Bahlil Targetkan BBM E10 Tahun Depan, Honda ADV160 Malah Sudah Bisa Tenggak E85

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 01:18 WIB
SIAP E85: Foto Honda ADV160 di Indonesya. Honda untuk pertama kalinya menjual motor ini di India. Namun motor yang diperkenalkan di India telah mendukung bahan bakar dengan kandungan etanol hingga 85 persen. Pemesanan awal dibuka dengan harga INR 170 ribu ex-showroom atau setara Rp31 juta.
SIAP E85: Foto Honda ADV160 di Indonesya. Honda untuk pertama kalinya menjual motor ini di India. Namun motor yang diperkenalkan di India telah mendukung bahan bakar dengan kandungan etanol hingga 85 persen. Pemesanan awal dibuka dengan harga INR 170 ribu ex-showroom atau setara Rp31 juta.

 

PONTIANAK POST – Honda Motorcycle & Scooter India (HMSI) membuka pemesanan awal Honda ADV160 dengan harga INR 170 ribu atau sekitar 170 ribu rupee ex-showroom Bengaluru. Keunggulan utamanya bukan sekadar desain petualang, melainkan kemampuan menggunakan bahan bakar dengan kandungan etanol hingga 85 persen atau E85.

Harga on-road akan lebih tinggi setelah ditambah biaya registrasi, asuransi, dan komponen biaya lain. Harga juga dapat berbeda menurut varian dan negara bagian. Honda India menyatakan konfigurasi dan spesifikasi lengkap ADV160 akan diumumkan pada kuartal III tahun fiskal 2026–2027.

Pengiriman kepada konsumen dijadwalkan dimulai setelah tahapan tersebut. Model itu sebelumnya diperkenalkan bersama sembilan produk lain pada 24 Juli 2026.

Dalam siaran resmi HMSI, ADV160 disebut sebagai skuter pertama di India yang mendukung bahan bakar hingga E85. E85 merupakan bahan bakar dengan kandungan etanol hingga 85 persen dan sisanya bensin. Namun, HMSI belum mengumumkan secara terperinci rentang campuran bahan bakar, sistem injeksi, material komponen, serta kalibrasi mesin yang digunakan pada ADV160 India.

Disiapkan untuk Transisi Etanol

Honda membekali ADV160 India dengan mesin 160 cc berpendingin cairan. Skuter tersebut mempunyai tangki bahan bakar 8,1 liter dan ruang penyimpanan bawah jok 27 liter.

Tenaga, torsi, konsumsi bahan bakar, varian, dan perincian perangkat keselamatan belum dibuka dalam pengumuman awal. Honda menyatakan spesifikasi lengkap akan diumumkan mendekati pengiriman.

Presiden dan CEO HMSI Tsutsumu Otani mengatakan India menjadi salah satu pasar global paling strategis bagi Honda. Perusahaan mengembangkan kendaraan bermesin konvensional, listrik, dan flex fuel sesuai kebutuhan konsumen serta kesiapan infrastruktur setiap wilayah.

ADV160 juga menjadi bagian dari strategi peningkatan produksi dan penggunaan komponen lokal bertajuk Make-in-India for the World. Honda ingin memperkuat India sebagai basis produksi sekaligus ekspor kendaraan roda dua.

Padahal India Baru Memakai E20

Kemampuan menenggak E85 tidak berarti bahan bakar tersebut telah tersedia secara luas di India. Bensin reguler yang dipasarkan secara nasional saat ini menggunakan campuran etanol 20 persen atau E20.

Karena itu, kompatibilitas E85 pada ADV160 lebih menunjukkan kesiapan teknologi menghadapi campuran etanol yang lebih tinggi. Pemerintah India pada Juli 2026 menyatakan belum berencana menaikkan campuran nasional melampaui E20 sebelum dilakukan kajian teknis dan konsultasi dengan industri.

Pemerintah India juga belum berencana kembali menyediakan bensin E10 atau bensin tanpa etanol sebagai bahan bakar reguler. Kebijakan tersebut disampaikan Menteri Negara untuk Perminyakan dan Gas Alam India Suresh Gopi dalam jawaban tertulis kepada parlemen, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Langkah itu menempatkan India lebih maju daripada Indonesia dalam penerapan etanol pada bensin. Indonesia baru memasarkan E5 secara terbatas melalui Pertamax Green 95.

Perbandingan ADV160 India dan Indonesia

Komponen ADV160 India ADV160 Indonesia
Status Pemesanan awal dibuka Telah dipasarkan
Harga INR 170 ribu ex-showroom Bengaluru Rp36-44 juta. Bergantung varian dan wilayah
Mesin 160 cc, berpendingin cairan 156,9 cc eSP+, empat katup, berpendingin cairan
Tenaga Belum diumumkan 11,8 kW pada 8.500 rpm
Torsi Belum diumumkan 14,7 Nm pada 6.500 rpm
Kompatibilitas bahan bakar Hingga E85 Belum diklaim mendukung E85
Kapasitas tangki 8,1 liter 8,1 liter
Bagasi bawah jok 27 liter 30 liter
Varian Belum diumumkan lengkap CBS, ABS, dan RoadSync
Konektivitas Belum diumumkan lengkap TFT 5 inci dan RoadSync pada varian tertinggi

Kedua model berada di kelas mesin 160 cc berpendingin cairan. Namun, HMSI belum membuka konfigurasi lengkap mesin ADV160 India sehingga persamaan teknis kedua model belum dapat dipastikan.

Perbedaan yang telah diumumkan terletak pada sistem bahan bakar versi India yang diklaim mendukung campuran etanol hingga E85. Klaim serupa belum disampaikan untuk ADV160 yang dipasarkan di Indonesia.

Nama dan kapasitas mesin yang mirip tidak otomatis membuat ADV160 Indonesia aman menggunakan E85. Material tangki, selang, pompa, injektor, seal, perangkat elektronik, dan kalibrasi mesin harus dirancang sesuai karakteristik etanol.

Spesifikasi ADV160 Indonesia yang dipublikasikan Astra Honda Motor mencantumkan mesin 156,9 cc, sistem injeksi PGM-FI, rasio kompresi 12:1, serta tangki 8,1 liter. Namun, halaman tersebut tidak menyebutkan kompatibilitas E85 ataupun batas maksimal kandungan etanol yang dapat digunakan.

Karena itu, ADV160 Indonesia belum dapat disamakan dengan versi India yang telah diklaim mendukung E85. Pemilik harus mengikuti spesifikasi bahan bakar dalam Buku Pedoman Pemilik dan meminta konfirmasi tertulis dari AHM atau jaringan AHASS sebelum menggunakan campuran etanol yang lebih tinggi.

Indonesia Mengejar E10

Indonesia telah memiliki standar bensin RON 95 dengan campuran bioetanol 5 persen sejak 2023. Bahan bakar tersebut dipasarkan secara terbatas melalui Pertamax Green 95.

Spesifikasi bensin E5 ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor 252.K/HK.02/DJM/2023. Pemerintah kemudian memperbarui tata kelola pengusahaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025.

Dalam arah kebijakan yang disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada 2026, mandatori pencampuran bioetanol direncanakan dimulai dengan E5 pada 2028. Kandungannya ditargetkan meningkat menjadi E10 pada 2030, lalu diarahkan menuju E20.

Peningkatan tersebut akan mempertimbangkan kemampuan produksi, distribusi, dan kesiapan infrastruktur. Dengan demikian, E20 belum mempunyai tahun penerapan yang pasti.

Bahlil Lahadalia pada Juni 2026 menyatakan pemerintah sedang menyiapkan Program E20. Bahan bakunya direncanakan berasal dari tebu, singkong, dan jagung, sedangkan pemerintah akan menjadi pembeli utama produksi etanol.

Konsumsi bensin nasional diperkirakan mencapai 40 juta kiloliter per tahun. Setelah penambahan kapasitas Kilang Balikpapan, Indonesia masih diperkirakan mengimpor sekitar 20 juta kiloliter bensin.

Cakupan E20 Belum Terperinci

Kementerian ESDM menyebut kebutuhan etanol untuk Program E20 sekitar 4 juta kiloliter per tahun. Angka tersebut setara dengan 20 persen dari sisa impor bensin sebesar 20 juta kiloliter.

