PONTIANAK POST - Mesin boxer dan transmisi Lineartronic CVT telah menjadi identitas Subaru selama bertahun-tahun.
Namun, di balik reputasinya sebagai produsen mobil berpenggerak semua roda (AWD), kedua teknologi tersebut kerap menjadi bahan perdebatan terkait keandalan dan biaya perawatannya.
Menurut ulasan CarBuzz, sebagian kritik tersebut berakar pada masalah yang terjadi pada model-model lama, sementara teknologi generasi terbaru telah mengalami berbagai penyempurnaan.
Baca Juga: Masalah Serpihan Logam, Toyota Tarik Kembali 250.000 Pikap Tundra V6
Mesin boxer menggunakan konfigurasi silinder horizontal yang membuat pusat gravitasi kendaraan lebih rendah dibanding mesin segaris atau V.
Desain ini membantu meningkatkan stabilitas dan karakter pengendalian, sekaligus menjadi pasangan ideal bagi sistem Symmetrical All-Wheel Drive milik Subaru.
Namun, tata letak tersebut juga membuat beberapa pekerjaan servis, seperti penggantian busi, menjadi lebih rumit dibanding mesin konvensional.
Baca Juga: Infiniti Q45 Jadi Sedan Pertama dengan Suspensi Aktif, Teknologinya Mendahului Zaman
Reputasi buruk mesin boxer Subaru sebagian besar berasal dari kasus kebocoran gasket kepala silinder (head gasket) pada mesin seri EJ yang diproduksi pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an.
Pada mesin boxer generasi modern, Subaru telah menggunakan material dan desain yang diperbarui sehingga masalah tersebut tidak lagi menjadi keluhan utama.
Selain itu, beberapa pemilik masih melaporkan konsumsi oli yang lebih tinggi dibanding sebagian mesin lain.
Baca Juga: BYD Racco Hadir 28 Juli, Mobil Listrik Kompak dengan Jarak Tempuh 320 Km
Meski demikian, Subaru menyarankan pemilik memeriksa level oli secara berkala karena konsumsi oli dalam jumlah tertentu masih dianggap normal pada mesin pembakaran internal.
Di sisi transmisi, Subaru mulai mengadopsi Lineartronic CVT secara luas sejak awal dekade 2010-an demi meningkatkan efisiensi bahan bakar dan menghadirkan akselerasi yang lebih halus.
Saat ini hampir seluruh lini kendaraan bermesin pembakaran Subaru menggunakan CVT, kecuali beberapa model tertentu seperti BRZ yang masih menawarkan transmisi otomatis konvensional enam percepatan.
Meski menawarkan efisiensi yang lebih baik, CVT Subaru juga pernah menghadapi sejumlah masalah pada model-model awal.
Beberapa pemilik melaporkan gejala seperti getaran (shudder), selip (slipping), keterlambatan respons akselerasi, hingga suara dengung pada transmisi.
Untuk mengatasi sebagian persoalan tersebut, Subaru bahkan pernah memperpanjang garansi CVT pada sejumlah model produksi 2010–2018 di beberapa pasar.
Subaru terus melakukan penyempurnaan terhadap transmisi Lineartronic.
Dokumen teknis terbaru menunjukkan adanya pembaruan pada control valve body, peningkatan komponen internal, serta panduan diagnosis baru untuk mengatasi gejala seperti shudder, chain slip, dan hesitation pada beberapa model.
Menurut CarBuzz, baik mesin boxer maupun CVT Subaru tidak dapat dinilai hanya berdasarkan pengalaman model-model lama.
Pada kendaraan generasi terbaru yang dirawat sesuai jadwal servis, kedua teknologi tersebut dinilai telah mengalami peningkatan keandalan yang signifikan.
Namun, bagi calon pembeli mobil bekas, riwayat perawatan, penggantian oli mesin, serta servis CVT tetap menjadi faktor penting yang perlu diperiksa sebelum melakukan pembelian. (*)
Editor : Chairunnisya