PONTIANAK POST - Bintang muda Red Bull KTM Factory Racing, Pedro Acosta, melontarkan kritik tajam terhadap format kompetisi dan kalender balap MotoGP 2026 yang dinilai terlalu menguras energi.
Pembalap berusia 21 tahun itu memperingatkan bahwa jika intensitas balapan tidak segera dievaluasi, masa depan para atlet di lintasan balap akan menjadi jauh lebih singkat akibat tekanan fisik dan mental yang luar biasa.
Acosta menyebut bahwa format 22 seri balapan dalam satu musim dengan sesi kompetitif setiap hari, mulai dari latihan krusial di hari Jumat, kualifikasi dan sprint race di hari Sabtu, hingga balapan utama di hari Minggu, telah mencapai batas kewajaran manusia.
Menurutnya, tidak ada lagi ruang bagi pembalap untuk sekadar membangun ritme secara bertahap tanpa dihantui risiko tinggi.
"Tidak ada cara untuk bertahan selama 22 minggu dengan sesi penting setiap hari," ungkap pembalap Spanyol itu dalam pengarahan media menjelang Grand Prix Amerika Serikat dikutip dari Motorsport.
"Tingkat stres yang bisa kami tanggung akan mencapai limitnya, dan ini akan membuat segalanya (karier) menjadi lebih pendek."
Acosta menekankan bahwa yang menjadi masalah bukanlah jumlah balapan semata, melainkan persentase risiko yang meningkat setiap hari.
Dengan format saat ini, pembalap dituntut untuk selalu berada di limit maksimal, yang secara otomatis memperbesar peluang terjadinya kecelakaan fatal atau cedera permanen.
Ia menyarankan agar otoritas MotoGP memberikan jeda dua minggu lebih sering antar seri untuk menjaga kesehatan jangka panjang para pembalap.
Kekhawatiran Acosta ini muncul di tengah padatnya jadwal setelah penundaan Grand Prix Qatar, yang memaksa sirkus MotoGP langsung terbang ke Eropa setelah balapan di Austin.
Seri selanjutnya, yakni Grand Prix Spanyol di Jerez pada 24-26 April mendatang, akan menjadi ujian fisik berikutnya bagi para pembalap di grid 2026. (*)
Editor : Budi Miank