Namun, publikasi pemerintah belum menjelaskan apakah perhitungan itu berarti E20 hanya diterapkan pada pasar sebesar 20 juta kiloliter atau menggunakan skema penerapan lain. Jika E20 diterapkan terhadap seluruh konsumsi bensin nasional sebesar 40 juta kiloliter, kebutuhan etanol secara teoritis mencapai sekitar 8 juta kiloliter.

Karena itu, angka 4 juta kiloliter tidak dapat langsung dinilai keliru. Angka tersebut kemungkinan menggunakan sisa impor 20 juta kiloliter sebagai basis perhitungan, tetapi cakupan pasar dan tahapan pencampurannya masih perlu dijelaskan pemerintah.

Arah kebijakan terbaru Kementerian ESDM menyebut E5 dimulai pada 2028 dan E10 pada 2030. Adapun E20 masih ditempatkan sebagai arah pengembangan dengan mempertimbangkan kesiapan produksi, distribusi, serta infrastruktur pendukung.

Publikasi resmi tersebut belum menetapkan tanggal mandatori E20, cakupan wilayah, maupun jenis bensin yang akan dicampur. Pemerintah juga belum mengumumkan daftar kendaraan roda dua yang dinyatakan kompatibel dengan E10 atau E20.

Belum ada pula penjelasan tentang perlakuan terhadap sepeda motor lama yang tidak dirancang untuk bahan bakar beretanol tinggi. Kepastian mengenai komponen, kalibrasi, perawatan, konsumsi bahan bakar, dan garansi dibutuhkan sebelum kebijakan diberlakukan lebih luas.

Produksi Etanol Jadi Tantangan

Kapasitas produksi menjadi tantangan berikutnya. Program bioetanol yang diluncurkan pada 2022 menargetkan produksi meningkat dari 40 ribu kiloliter menjadi 1,2 juta kiloliter pada 2030.

Target itu masih jauh di bawah kebutuhan 4 juta kiloliter yang disebut untuk Program E20. Selisih tersebut menunjukkan Indonesia membutuhkan investasi besar pada perkebunan bahan baku, pabrik etanol, penyimpanan, dan jaringan distribusi.

Peningkatan produksi juga harus memperhitungkan kebutuhan pangan. Tebu, singkong, dan jagung tidak hanya menjadi bahan baku energi, tetapi juga dikonsumsi masyarakat dan digunakan industri pangan.

Pemerintah perlu memastikan program bioetanol tidak menekan pasokan pangan maupun merugikan petani. Kepastian harga, jaminan pembelian, produktivitas lahan, dan standar keberlanjutan menjadi bagian penting dalam transisi tersebut.

India Memberi Sinyal bagi AHM

Kehadiran ADV160 E85 menunjukkan Honda telah mempunyai teknologi flex fuel untuk skuter yang juga populer di Indonesia. Namun, penerapannya tidak cukup hanya dengan membawa mesin atau model serupa.

Indonesia membutuhkan kepastian mutu bahan bakar, jaringan distribusi, pasokan etanol, standardisasi kendaraan, serta perlindungan konsumen. Produsen juga perlu menjelaskan kendaraan yang kompatibel dan konsekuensi teknis bagi kendaraan yang belum dirancang menggunakan campuran etanol tinggi.

Bagi konsumen Indonesia, pertanyaan utamanya bukan sekadar kapan E10 atau E20 tersedia. Mereka perlu mengetahui apakah motornya aman, apakah konsumsi bahan bakar berubah, komponen apa yang perlu diganti, dan apakah garansi tetap berlaku.

ADV160 India menjadi gambaran bahwa teknologi kendaraan dapat disiapkan lebih dahulu daripada ketersediaan bahan bakarnya. Di Indonesia, target bauran etanol harus diikuti peta jalan kendaraan agar biaya dan risiko transisi tidak dibebankan kepada konsumen. 

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Honda ADV160 India motor flex fuel E85 ADV160 Indonesia bensin campur etanol kebijakan bioetanol Indonesia