PONTIANAK POST - Aki merupakan salah satu komponen penting pada kendaraan bermotor.
Tanpa aki yang bekerja optimal, berbagai sistem kelistrikan kendaraan tidak dapat berfungsi dengan baik.
Karena itu, memahami jenis aki yang digunakan menjadi hal penting sebelum memutuskan mengganti atau membeli aki baru.
Baca Juga: Aki Kering atau Basah, Kenali Perbedaan Sebelum Memilih untuk Kendaraan
Di pasaran, terdapat dua jenis aki yang paling banyak digunakan, yakni aki kering atau Valve Regulated Lead Acid (VRLA) dan aki basah atau aki konvensional.
Dilansir dari Jawapos, keduanya memiliki karakteristik, kelebihan, dan kekurangan yang berbeda.
Aki kering menggunakan elektrolit berbentuk gel atau pasta yang terikat pada pelat-pelat timbal sehingga tidak memerlukan penambahan air secara berkala.
Sementara aki basah menggunakan cairan elektrolit berupa asam sulfat yang merendam pelat timbal untuk menghasilkan energi listrik.
Agar tidak salah memilih, berikut beberapa perbedaan utama antara aki kering dan aki basah.
1. Material dan Teknologi Berbeda
Perbedaan paling mendasar terdapat pada teknologi penyimpanan elektrolit.
Baca Juga: Dari Skutik Hingga Sport, Yamaha Sapu Bersih 7 Penghargaan di Event Otomotif Award 2026
Pada aki kering, elektrolit berbentuk gel atau serat penyerap yang diaplikasikan pada pelat timbal. Karena tidak menggunakan cairan bebas, risiko kebocoran lebih kecil.
Teknologi VRLA juga memungkinkan aki menyegel dirinya sendiri apabila terjadi kebocoran kecil.
Sebaliknya, aki basah menggunakan cairan elektrolit berupa asam sulfat yang langsung merendam pelat timbal. Desainnya lebih sederhana dan umumnya memiliki harga yang lebih terjangkau.
2. Perawatan dan Umur Pakai
Aki kering dikenal minim perawatan. Pengguna tidak perlu menambahkan air aki secara berkala sehingga lebih praktis digunakan sehari-hari.
Baca Juga: Infinix Note 60 Ultra Pikat Lewat Desain Otomotif Italia, Fitur Unik Belum Cukup Menang Bersaing
Selain itu, usia pakainya juga relatif lebih lama, yakni sekitar tiga hingga lima tahun atau bahkan lebih, tergantung kondisi pemakaian kendaraan.
Berbeda dengan aki kering, aki basah memerlukan pemeriksaan rutin terhadap ketinggian air aki. Jika volumenya berkurang, pengguna harus menambahkannya agar performa tetap optimal.
Umur pakai aki basah umumnya berkisar satu hingga dua tahun.
3. Harga Lebih Mahal, tetapi Perawatan Lebih Hemat
Dari sisi harga, aki kering biasanya dijual lebih mahal dibandingkan aki basah. Namun, biaya tersebut dapat terbayar dalam jangka panjang karena kebutuhan perawatannya jauh lebih sedikit.
Pengguna tidak perlu rutin membeli air aki maupun melakukan pengecekan berkala seperti pada aki basah.
Sebaliknya, aki basah memiliki harga awal yang lebih ekonomis, tetapi membutuhkan biaya perawatan lebih sering selama masa pemakaian.
4. Daya Tahan terhadap Kondisi Penggunaan
Aki kering memiliki ketahanan yang baik terhadap getaran, benturan, serta risiko kebocoran. Jenis aki ini juga mampu bekerja pada berbagai kondisi suhu, termasuk suhu yang cukup ekstrem.
Meski demikian, performanya dapat menurun apabila terlalu sering mengalami deep discharge atau kondisi ketika daya aki terkuras hingga sangat rendah.
Sementara itu, aki basah mampu menghasilkan arus starter yang besar sehingga tetap banyak digunakan pada berbagai jenis kendaraan.
Namun, aki jenis ini lebih rentan mengalami rembes apabila terkena benturan atau suhu tinggi. Performanya juga dapat menurun apabila sering mengalami overcharging maupun undercharging.
Mana yang Lebih Tepat Dipilih?
Baik aki kering maupun aki basah memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Aki kering cocok bagi pengguna yang menginginkan perawatan lebih praktis dan usia pakai lebih panjang.
Sementara aki basah masih menjadi pilihan bagi pengguna yang mempertimbangkan harga awal lebih terjangkau dan siap melakukan perawatan secara berkala.
Baca Juga: Alexander Wilyo Raih Penghargaan IMI Kalbar, Bukti Dukungan Besar untuk Otomotif Daerah
Memahami karakteristik kedua jenis aki tersebut dapat membantu pemilik kendaraan memilih aki yang paling sesuai dengan kebutuhan dan pola penggunaan sehari-hari. (*)
Editor : Chairunnisya