan.

Mahasiswa adalah manusia yang sedang bertumbuh. Mereka datang ke kampus membawa pengalaman, keluarga, lingkungan sosial, keyakinan, kebiasaan, dan cara pandang yang telah terbentuk sebelumnya. Kampus kemudian menjadi salah satu ruang penting yang mempertemukan berbagai pengalaman itu. Seperti benih yang ditanam di persemaian, pertumbuhan mahasiswa membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka berkembang, sekaligus memberikan perlindungan dari kebiasaan yang dapat menghambat pertumbuhan tersebut.

Maka dosen tidak cukup dipahami sebagai penyampai materi. Perannya lebih dekat dengan seorang pendamping pertumbuhan intelektual dan moral. Ia memang mengajarkan konsep, tetapi juga menciptakan suasana belajar. Ia memberi arah, tetapi tidak mengambil seluruh ruang pencarian. Ia membimbing, tetapi memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menemukan. Ia mengoreksi, tetapi juga membuka kemungkinan bagi mahasiswa untuk mengoreksi dirinya sendiri.

 

Menggeser Mentalitas: Dari Penerima Menjadi Pencari

Pada titik ini, Discovery Learning menawarkan sesuatu yang menarik. Model pembelajaran ini menggeser mahasiswa dari posisi penerima menjadi pencari. Mereka diajak mengamati, bertanya, mengumpulkan informasi, mengolah data, menguji dugaan, memverifikasi, dan menyusun kesimpulan. Pengetahuan tidak selalu diberikan dalam bentuk final. Mahasiswa diberi kesempatan untuk mengalami proses bagaimana pengetahuan ditemukan dan dibangun.

Perubahan itu bukan perkara teknis belaka. Ketika mahasiswa diminta menemukan, sesungguhnya mereka sedang dilatih untuk memiliki hubungan yang berbeda dengan pengetahuan. Mereka belajar bahwa pengetahuan bukan sesuatu yang selalu datang dari atas. Ia dapat dicari, diperiksa, diperdebatkan, diuji, bahkan diperbaiki. Mereka tidak hanya belajar isi pengetahuan, tetapi juga belajar bagaimana menjadi subjek yang berhadapan secara aktif dengan pengetahuan.

Proses tersebut sejalan dengan tahapan perkembangan kognitif dalam Taksonomi Bloom (2001) yang telah direvisi. Pembelajaran bergerak dari remember dan understand menuju apply, analyze, evaluate, dan create. Dengan demikian, mahasiswa tidak berhenti sebagai pengingat informasi. Mereka didorong untuk menggunakan, membedah, menilai, lalu menghasilkan sesuatu yang baru.

Tetapi manusia tidak hanya memiliki kemampuan berpikir. Ada sikap, nilai, perasaan, penghargaan, dan keterampilan yang tumbuh bersamaan dengan pengetahuan. Di sinilah pendidikan moral memperoleh tempatnya. Mahasiswa yang menemukan persoalan lingkungan, misalnya, tidak cukup hanya mampu menjelaskan penyebab kerusakan lingkungan. Ia perlu bertanya apa yang dapat dilakukan. Pengetahuan yang baik semestinya membuka jalan menuju tindakan yang baik.

Bayangkan sebuah pembelajaran tentang hujan. Dosen dapat memberikan definisi, menjelaskan siklus air, lalu meminta mahasiswa menghafalkannya. Namun mahasiswa juga dapat diajak memperhatikan langit, mengamati lingkungan, membaca perubahan cuaca, menelusuri persoalan kekeringan, membahas kebakaran hutan dan lahan, kemudian bertanya mengapa manusia terus mengalami persoalan lingkungan yang sama. Hujan yang semula hanya fenomena alam berubah menjadi pintu masuk menuju pertanyaan sosial dan moral.

Pada saat itu, pembelajaran mulai menyentuh kehidupan. Mahasiswa tidak hanya bertanya bagaimana hujan terjadi, tetapi juga mengapa manusia membutuhkan hujan, mengapa lingkungan dapat kehilangan daya dukungnya, dan apa hubungan antara perilaku manusia dengan keberlangsungan alam. Pengetahuan bergerak dari kepala menuju kesadaran. Kesadaran kemudian memperoleh kesempatan untuk berubah menjadi tindakan.

Budaya kampus dapat memperkuat proses tersebut melalui kebiasaan-kebiasaan kecil. Tempat duduk yang seluruhnya menghadap dosen dapat ditata ulang agar memungkinkan mahasiswa saling berhadapan. Kelompok diskusi dapat dibangun sebagai kebiasaan intelektual. Perpustakaan dapat menjadi ruang yang hidup. Buku, artikel jurnal, puisi, novel, dan produk inovatif mahasiswa dapat dipamerkan. Karya tidak dibiarkan menjadi dokumen yang mengendap, tetapi diberi kesempatan untuk berjumpa dengan publik.

Begitu pula foto ilmuwan, pemikir, dan kutipan inspiratif yang hadir di ruang kampus bukan sekadar dekorasi. Ruang dapat berbicara. Apa yang dipajang memberi pesan tentang siapa yang dianggap penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Apa yang dibaca mahasiswa setiap hari perlahan ikut membentuk imajinasi mereka tentang kerja intelektual, ketekunan, kreativitas, dan keberanian berpikir.

Kebiasaan membaca pun demikian. Seorang mahasiswa yang mengunjungi perpustakaan ketika jam kosong sedang mempelajari sesuatu yang lebih besar daripada isi buku. Ia sedang membangun relasi dengan pengetahuan tanpa selalu menunggu perintah. Kelompok mahasiswa yang mendiskusikan buku di luar kelas juga sedang belajar bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi percakapan, bukan hanya kewajiban akademik.

Kebersihan bahkan dapat menjadi pendidikan. Ketika seorang mahasiswa memungut sampah yang bukan miliknya, ia sedang belajar tentang ruang bersama. Ketika ia menyiram kamar mandi sebelum atau sesudah digunakan, ia sedang belajar bahwa fasilitas publik memiliki hubungan dengan tanggung jawab pribadi. Ketika mahasiswa bekerja bersama membersihkan lingkungan kampus, mereka tidak sekadar menghilangkan sampah. Mereka sedang membangun pengalaman tentang kerja sama dan kepedulian.

Begitu pula disiplin. Datang tepat waktu, mematuhi aturan, berpakaian pantas, bertutur sopan, menghormati dosen dan teman, serta menghindari perbuatan tercela merupakan kebiasaan yang tampak sederhana. Namun pengulangan tindakan-tindakan kecil itu dapat membentuk watak. Karakter tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui proses panjang, lingkungan, keluarga, sekolah, guru, teman sebaya, dan pengulangan perilaku.

 

Sulitkah?

Sulitkah membangun semua itu? Pertanyaan ini tampaknya sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana membuat daftar aturan. Michel Foucault mengajarkan kita untuk melihat bagaimana kekuasaan bekerja melalui sesuatu yang sehari-hari. Kekuasaan bukan hanya berada di tangan negara atau pejabat. Ia bekerja melalui relasi, norma, tata ruang, pengawasan, penilaian, bahasa, dan berbagai mekanisme yang membuat seseorang belajar mengatur dirinya sendiri.

Ruang kelas, misalnya, bukan sekadar tempat yang memiliki meja dan kursi. Tata letaknya dapat menciptakan hubungan tertentu. Jika seluruh mahasiswa menghadap satu arah, dosen berada pada posisi yang sangat dominan sebagai pusat perhatian. Jika ruang memungkinkan mahasiswa saling berhadapan, pola interaksi dapat berubah. Tidak otomatis menjadi lebih baik, tentu saja, tetapi terdapat kemungkinan lahirnya hubungan yang berbeda. Tata ruang ternyata dapat ikut mengatur bagaimana manusia berbicara dan mendengar.

Foucault (1975) menyebut perhatian kita kepada mekanisme semacam ini melalui pembahasan tentang disiplin dan pengawasan. Dalam masyarakat modern, manusia tidak selalu perlu dihukum secara keras agar patuh. Norma dapat bekerja lebih halus. Seseorang belajar bahwa dirinya selalu mungkin dinilai, dilihat, diperiksa, dan dibandingkan. Lama-kelamaan, pengawasan dari luar dapat berubah menjadi pengawasan dari dalam. Ia mulai mengawasi dirinya sendiri.

Kampus pun memiliki mekanisme semacam itu. Absensi, nilai, aturan berpakaian, batas waktu tugas, tata tertib, evaluasi, dan berbagai bentuk penilaian diperlukan untuk menjaga keteraturan. Tetapi pendidikan yang matang tidak berhenti pada kepatuhan karena takut diawasi. Tujuannya justru agar mahasiswa berkembang menjadi manusia yang mampu bertanggung jawab ketika tidak ada orang yang mengawasinya.

Di sinilah letak perbedaan antara tubuh yang patuh dan manusia yang sadar. Mahasiswa yang tidak membuang sampah karena takut ditegur sedang merespons pengawasan. Mahasiswa yang tidak membuang sampah karena memahami tanggung jawab terhadap ruang bersama sedang membangun kesadaran. Perbuatannya mungkin sama, tetapi dasar tindakannya berbeda. Pendidikan moral yang mendalam berusaha memindahkan manusia dari sekadar kepatuhan menuju kesadaran.

