Grafit Lokal Indonesia Berkadar Rendah Bisa Jadi Bahan Baku Baterai Mobil Listrik

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 23:03 WIB
Batu Grafit (Wikipedia)
Batu Grafit (Wikipedia)

 

PONTIANAK POST – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi untuk mengolah grafit alam lokal berkadar rendah menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik. Teknologi tersebut mampu meningkatkan kemurnian grafit dari hanya 8–12 persen menjadi 98,0–99,52 persen.

Grafit dengan tingkat kemurnian tersebut telah memenuhi spesifikasi sebagai material aktif anoda baterai sekunder. Inovasi ini dinilai berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku baterai sekaligus memperkuat hilirisasi mineral dalam negeri.

Perekayasa Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN Haswi Purwandanu Soewoto mengatakan teknologi tersebut dapat menghasilkan lembar anoda yang lebih tipis. Dengan ketebalan yang sama, material tersebut mampu menghasilkan energi lebih tinggi sehingga berpotensi digunakan untuk pengembangan baterai berkapasitas besar.

“Grafit hasil penelitian ini mampu menghasilkan lembar anoda yang lebih tipis. Dengan ketebalan yang sama, energi yang dihasilkan menjadi lebih tinggi sehingga sangat potensial untuk mendukung pengembangan baterai berkapasitas besar,” kata Haswi dalam sesi Temu Bisnis rangkaian BRIN Goes to Industry di Jakarta, Selasa (28/7).

Selama ini, grafit alam Indonesia memiliki kadar karbon relatif rendah sehingga sulit langsung digunakan untuk kebutuhan industri baterai. BRIN mengembangkan metode pengolahan dan pemurnian untuk meningkatkan kualitas grafit lokal hingga mencapai tingkat kemurnian yang dibutuhkan industri.

Salah satu keunggulan teknologi tersebut adalah kemampuannya memanfaatkan bijih grafit berkadar rendah yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi terbatas. Material tersebut kemudian diolah menjadi bahan strategis untuk industri penyimpanan energi.

Dalam prosesnya, BRIN menggunakan diesel dengan angka setana tinggi, seperti Pertamina Dex, sebagai bahan pengumpul atau kolektor dalam proses flotasi. Menurut Haswi, bahan tersebut lebih selektif dibandingkan kerosin konvensional dalam membantu memisahkan grafit dari mineral pengotor.

“Kami menggunakan bahan bakar yang cukup sederhana dan mudah diperoleh di Indonesia, yaitu diesel dengan angka setana tinggi. Pada proses flotasi, bahan ini terbukti lebih selektif meningkatkan daya rekat grafit dibandingkan kolektor konvensional,” ujarnya.

Teknologi tersebut kemudian menggabungkan proses flotasi dengan pemurnian kimia. Kombinasi ini membantu menghilangkan berbagai mineral pengotor sehingga menghasilkan grafit dengan kemurnian mencapai 98,0–99,52 persen.

Hasil pengujian menunjukkan grafit tersebut telah memenuhi standar sebagai material anoda baterai. Produk memiliki luas permukaan spesifik atau BET sebesar 9–12 meter persegi per gram dan kapasitas pengosongan minimal 270 mAh per gram.

Menurut Haswi, teknologi tersebut memiliki peluang hilirisasi yang besar karena Indonesia belum memiliki industri pemurnian grafit alam menjadi material anoda baterai.

“Apabila teknologi ini dimanfaatkan oleh industri, maka dapat menjadi industri pemurnian grafit pertama di Indonesia yang memasok kebutuhan grafit untuk bahan baku baterai. Setelah itu, pengembangannya dapat dilanjutkan hingga industri manufaktur anoda dan baterai sekunder,” katanya.

Pemanfaatannya tidak terbatas untuk baterai kendaraan listrik. Grafit hasil pemurnian tersebut juga berpotensi digunakan untuk baterai ponsel, material maju, industri baja, dan petrokimia.

Pengembangan teknologi ini dinilai dapat membuka peluang baru bagi industri pertambangan dan pengolahan mineral sekaligus memperkuat rantai pasok baterai nasional.

BRIN juga telah memulai kerja sama dengan PT Mineralindu Berkas Mesa (PT MBS), perusahaan pemegang izin usaha pertambangan grafit alam. Kerja sama tersebut menjadi langkah awal untuk mempercepat hilirisasi teknologi pemurnian grafit lokal.

Teknologi pemurnian grafit alam tersebut telah memperoleh perlindungan kekayaan intelektual melalui permohonan paten P00202605745.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
grafit lokal bahan baku baterai anoda baterai BRIN Kendaraan listrik