PONTIANAK POST — Oli mesin menjadi salah satu komponen penting dalam perawatan motor. Penggunaan pelumas yang sesuai membantu menjaga kinerja komponen mesin dan mendukung umur pakainya.
Di tengah kenaikan harga oli kendaraan di sejumlah daerah, konsumen perlu semakin teliti saat membeli. Kondisi tersebut membuat pemeriksaan produk dan pemilihan tempat pembelian menjadi penting untuk menghindari oli yang keasliannya tidak jelas.
Ada sejumlah cara yang dapat dilakukan konsumen sebelum membeli oli motor. Pemeriksaan tidak cukup hanya berdasarkan satu ciri, tetapi perlu melihat kemasan, segel, kode autentikasi, hingga tempat pembelian.
Berikut tujuh cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko membeli oli motor palsu.
1. Periksa Kemasan dengan Teliti
Kemasan menjadi bagian pertama yang dapat diperiksa sebelum membeli oli motor.
Perhatikan kondisi botol, tutup, label, tulisan, dan kualitas hasil cetaknya. Kemasan yang tidak rapi, cetakan buram, atau terdapat bekas lem dan sambungan plastik yang mencurigakan perlu diperiksa lebih lanjut.
Meski demikian, kondisi kemasan saja tidak cukup untuk memastikan sebuah oli palsu. Produk yang diragukan sebaiknya diverifikasi menggunakan fitur autentikasi resmi jika tersedia.
2. Pastikan Segel Masih Utuh
Setelah memeriksa kemasan, perhatikan bagian tutup dan segel botol.
Pastikan tidak ada tanda-tanda kemasan pernah dibuka atau mengalami kerusakan. Segel yang rusak, longgar, atau tidak sesuai dengan standar kemasan produk patut diwaspadai.
Jika menemukan kondisi tersebut, sebaiknya jangan langsung membeli sebelum mendapatkan kepastian dari penjual atau produsen.
3. Cek Kode Produksi dan Fitur Autentikasi
Kode produksi, nomor batch, atau kode autentikasi juga perlu diperiksa sebelum membeli.
Sejumlah produsen menyediakan fitur verifikasi melalui QR Code atau situs resmi. Konsumen dapat menggunakan fasilitas tersebut untuk memastikan produk yang dibeli dapat diverifikasi.
Jangan hanya melihat keberadaan kode pada kemasan karena tampilan kode di produk palsu juga dapat dibuat mirip asli. Jika memang tersedia kode, pastikan dengan melakukan pengecekan melalui sistem autentikasi resmi produsen.
Yamaha Gunakan Unique QR Code pada Yamalube
Yamaha Indonesia, misalnya, menggunakan Unique QR Code pada kemasan Yamalube tertentu. Kode tersebut berada di balik label dan dapat dipindai konsumen untuk melakukan validasi melalui laman resmi Yamaha.
Hasil validasi dengan tanda centang hijau menunjukkan kode tersebut terverifikasi sebagai produk asli.
4. Jangan Tergiur Harga Terlalu Murah
Harga dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika membeli oli motor. Jika harga produk jauh di bawah harga yang umum ditemukan di penjual resmi, konsumen perlu lebih berhati-hati.
Harga murah tidak otomatis berarti produk palsu. Karena itu, periksa juga reputasi penjual, kondisi kemasan, serta kanal distribusinya.
5. Jangan Menjadikan Warna dan Aroma sebagai Patokan Tunggal
Setelah kemasan dibuka, konsumen mungkin memperhatikan warna, kekentalan, aroma, atau kondisi fisik oli. Oli palsu dapat terlihat lebih keruh, terlalu encer atau terlalu kental, serta memiliki kotoran atau endapan.
Oli palsu juga dapat mengeluarkan aroma yang lebih menyengat atau berbeda dari karakteristik pelumas asli karena menggunakan bahan baku yang tidak sesuai standar.
Perbedaan yang mencolok ini patut diperhatikan. Namun, karakteristik oli dapat berbeda berdasarkan jenis dan formulasi masing-masing produk.
Karena itu, warna, aroma, atau kekentalan tidak sebaiknya menjadi satu-satunya dasar untuk menyimpulkan oli palsu.
Jika menemukan kejanggalan, konsumen sebaiknya melakukan verifikasi melalui produsen atau tidak menggunakan produk tersebut sebelum mendapatkan kepastian.
6. Beli dari Penjual Tepercaya
Tempat membeli juga berperan dalam mengurangi risiko mendapatkan oli yang keasliannya tidak jelas. Konsumen dapat memilih dealer resmi, bengkel resmi, distributor resmi, atau toko yang memiliki reputasi baik.
Untuk pembelian secara online, pilih official store atau penjual yang dapat diverifikasi sebagai bagian dari jaringan distribusi resmi.
7. Simpan Struk dan Bukti Pembelian
Jangan langsung membuang struk atau invoice setelah membeli oli. Bukti transaksi dapat digunakan jika konsumen menemukan masalah pada produk dan perlu menghubungi penjual atau produsen.
Dokumen tersebut juga membantu menunjukkan tempat dan waktu pembelian apabila diperlukan untuk proses komplain.
Pertamina Lubricants Berikan Empat Cara Cek Pelumas
Selain Yamaha, PT Pertamina Lubricants (PTPL) juga memberikan panduan kepada konsumen untuk mengenali produk pelumasnya.
Direktur Utama PTPL Werry Prayogi mengatakan terdapat empat hal yang dapat diperiksa konsumen untuk membedakan pelumas asli dan palsu milik PTPL.
Pertama, konsumen dapat mengecek QR Code pada stiker botol. Kode tersebut unik yang terdiri atas sembilan hingga 10 karakter berupa kombinasi angka dan huruf acak.
Kedua, periksa hologram pada tutup botol. Hologram tersebut memiliki karakter halus serta titik atau dot yang tampak ketika dilihat pada kemiringan sekitar 45 derajat.
Ketiga, pastikan nomor batch delapan digit terlihat dengan posisi lurus, tegak, dan sejajar. Keempat, konsumen dapat memeriksa bagian dalam botol setelah dibuka (warna bagian dalam botol berbeda).
Kesimpulan
Membedakan oli asli dan palsu sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan warna, aroma, harga, atau tampilan botol.
Konsumen perlu memeriksa beberapa indikator sekaligus, termasuk kemasan, segel, kode produksi, fitur autentikasi, dan asal produk.
Setiap produsen dapat memiliki sistem pengamanan dan metode verifikasi yang berbeda. Karena itu, gunakan informasi yang diberikan produsen melalui kanal resminya.
Jika masih ragu, konsumen dapat menghubungi produsen atau membeli melalui jaringan penjualan resminya.
Dengan lebih teliti sebelum membeli, konsumen dapat mengurangi risiko mendapatkan pelumas yang keasliannya meragukan.*
Editor : Uray RonaldSumber : Yamaha Motor Indonesia, Antara, Jawapos