Foucault (1966, 1969) juga mengajak kita melihat pentingnya wacana. Apa yang disebut “mahasiswa ideal” tidak lahir dari ruang kosong. Ia dibentuk melalui bahasa dan norma yang berkembang di institusi pendidikan. Mahasiswa yang rajin, pintar, aktif, disiplin, kritis, kreatif, sopan, dan berprestasi merupakan kategori-kategori yang membawa ukuran tertentu. Ukuran itu dapat membantu pendidikan, tetapi juga perlu terus diperiksa agar tidak berubah menjadi satu-satunya cara dalam menilai manusia.

Sebab, ketika sebuah institusi menentukan apa yang disebut normal, ia sekaligus menentukan apa yang dianggap tidak normal. Ketika hanya nilai akademik yang dianggap sebagai bukti kecerdasan, bentuk kecakapan lain dapat tersisih. Ketika hanya mahasiswa yang banyak berbicara dianggap aktif, mahasiswa yang lebih reflektif dapat tidak terlihat. Karena itu, budaya kampus perlu memberi ruang bagi keragaman cara belajar, cara berpikir, bakat, minat, dan bentuk kontribusi mahasiswa.

Kegiatan intra dan ekstrakampus menjadi penting karena kehidupan mahasiswa tidak boleh dikurung dalam dinding ruang kuliah. Organisasi, komunitas, penelitian, pengabdian, seni, olahraga, kegiatan sosial, forum literasi, dan berbagai aktivitas lain memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menguji pengetahuan dalam kehidupan. Di sana mereka belajar bekerja sama, menghadapi perbedaan, menyelesaikan persoalan, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan pilihan.

Namun kampus bukan satu-satunya lingkungan pendidikan. Keluarga atau wali dan masyarakat sebagai bagian dari pemangku kepentingan memiliki pengaruh yang tidak kecil. Sikap dan budi pekerti mahasiswa tidak mungkin dibentuk hanya oleh satu lingkungan. Ada kesinambungan yang perlu dibangun antara rumah, kampus, dan masyarakat. Ketika ketiganya saling mendukung, nilai yang dipelajari mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menjadi kebiasaan yang konsisten.

Pertanyaan tentang apa yang diam-diam dipelajari mahasiswa akhirnya membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar: manusia seperti apa yang sedang kita bentuk melalui pendidikan? Apakah kita hanya ingin menghasilkan mahasiswa yang mampu menjawab soal, atau manusia yang mampu membaca kehidupan? Apakah kita hanya ingin mereka patuh pada aturan, atau mampu memahami alasan moral di balik aturan? Apakah kita ingin mereka menguasai pengetahuan, atau juga mampu mempertanggungjawabkan penggunaan pengetahuan itu?

Sebab pengetahuan selalu membawa konsekuensi. Mahasiswa yang belajar tentang lingkungan memperoleh pengetahuan tentang alam, tetapi juga berhadapan dengan tanggung jawab terhadap alam. Mahasiswa yang belajar tentang masyarakat berhadapan dengan manusia lain yang berbeda. Mahasiswa yang belajar tentang agama berhadapan dengan persoalan bagaimana keyakinan hidup berdampingan dengan keyakinan orang lain. Mahasiswa yang belajar tentang kebebasan berhadapan dengan pertanyaan tentang tanggung jawab. Pengetahuan yang matang tidak membuat manusia hanya semakin tahu, tetapi semakin sadar terhadap akibat dari apa yang diketahuinya.

Maka mungkin pertanyaan pendidikan yang paling penting bukanlah “Apa yang sudah kita ajarkan kepada mahasiswa?”, melainkan “Apa yang sedang mereka pelajari dari cara kita mendidik?” Mereka mungkin belajar dari buku, tetapi juga belajar dari perilaku kita. Mereka mungkin belajar tentang disiplin dari aturan, tetapi juga dari ketepatan waktu kita. Mereka mungkin belajar tentang toleransi dari teori, tetapi juga dari cara kita memperlakukan perbedaan. Mereka mungkin belajar tentang tanggung jawab dari ceramah, tetapi terutama dari budaya yang kita bangun bersama. Dan pada akhirnya, yang diam-diam dipelajari mahasiswa itulah yang mungkin justru paling lama tinggal dalam diri mereka: bukan sekadar apa yang mereka ketahui, tetapi siapa mereka menjadi setelah menjalani pendidikan.**

 

*Penulis adalah Dewan Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat.

Editor : Hanif
Pendidikan Moral budaya kampus karakter mahasiswa pendidikan tinggi dunia pendidikan