Kendaraan Listrik Melonjak, Impor Minyak Tiongkok Turun 32 Persen

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 23:28 WIB
Suasana pabrik Changan Automobile di kota Chongqing, China. (ANTARA/Desca Lidya Natalia)
Suasana pabrik Changan Automobile di kota Chongqing, China. (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

 

PONTIANAK POST – Peralihan ke kendaraan listrik dan transportasi umum membantu Tiongkok mempertahankan mobilitas masyarakat ketika pasokan minyak dari Teluk Persia terganggu. Pada kuartal kedua 2026, impor minyak mentah negara itu turun 32 persen atau setara sekitar satu juta barel per hari.

Analisis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) terhadap data Biro Statistik Nasional Tiongkok menunjukkan penggunaan minyak nasional turun 9 persen. Konsumsi minyak sektor transportasi bahkan merosot 16 persen meskipun perjalanan penumpang dan pengangkutan barang tetap tumbuh.

Temuan itu memperlihatkan mobilitas tidak harus selalu bergerak searah dengan konsumsi bahan bakar fosil. Mobil listrik, bus listrik, truk listrik, kereta api, dan angkutan umum menjaga pergerakan masyarakat ketika harga minyak meningkat akibat krisis Selat Hormuz.

Cadangan Minyak Turut Menopang

Penurunan impor sebesar 32 persen tidak seluruhnya berasal dari berkurangnya konsumsi. Sekitar 60 persen penurunan tersebut ditopang peralihan dari penambahan stok menjadi penggunaan cadangan minyak Tiongkok.

Sisanya berkaitan dengan penurunan permintaan, perubahan perilaku konsumen, dan penyesuaian operasional dunia usaha. Elektrifikasi transportasi menjadi salah satu faktor struktural yang mempercepat pengurangan konsumsi minyak.

Pada kuartal kedua, perjalanan penumpang antardaerah naik 0,1 persen secara tahunan. Perjalanan perkotaan meningkat 2,9 persen, sedangkan angkutan barang komersial tumbuh 2,4 persen. 

Kendaraan Listrik Semakin Dominan

Jumlah kendaraan listrik di jalan raya Tiongkok tumbuh 33 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sepanjang periode tersebut terdapat tambahan 12,1 juta kendaraan listrik, termasuk 8,1 juta mobil listrik berbasis baterai.

Penjualan truk listrik melonjak sekitar 77 persen pada kuartal kedua. Pangsa truk listrik bahkan melampaui 45 persen dari total penjualan kendaraan baru dalam kategori tersebut.

Volume pengisian daya kendaraan listrik meningkat 60 persen. Data ini menunjukkan kendaraan listrik yang telah beroperasi semakin sering digunakan untuk menggantikan kendaraan berbahan bakar bensin dan solar.

CREA memperkirakan kendaraan listrik menghindarkan konsumsi sekitar 19 juta ton setara minyak pada kuartal kedua. Sepanjang semester pertama 2026, minyak yang tergantikan mencapai 36 juta ton setara minyak—lebih besar daripada konsumsi minyak Inggris selama enam bulan.

Menahan Guncangan Harga

Harga minyak internasional sempat melonjak sekitar 60 persen dalam beberapa pekan dan bulan setelah serangan pertama dalam konflik AS–Israel dan Iran. Pengurangan permintaan dari Tiongkok, sebagai importir minyak terbesar dunia, turut membantu menahan tekanan harga global.

Analis Utama CREA Lauri Myllyvirta menilai kondisi tersebut membuktikan elektrifikasi dapat memperkuat ketahanan energi sebuah negara.

“Secara kualitatif, tidak diragukan lagi bahwa dekarbonisasi sektor transportasi telah dipercepat. Sangat jelas bahwa elektrifikasi adalah strategi yang unggul untuk melindungi diri dari berbagai guncangan semacam ini,” kata Myllyvirta, dikutip dari The Guardian.

Emisi Karbon Turun

Penurunan konsumsi minyak turut memangkas emisi karbon dioksida Tiongkok sebesar 1 persen pada kuartal kedua 2026. Untuk pertama kalinya, penurunan emisi nasional didorong oleh berkurangnya penggunaan minyak, bukan batu bara.

Namun, pembangkit listrik berbahan bakar batu bara masih meningkat pada periode yang sama. Kondisi itu dipengaruhi jaringan listrik yang belum sepenuhnya mampu menyerap pertumbuhan pembangkit tenaga surya dan angin.

Analis Senior Ember Muyi Yang mengatakan gangguan energi akibat konflik semakin menegaskan risiko ketergantungan terhadap impor minyak.

“Risiko ketergantungan impor minyak semakin berasal dari ranah geopolitik. Strategi yang lebih efektif adalah mengurangi paparan tersebut secara keseluruhan, dan pengalaman Tiongkok menunjukkan bahwa strategi ini berhasil,” ujarnya. 

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Krisis Selat Hormuz konsumsi minyak Tiongkok elektrifikasi transportasi emisi karbon Tiongkok Ketahanan energi