PONTIANAK POST – Kampanye penggunaan sepeda motor listrik (molis) terus digencarkan sebagai bagian dari transisi energi. Namun, jutaan masyarakat Indonesia belum meninggalkan motor bensin. Bagi mereka, kendaraan roda dua bukan sekadar pilihan teknologi, melainkan alat untuk bekerja, berdagang, bersekolah, dan menopang penghasilan keluarga.
Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menunjukkan penjualan domestik mencapai 6.412.769 unit sepanjang 2025. Angka itu tumbuh 1,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya, meski daya beli masyarakat menghadapi tekanan. Permintaan di luar Jawa bahkan menjadi penopang ketika pasar di Jawa melemah.
Besarnya penjualan tersebut menunjukkan motor bensin belum kehilangan fungsi utamanya. Kendaraan ini masih dianggap sebagai alat mobilitas yang mudah digunakan di tengah keterbatasan angkutan umum, terutama di daerah.
Pertimbangan Lebih dari Harga BBM
Biaya energi motor listrik memang berpotensi lebih rendah dibandingkan motor bensin. Namun, keputusan membeli kendaraan tidak hanya ditentukan oleh biaya perjalanan harian.
Konsumen juga memperhitungkan harga awal, kemudahan kredit, jarak tempuh, waktu pengisian baterai, keberadaan bengkel, ketersediaan suku cadang, serta nilai jual kembali. Motor bensin unggul karena seluruh ekosistem tersebut telah terbentuk selama puluhan tahun.
Pengguna dapat mengisi bahan bakar dalam hitungan menit di berbagai daerah. Ketika kendaraan rusak, bengkel umum dan suku cadang relatif mudah ditemukan, bahkan jauh dari pusat kota.
Bagi pengemudi ojek, pedagang keliling, kurir, dan pekerja dengan mobilitas tinggi, kepastian itu sangat penting. Kendaraan yang berhenti terlalu lama dapat berarti kehilangan pendapatan pada hari tersebut.
Faisal, warga Pontianak, mengaku belum tertarik beralih ke motor listrik karena ekosistem pendukungnya dinilai belum matang. Keterbatasan jarak tempuh, layanan bengkel, ketersediaan suku cadang, dan ketidakpastian harga jual kembali masih menjadi pertimbangannya.
“Kalau motor bensin rusak, bengkel dan suku cadangnya mudah ditemukan. Motor listrik biasanya harus dibawa ke dealer tertentu. Jarak tempuhnya juga masih terbatas, sedangkan harga jual kembalinya cenderung turun. Untuk kebutuhan perjalanan sehari-hari, saya masih merasa lebih aman menggunakan motor bensin,” kata Faisal.
Motor Listrik Masih Menghadapi Keraguan
Sejumlah penelitian menunjukkan persoalan utama motor listrik bukan semata-mata penolakan terhadap teknologi ramah lingkungan. Konsumen masih mempertimbangkan infrastruktur pengisian, harga, jarak tempuh, usia baterai, waktu pengisian, dan biaya penggantian baterai.
Studi terbaru terhadap 786 responden di sejumlah kota besar Indonesia menemukan infrastruktur pengisian menjadi faktor pendukung yang memperoleh penilaian paling lemah. Studi tersebut juga menemukan kepercayaan terhadap merek berpengaruh kuat, sedangkan kebiasaan menggunakan motor konvensional masih sulit diubah.
Penelitian lain menunjukkan jarak tempuh, metode pengisian, harga, dan ketersediaan infrastruktur menjadi pertimbangan penting. Motor dengan dua baterai lebih diminati karena dinilai dapat mengurangi kekhawatiran kehabisan daya di perjalanan.
Artinya, masyarakat belum tentu menolak motor listrik. Mereka menunggu produk dan ekosistem yang dinilai aman untuk kebutuhan sehari-hari.
Honda dan Yamaha Menjual Kepastian
Di pasar motor konvensional, Honda dan Yamaha tetap menjadi dua pilihan utama. Honda memimpin penjualan 2025 dengan distribusi sekitar 4,9 juta unit atau hampir 78 persen pasar nasional. Yamaha bertahan di posisi kedua.
Dominasi keduanya bukan hanya karena jumlah model yang ditawarkan. Honda dan Yamaha telah membangun kepercayaan melalui jaringan penjualan, fasilitas kredit, bengkel, mekanik, suku cadang, komunitas, serta pasar kendaraan bekas.
Honda, misalnya, didukung lebih dari 3.725 bengkel AHASS dan 8.476 jaringan suku cadang resmi di Indonesia. Jangkauan tersebut memberikan kepastian bahwa konsumen dapat memperoleh perawatan ketika berpindah kota atau tinggal jauh dari pusat provinsi.
Yamaha juga memiliki jaringan penjualan, servis, dan suku cadang yang tersebar di berbagai daerah. Posisi sebagai merek terbesar kedua membuat produknya dikenal luas serta relatif mudah dirawat dan diperjualbelikan.
Kekuatan terbesar kedua merek itu terletak pada rendahnya risiko yang dirasakan konsumen. Pembeli telah mengetahui pola perawatan, konsumsi bahan bakar, ketersediaan komponen, dan perkiraan harga jual kembali.
Nilai Jual Kembali Masih Menentukan
Bagi banyak keluarga, sepeda motor juga merupakan aset yang sewaktu-waktu dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Karena itu, nilai jual kembali menjadi pertimbangan sejak awal pembelian.
Pasar motor bekas Honda dan Yamaha telah terbentuk sampai ke tingkat kecamatan. Harga dapat dibandingkan dengan mudah, sedangkan pembeli dan pedagang kendaraan bekas tersedia di banyak daerah.
Sebaliknya, pasar motor listrik bekas masih berkembang. Konsumen menghadapi ketidakpastian mengenai kondisi baterai, biaya penggantian, usia pakai, standar teknologi, serta harga kendaraan setelah beberapa tahun.
Kredit Membuat Motor Bensin Terjangkau
Honda dan Yamaha juga diuntungkan oleh hubungan panjang dengan perusahaan pembiayaan. Konsumen dapat memilih uang muka, tenor, dan cicilan yang menyesuaikan kemampuan keuangan.
Bagi masyarakat berpenghasilan terbatas, besaran cicilan bulanan kerap lebih menentukan daripada perbandingan biaya energi jangka panjang. Motor listrik yang lebih hemat saat digunakan tetap sulit dipilih apabila harga awal, skema kredit, atau biaya baterainya dianggap belum pasti.
Transisi Tak Bisa Hanya Mengandalkan Kampanye
Motor listrik tetap memiliki keunggulan berupa biaya energi lebih rendah, suara yang lebih senyap, dan tidak menghasilkan emisi dari knalpot. Penggunaannya dapat menjadi bagian penting dalam mengurangi polusi dan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak.
Namun, transisi tidak akan berlangsung hanya melalui kampanye. Pemerintah dan industri perlu memastikan tempat pengisian tersedia, standar baterai jelas, layanan perbaikan menjangkau daerah, pembiayaan terjangkau, dan pasar kendaraan bekas terbentuk.
Selama persoalan itu belum terselesaikan, motor bensin akan tetap menjadi pilihan rasional bagi banyak keluarga. Honda dan Yamaha memimpin bukan semata-mata karena nama besar, melainkan karena menawarkan sesuatu yang paling dicari pengguna: kepastian untuk tetap bergerak.
Motor listrik adalah bagian dari masa depan transportasi. Namun, bagi masyarakat yang kehidupannya bergantung pada kendaraan setiap hari, masa depan harus terlebih dahulu terbukti dapat digunakan hari ini.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro