PONTIANAK POST — Harga Honda Super-ONE sebesar Rp438 juta memicu perdebatan di Indonesia. Mobil listrik berukuran mungil itu menawarkan jarak tempuh sekitar 275 kilometer, sementara sejumlah EV China dengan jangkauan lebih jauh dipasarkan hampir separuh harganya.
Namun, konsumen tetap menyerbu. Honda hanya menyediakan 100 unit Super-ONE untuk Indonesia sepanjang 2026. Sehari setelah pemesanan dibuka pada 5 Agustus, jumlah reservasi dilaporkan mencapai 132 unit.
Capaian tersebut membuat Super-ONE berada dalam posisi unik. Mobil ini dinilai mahal jika diperlakukan sebagai kendaraan listrik perkotaan, tetapi menarik apabila dilihat sebagai hot hatch listrik langka yang menawarkan karakter berkendara berbeda.
Rp438 Juta untuk Mobil Mungil
Honda Super-ONE dipasarkan seharga Rp438 juta on the road Jakarta. Konsumen perlu menambah sekitar Rp10 juta untuk pilihan warna tertentu.
Harga tersebut lebih tinggi daripada sejumlah mobil listrik China berukuran lebih besar. Banderolnya bahkan hampir dua kali lipat BYD Atto 1 dan Geely EX2, meski kapasitas baterai serta jarak tempuhnya lebih kecil.
| Model | Harga OTR Jakarta* | Kapasitas baterai | Tenaga maksimum | Jarak tempuh klaim |
|---|---|---|---|---|
| Honda Super-ONE | Rp438 juta | 29,6 kWh | 70 kW atau 95 PS dalam Boost Mode | 274 km WLTC |
| BYD Atto 1 | Rp210–245 juta | 30,08–38,88 kWh | 55 kW atau 75 PS | 300–380 km NEDC |
| Geely EX2 | Rp239,9–269,9 juta | 30,12–40,16 kWh | 58–85 kW atau 78–116 PS | 310–395 km NEDC |
| Wuling New BinguoEV | Mulai Rp318 jutaan | 31,9 kWh | 50 kW atau 68 PS | 333 km CLTC |
| AION UT | Rp345–395 juta | 44,12–60 kWh | 100–150 kW atau 136–204 PS | 400–500 km NEDC |
*Harga dan spesifikasi pasar Indonesia berdasarkan informasi yang tersedia per 14 September 2026. Harga dapat berubah menurut wilayah, varian, dan program penjualan.
Secara matematis, Honda Super-ONE tertinggal dalam rasio harga terhadap kapasitas baterai dan jarak tempuh. BYD Atto 1 Premium, misalnya, menawarkan baterai 38,88 kWh dan jarak tempuh 380 kilometer dengan harga sekitar Rp193 juta lebih murah.
Geely EX2 juga menawarkan jangkauan hingga 395 kilometer dengan harga tertinggi Rp269,9 juta. Sementara itu, Wuling New BinguoEV memiliki baterai sedikit lebih besar dan jarak tempuh lebih jauh dengan selisih harga sekitar Rp120 juta di bawah Super-ONE.
Perbedaan paling mencolok terlihat ketika Super-ONE dibandingkan dengan AION UT. Dengan harga yang masih lebih rendah, varian teratas AION UT menawarkan baterai 60 kWh, tenaga hingga 150 kW, dan jarak tempuh 500 kilometer.
Namun, angka tersebut tidak dapat dibandingkan secara mutlak karena setiap pabrikan menggunakan metode pengujian berbeda. WLTC, NEDC, dan CLTC memiliki pola kecepatan serta kondisi pengujian yang tidak sama. Jarak aktual juga dipengaruhi kecepatan, kemacetan, penggunaan pendingin udara, muatan, dan temperatur lingkungan.
Honda tampaknya tidak menjadikan kapasitas baterai atau daya jelajah sebagai nilai jual utama Super-ONE. Mobil ini lebih mengandalkan status edisi terbatas, Boost Mode, simulasi transmisi tujuh percepatan, Active Sound Control, serta karakter berkendara yang dikembangkan untuk menghadirkan sensasi hot hatch listrik.
Kuota Habis dalam Sehari
Honda mengalokasikan 100 unit Super-ONE untuk pasar Indonesia pada 2026. Kuota terbatas itu langsung terlampaui setelah pemesanan dibuka.
Honda Prospect Motor mencatat 132 reservasi hingga 6 Agustus. Artinya, permintaan telah melampaui alokasi tahunan hanya dalam satu hari.
Kondisi tersebut menimbulkan anggapan bahwa Honda sengaja menciptakan kelangkaan untuk memperkuat daya tarik produknya. Namun, pembatasan volume juga dapat berkaitan dengan kapasitas produksi dan posisi Super-ONE sebagai model khusus yang diimpor dari Jepang.
Belum ada bukti bahwa kuota terbatas semata-mata merupakan gimmick pemasaran. Yang dapat dipastikan, kelangkaan membuat Super-ONE tidak perlu bertarung langsung dalam pasar EV murah.
Status tersebut juga menarik bagi kolektor dan penggemar Honda. Mereka tidak hanya membeli alat transportasi, tetapi juga salah satu produk listrik pertama Honda yang berorientasi pada kesenangan berkendara.
Transmisi Tujuh Percepatan “Palsu”
Keunikan utama Super-ONE terletak pada simulasi transmisi tujuh percepatan. Padahal, motor listrik tidak membutuhkan perpindahan gigi seperti mesin bensin.
Pengemudi dapat mengoperasikan paddle shift untuk merasakan perubahan percepatan buatan. Sistem tersebut disinkronkan dengan respons tenaga dan suara mesin sintetis melalui Active Sound Control.
Honda menyebut kombinasi tersebut sebagai cara menghadirkan kembali sensasi mekanis pada mobil listrik. Ketika pengemudi menaikkan atau menurunkan “gigi”, suara dan respons kendaraan ikut berubah.
Sebagian konsumen menganggapnya gimmick karena tidak mengubah cara kerja dasar motor listrik. Namun, sejumlah penguji justru menilai fitur tersebut membuat Super-ONE terasa lebih hidup dibandingkan EV yang hanya mengandalkan akselerasi senyap.
Simulasi itu bukan transmisi fisik. Honda juga tidak menyembunyikan sifat buatannya. Karena itu, penilaiannya bergantung pada apakah konsumen mengutamakan efisiensi atau pengalaman emosional.
Honda menjelaskan fitur simulasi tujuh percepatan tersebut dalam siaran resmi perusahaan.
Tenaga Naik dalam Boost Mode
Dalam mode normal, motor listrik Super-ONE menghasilkan tenaga sekitar 47 kW atau 64 PS dengan torsi 162 Nm. Angka tersebut mengikuti batas tenaga mobil kategori kei car di Jepang.
Saat Boost Mode diaktifkan, tenaga meningkat menjadi 70 kW atau sekitar 95 PS. Mode itu sekaligus mengaktifkan simulasi transmisi tujuh percepatan dan suara mesin sintetis.
Tenaganya memang tidak besar jika dibandingkan dengan EV modern. Namun, bobot kendaraan hanya sekitar 1.090 kilogram sehingga rasio tenaga dan bobotnya tetap memadai untuk penggunaan perkotaan.
Honda juga memperlebar jejak roda dibandingkan N-ONE e: yang menjadi basisnya. Suspensi dikembangkan melalui pengujian di berbagai permukaan jalan Jepang dan Inggris.
Hasilnya, Super-ONE lebih tepat disebut hot hatch berdasarkan karakter, bukan tenaga besar. Fokusnya adalah kelincahan, respons pengemudi, dan kesenangan pada kecepatan yang masih relevan untuk jalan umum.
Jarak Tempuh Jadi Kelemahan
Baterai 29,6 kWh menjadi salah satu kompromi terbesar Super-ONE. Honda mengeklaim jarak tempuh sekitar 275 kilometer berdasarkan siklus pengujian Jepang.
Dalam standar WLTP yang lebih ketat, jaraknya sekitar 205–206 kilometer. Perbedaan ini penting karena angka dari metode pengujian berbeda tidak dapat dibandingkan secara langsung.
Jangkauan sebenarnya juga bergantung pada kecepatan, suhu, penggunaan pendingin udara, gaya mengemudi, kemacetan, dan kondisi jalan. Klaim bahwa jarak tempuh turun menjadi 170–200 kilometer dalam cuaca dingin masih berupa pengalaman pengujian tertentu, bukan angka resmi untuk Indonesia.
Dengan jangkauan tersebut, Super-ONE lebih cocok untuk mobilitas perkotaan. Pengguna yang rutin bepergian antarkota harus merencanakan lokasi pengisian daya dengan lebih cermat.
Baterai kecil memiliki keuntungan berupa bobot kendaraan yang lebih ringan dan waktu pengisian yang relatif singkat. Namun, konsekuensinya adalah jarak tempuh yang tertinggal dari banyak EV dalam rentang harga serupa.
Pengisian Cepat Hanya 50 kW
Super-ONE mendukung pengisian cepat DC hingga sekitar 50 kW. Baterai dapat diisi dari 20 hingga 80 persen dalam waktu sekitar 30 menit pada kondisi ideal.
Daya tersebut terlihat rendah dibandingkan EV baru yang mendukung 80 kW, 100 kW, bahkan lebih tinggi. Namun, kecepatan pengisian tidak dapat dilihat tanpa mempertimbangkan kapasitas baterai.
Dengan baterai hanya 29,6 kWh, energi yang perlu diisi juga lebih sedikit. Daya 50 kW masih memadai untuk penggunaan kota, tetapi kurang ideal bagi perjalanan jarak jauh yang membutuhkan pengisian berulang.
Pengisian AC berada di kisaran 6 kW. Pemilik dapat mengisi baterai pada malam hari menggunakan perangkat pengisian rumah.
Belum Memiliki Peringkat ANCAP
Honda Super-ONE belum tercantum dalam daftar kendaraan yang memiliki peringkat keselamatan ANCAP. Kondisi itu tidak sama dengan kesimpulan bahwa mobil tersebut tidak aman.
ANCAP merupakan lembaga independen yang menguji perlindungan penumpang, pengguna jalan rentan, dan kemampuan teknologi kendaraan mencegah kecelakaan. Tidak semua mobil yang dipasarkan otomatis menjalani pengujian tersebut.
Klaim bahwa Honda sengaja tidak mendaftarkan Super-ONE karena biaya uji terlalu mahal belum didukung pernyataan resmi yang dapat diverifikasi. Karena itu, informasi tersebut tidak layak ditulis sebagai fakta.
Super-ONE dilengkapi paket bantuan pengemudi Honda Sensing. Namun, keberadaan sistem keselamatan aktif juga tidak dapat menggantikan hasil pengujian tabrak independen.
Konsumen perlu membedakan antara kelengkapan fitur dan peringkat keselamatan. Sampai ANCAP atau lembaga lain menerbitkan hasil pengujian, performa tabrak Super-ONE belum dapat dinilai berdasarkan skor independen.
Mahal jika Menghitung Kilometer
Super-ONE sulit membenarkan harga Rp438 juta apabila penilaiannya hanya berdasarkan kapasitas baterai, jarak tempuh, ukuran kabin, dan kecepatan pengisian.
Dengan ukuran yang lebih besar dan harga lebih rendah, sejumlah EV China menawarkan nilai guna lebih kuat. Mobil-mobil tersebut lebih rasional bagi keluarga yang membutuhkan ruang, jangkauan, dan efisiensi biaya.
Namun, Super-ONE tidak mengejar pembeli paling rasional. Mobil ini membidik konsumen yang menginginkan desain khas, kelincahan, kelangkaan, dan sensasi berkendara yang tidak ditawarkan EV murah.
Terjualnya seluruh alokasi tidak membuktikan Super-ONE murah atau paling unggul. Capaian itu menunjukkan terdapat kelompok konsumen yang bersedia membayar mahal untuk karakter dan eksklusivitas.
Bagi pembeli yang menghitung harga setiap kilometer jarak tempuh, Super-ONE terlihat terlalu mahal. Bagi kolektor dan penggemar Honda, justru keterbatasan 100 unit menjadi bagian dari daya tariknya. (*)
Spesifikasi Ringkas Honda Super-ONE
| Komponen | Spesifikasi |
|---|---|
| Harga | Rp438 juta OTR Jakarta |
| Kuota Indonesia 2026 | 100 unit |
| Kapasitas baterai | 29,6 kWh |
| Jarak tempuh Jepang | Sekitar 275 km |
| Jarak tempuh WLTP | Sekitar 205–206 km |
| Tenaga normal | 47 kW atau 64 PS |
| Tenaga Boost Mode | 70 kW atau 95 PS |
| Torsi | 162 Nm |
| Pengisian cepat DC | Maksimal sekitar 50 kW |
| Pengisian 20–80 persen | Sekitar 30 menit |
| Bobot | Sekitar 1.090 kg |
| Fitur khas | Simulasi 7-percepatan, paddle shift, Active Sound Control |
| Sistem keselamatan | Honda Sensing |
| Peringkat ANCAP | Belum tersedia |
Editor : Aristono Edi Kiswantoro