Mobil Bensin Tumbang di India, Bahan Bakar Alternatif Unggul

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 23:54 WIB
Mahindra XUV 3XO EV, salah satu mobil listrik dari India.
Mahindra XUV 3XO EV, salah satu mobil listrik dari India.

 

PONTIANAK POST — Gabungan penjualan mobil CNG/LPG, hibrida, dan listrik untuk pertama kalinya melampaui mobil bensin dalam pasar ritel kendaraan penumpang India pada Agustus 2026. Ketiga kategori itu menguasai 41,95 persen pasar, sedangkan bensin dan etanol berada di posisi 40,85 persen.

Porsi mobil bahan bakar alternatif India itu melampaui mobil bensin dan etanol yang turun menjadi 40,85 persen. Selisihnya memang hanya 1,10 poin persentase, tetapi menandai perubahan bersejarah di salah satu pasar otomotif terbesar dunia.

Data tersebut dirilis Federation of Automobile Dealers Associations (FADA). Perubahan didorong kebutuhan konsumen menekan biaya perjalanan, bertambahnya pilihan kendaraan, dan kekhawatiran terhadap penggunaan bensin campuran etanol 20 persen atau E20.

CNG Menjadi Penggerak Utama

Dikutip dari Money Control, CNG dan LPG memberikan kontribusi terbesar dengan pangsa 25,28 persen. Mobil hibrida menguasai 9,04 persen, sedangkan kendaraan listrik mencapai 7,63 persen.

Jenis kendaraan Pangsa pasar
CNG/LPG 25,28 persen
Hibrida 9,04 persen
Listrik 7,63 persen
Total bahan bakar alternatif 41,95 persen
Bensin/etanol 40,85 persen
Diesel 17,21 persen

Data tersebut menunjukkan perubahan pasar India belum sepenuhnya digerakkan mobil listrik. CNG justru menyumbang lebih dari separuh pangsa gabungan kendaraan berbahan bakar alternatif.

Mobil bensin juga masih menjadi kategori tunggal terbesar. Posisinya baru kalah apabila penjualan CNG/LPG, hibrida, dan listrik digabungkan.

Keunggulan 11 Poin Terhapus

Perubahan terjadi hanya dalam satu tahun. Pada Agustus 2025, mobil bensin dan etanol masih menguasai 46,37 persen pasar, sedangkan gabungan bahan bakar alternatif berada di posisi 35,26 persen.

Saat itu, mobil bensin unggul lebih dari 11 poin persentase. Kesenjangan kemudian menyempit pada Juli 2026 ketika bensin menguasai 41,68 persen dan bahan bakar alternatif mencapai 40,59 persen.

Sebulan kemudian, bahan bakar alternatif berbalik unggul. Pangsa bensin menyusut 5,52 poin persentase secara tahunan.

Konsumen Mengejar Biaya Murah

Presiden FADA Sai Giridhar mengatakan pertimbangan biaya operasional menjadi salah satu pendorong peralihan. Konsumen mencari kendaraan yang lebih hemat di tengah tekanan harga bahan bakar.

CNG menawarkan ongkos perjalanan yang lebih rendah daripada bensin di banyak wilayah India. Mobil hibrida juga mengurangi konsumsi bahan bakar tanpa membuat pemilik sepenuhnya bergantung pada stasiun pengisian listrik.

Kendaraan listrik menawarkan biaya energi dan perawatan yang lebih rendah. Namun, harga pembelian, ketersediaan pengisian daya, dan jarak tempuh masih menjadi pertimbangan konsumen.

Kekhawatiran Bensin E20

Dilansir Reuters, FADA mencatat sebagian konsumen masih mengkhawatirkan penerapan bensin E20. Bahan bakar tersebut merupakan campuran 80 persen bensin dan 20 persen etanol.

Kekhawatiran terutama muncul di kalangan pemilik kendaraan lama yang belum dirancang menggunakan E20. Mereka mempertanyakan pengaruhnya terhadap konsumsi bahan bakar, performa mesin, dan ketahanan komponen.

Pemerintah India telah membantah sejumlah klaim negatif mengenai E20. FADA juga menyatakan dealer lebih banyak menerima pertanyaan daripada keluhan resmi mengenai kerusakan kendaraan.

Karena itu, kekhawatiran E20 tidak dapat disebut sebagai satu-satunya penyebab. Biaya operasional dan bertambahnya pilihan kendaraan alternatif turut mengubah keputusan pembeli.

Penjualan Tembus 402 Ribu Unit

Pergeseran tersebut terjadi saat pasar kendaraan penumpang India mencetak rekor Agustus. Penjualan ritel mencapai 402.398 unit, tumbuh 16,14 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Untuk pertama kalinya, penjualan kendaraan penumpang melampaui 400 ribu unit pada Agustus. Namun, angkanya turun 3,40 persen dibandingkan Juli 2026.

Pasar perdesaan menjadi penopang utama. Penjualan kendaraan penumpang di wilayah perdesaan tumbuh 24,99 persen, lebih tinggi daripada pertumbuhan perkotaan sebesar 10,93 persen.

Secara keseluruhan, penjualan ritel kendaraan India mencapai 2.423.201 unit. Angka itu meningkat 17,51 persen secara tahunan dan menjadi penjualan Agustus tertinggi.

Stok Dealer Ikut Menumpuk

Di balik rekor penjualan, persediaan mobil penumpang di dealer meningkat menjadi 38–40 hari. Angka tersebut jauh di atas tingkat 21 hari yang direkomendasikan FADA.

Sekitar 56 persen dealer melaporkan kenaikan stok dibandingkan bulan sebelumnya. Persediaan yang terlalu tinggi dapat menahan modal dan memaksa dealer memberikan potongan harga.

FADA meminta produsen menyesuaikan pengiriman grosir dengan permintaan ritel. Langkah itu diperlukan agar optimisme menjelang musim festival tidak berubah menjadi penumpukan kendaraan.

Belum Sepenuhnya Bebas Fosil

Kenaikan kendaraan bahan bakar alternatif tidak berarti pasar India telah sepenuhnya meninggalkan energi fosil. CNG merupakan bahan bakar fosil, sedangkan mobil hibrida masih memakai mesin pembakaran.

Perubahan tersebut lebih tepat dibaca sebagai pergeseran dari ketergantungan pada bensin murni menuju pilihan tenaga yang lebih beragam. Elektrifikasi penuh baru menyumbang 7,63 persen pasar kendaraan penumpang.

Meski demikian, tonggak 41,95 persen menunjukkan pertimbangan konsumen mulai berubah. Biaya perjalanan, efisiensi, dan kesiapan menghadapi kebijakan energi kini semakin menentukan pilihan kendaraan.

 
 
Editor : Aristono Edi Kiswantoro
mobil hibrida penjualan mobil India mobil CNG India kendaraan listrik India bensin E20