PONTIANAK POST — Produsen dan dealer otomotif di China memangkas harga mobil bensin secara besar-besaran untuk menarik pembeli. Dilansir Sina, rata-rata potongan harga dilaporkan mencapai 33 ribu yuan, hampir dua kali lipat dibandingkan 17 ribu yuan pada periode yang sama tahun lalu.
Diskon tersebut belum mampu menahan kemerosotan pasar. Penjualan eceran mobil penumpang berbahan bakar konvensional pada Agustus 2026 hanya sekitar 540 ribu unit, merosot lebih dari 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pukulan terhadap mobil bensin semakin terlihat dari daftar kendaraan terlaris. Tidak ada satu pun mobil bensin dalam 10 model dengan penjualan tertinggi pada Agustus, kondisi yang telah terjadi dua kali sepanjang 2026.
Diskon Tembus Puluhan Persen
Tekanan penjualan mendorong sejumlah produsen memangkas harga mobil bensin hingga lebih dari 20 persen. Potongan diberikan melalui penurunan harga resmi, promosi dealer, serta subsidi tukar tambah.
Honda Civic, misalnya, pernah memperoleh potongan sekitar 32 ribu yuan atau 24,6 persen. Volkswagen Sagitar didiskon sekitar 30 ribu yuan atau 20 persen.
Di segmen premium, Audi A6 pernah mendapat potongan 91 ribu yuan atau sekitar 29 persen. Sejumlah model yang kurang diminati bahkan ditawarkan dengan diskon lebih besar untuk menghabiskan stok.
Data tersebut menunjukkan harga yang dibayar konsumen dapat jauh lebih rendah dibandingkan harga resmi. Namun, besaran potongan berbeda menurut model, varian, kota, dan kebijakan masing-masing dealer.
Sejumlah mobil bensin populer ditawarkan jauh di bawah harga resmi. Harga berikut merupakan penawaran dealer dan dapat berbeda menurut varian serta wilayah. Berikut lima model mobil terlaris di China, dikutip dari The Paper, 21st Century Business Herald.
| Model | Harga resmi terendah | Harga setelah diskon | Potongan |
|---|---|---|---|
| Honda Civic | 129.900 yuan | 97.900 yuan | 32.000 yuan |
| Volkswagen Sagitar | 149.900 yuan | 119.900 yuan | 30.000 yuan |
| Changan Eado 1.5T | 87.900 yuan | sekitar 65.000 yuan | 22.900 yuan |
| Geely Binyue 1.5L | 66.800 yuan | sekitar 58.800 yuan | 8.000 yuan |
| Audi A6L | sekitar 314.900 yuan | sekitar 223.800 yuan | 91.100 yuan |
Potongan Honda Civic mencapai 24,6 persen, Volkswagen Sagitar 20 persen, dan Audi A6L sekitar 29 persen. Diskon besar itu memperlihatkan tekanan yang dihadapi mobil bensin di tengah peralihan konsumen China menuju kendaraan listrik.
Sudah Murah, Tetap Sepi
Pemotongan harga belum mampu mengembalikan konsumen ke mobil bensin. Dari total penjualan eceran 1,54 juta mobil penumpang pada Agustus, hanya 540 ribu unit berasal dari kendaraan berbahan bakar konvensional.
Secara keseluruhan, pasar mobil penumpang China turun 23,6 persen dibandingkan Agustus tahun sebelumnya. Penurunan mobil bensin jauh lebih dalam karena mencapai sekitar 40 persen.
Pangsa pasar mobil bensin juga tertekan hingga berada di bawah 35 persen. Sebaliknya, mobil listrik murni dan hibrida isi ulang semakin mendominasi pilihan konsumen.
Kendaraan Listrik Kuasai Pasar
Peralihan tersebut berlangsung ketika penetrasi kendaraan energi baru di China terus meningkat. Sepanjang Januari–Agustus 2026, mobil energi baru telah menguasai sekitar 58,6 persen penjualan mobil penumpang baru.
Pemerintah China menargetkan porsinya mencapai 70 persen pada 2030. Kendaraan komersial energi baru ditargetkan menguasai 40 persen penjualan pada periode yang sama.
Pertumbuhan itu membuat mobil bensin kehilangan ruang lebih cepat daripada perkiraan industri. Mobil listrik dan hibrida menawarkan biaya operasional lebih rendah sekaligus fitur digital yang semakin lengkap.
Dealer Dihimpit Stok
Di balik harga murah, dealer menghadapi tekanan untuk menghabiskan kendaraan yang menumpuk. Mobil keluaran lama harus segera dilepas sebelum model baru hadir dan membuat nilainya semakin turun.
Sebagian dealer memilih menjual kendaraan dengan margin sangat tipis, bahkan merugi, demi memperoleh arus kas. Kondisi tersebut meningkatkan risiko penutupan gerai dan gangguan terhadap layanan purnajual.
Pada Mei 2026, rasio persediaan dealer di China tercatat 1,63. Angka di atas 1,5 umumnya menunjukkan tingkat persediaan mulai berada dalam kondisi waspada.
Penurunan penjualan bahkan membuat sejumlah merek patungan mulai mengurangi keberadaan mobil bensin di ruang pamer. Sebagian ruang dialihkan untuk kendaraan listrik atau hibrida yang lebih cepat terjual.
Hibrida Masih Bertahan
Di tengah kejatuhan mobil bensin konvensional, kendaraan hibrida tanpa pengisian eksternal atau HEV masih mencatat pertumbuhan. Penjualan grosir HEV pada Agustus mencapai 107 ribu unit, tumbuh 54 persen secara tahunan.
Pertumbuhan itu menunjukkan sebagian konsumen belum sepenuhnya meninggalkan mesin bensin. Namun, mereka mulai memilih kendaraan yang lebih hemat bahan bakar.
Produsen mobil konvensional akhirnya memperbanyak pilihan hibrida untuk mempertahankan pasar. Strategi elektrifikasi parsial itu menjadi jembatan sebelum konsumen beralih ke mobil listrik murni atau hibrida isi ulang.
Pembeli Perlu Berhati-hati
Potongan harga besar dapat menguntungkan konsumen yang tetap membutuhkan mobil bensin. Namun, harga murah perlu dibandingkan dengan biaya kepemilikan jangka panjang.
Konsumen harus memeriksa tahun produksi, masa garansi, ketersediaan suku cadang, jaringan servis, dan nilai jual kembali. Diskon besar juga berpotensi membuat harga mobil bekas model yang sama turun lebih cepat.
Penurunan harga di China tidak otomatis berlaku di Indonesia. Struktur pajak, biaya impor, jaringan distribusi, dan kebijakan setiap merek membuat harga kendaraan di kedua negara berbeda.
Bagi industri otomotif, perang harga tersebut menjadi tanda perubahan pasar yang semakin dalam. Produsen tidak lagi hanya bersaing menawarkan mobil termurah, tetapi juga menentukan seberapa cepat mereka mampu beralih menuju teknologi elektrifikasi.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro