PONTIANAK POST - Pemerintah tengah menyiapkan strategi untuk mendorong perkembangan industri kendaraan listrik nasional melalui kebijakan insentif yang diarahkan pada mobil listrik berbasis baterai nickel-manganese-cobalt (NMC).
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem kendaraan listrik sekaligus memanfaatkan potensi sumber daya nikel yang dimiliki Indonesia.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa pengembangan kendaraan listrik tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah pengguna, tetapi juga diarahkan untuk mendukung rantai pasok industri dalam negeri. Dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di Indonesia, pemerintah berharap pengembangan industri kendaraan listrik dapat berjalan lebih terintegrasi.
Meski demikian, skema insentif yang akan diterapkan masih dalam tahap pembahasan. Pemerintah juga masih mengkaji bentuk kebijakan yang dinilai paling tepat untuk mendorong pertumbuhan pasar kendaraan listrik sekaligus memperkuat industri nasional.
Lalu, mengapa pemerintah memberikan perhatian lebih pada kendaraan listrik berbasis baterai nikel? Berikut penjelasannya.
Pemerintah Siapkan Strategi Insentif untuk Kendaraan Listrik Berbasis Nikel
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan strategi untuk mendorong pasar kendaraan listrik berbasis baterai NMC.
Menurutnya, pemberian insentif menjadi salah satu langkah yang dipertimbangkan dalam mendukung pengembangan kendaraan listrik berbasis nikel.
Baca Juga: Dorado V3 Hadir, Motor Listrik Off-Road 48 HP dengan Jarak Tempuh 112 Km dengan Baterai Tukar
"Ke depan akan ke sana. (Insentif NMC menjadi) bagian salah satu strateginya," ujar Bahlil dilansir dari Antara.
Mengapa Pemerintah Memprioritaskan Baterai NMC?
Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah saat ini lebih memprioritaskan pengembangan kendaraan listrik yang menggunakan baterai NMC dibandingkan baterai lithium iron phosphate (LFP).
Alasan utamanya adalah Indonesia memiliki cadangan nikel yang melimpah dan sedang membangun rantai pasok baterai kendaraan listrik berbasis mineral tersebut.
Sebaliknya, bahan baku utama yang digunakan dalam baterai LFP belum tersedia di dalam negeri. Karena itu, arah pengembangan industri kendaraan listrik nasional difokuskan pada pemanfaatan baterai berbasis nikel.
Keunggulan Baterai NMC Menurut Pemerintah
Selain mempertimbangkan ketersediaan bahan baku, pemerintah juga menilai baterai NMC memiliki keunggulan dari sisi penggunaan.
Menurut Bahlil, baterai berbasis nikel dinilai lebih sesuai untuk kendaraan yang digunakan menempuh perjalanan jarak jauh.
"Kalau jarak-jarak pendek itu LFP biasanya, tetapi kalau jarak panjang itu nikel masih lebih paten," ujarnya.
Meski biaya produksinya relatif lebih tinggi dibandingkan baterai LFP, kendaraan listrik dengan baterai berbasis nikel dinilai tetap menawarkan nilai lebih dari sisi performa maupun daya jelajah.
Skema Insentif Masih Dalam Tahap Pembahasan
Pemerintah juga tengah menyiapkan paket insentif kendaraan listrik yang ditargetkan mencakup 100 ribu unit mobil listrik dan 100 ribu unit sepeda motor listrik sepanjang 2026.
Untuk sepeda motor listrik, insentif yang disiapkan sebesar Rp5 juta per unit. Sementara itu, pembelian mobil listrik direncanakan memperoleh fasilitas berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 40 hingga 100 persen.
Baca Juga: Dipuji Media Global Charged Ndara Jadi Sorotan Dunia, Motor Listrik Indonesia Tampil Premium
Insentif Disesuaikan dengan Jenis Baterai
Rencana insentif tersebut hanya akan diberikan kepada kendaraan listrik murni atau electric vehicle (EV).
Kendaraan hibrida tidak termasuk dalam skema tersebut.
Pemerintah juga menyampaikan bahwa besaran insentif nantinya akan disesuaikan dengan jenis baterai yang digunakan, baik baterai berbasis nikel maupun nonnikel.
Terintegrasi dengan Pengembangan Industri EV Nasional
Selain bertujuan meningkatkan penjualan kendaraan listrik, pemerintah juga ingin mengintegrasikan kebijakan insentif dengan pengembangan industri mobil dan sepeda motor listrik nasional.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, mulai dari pemanfaatan sumber daya mineral hingga pengembangan industri pendukung.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa bentuk akhir skema insentif maupun waktu implementasinya masih dalam tahap kajian.
Baca Juga: Yamaha Luncurkan Gear eV, Skuter Listrik dengan Sistem Baterai Tukar
Kesimpulan
Rencana pemberian insentif untuk kendaraan listrik berbasis baterai nikel menunjukkan arah kebijakan pemerintah dalam mengembangkan industri EV nasional yang memanfaatkan potensi sumber daya dalam negeri.
Melalui pengembangan baterai NMC, pemerintah tidak hanya berupaya mendorong penggunaan kendaraan listrik, tetapi juga memperkuat rantai pasok industri berbasis nikel. Meski berbagai skema insentif telah disiapkan, keputusan final mengenai bentuk kebijakan dan waktu pelaksanaannya masih menunggu hasil pembahasan pemerintah.
Editor : Miftahul Khair