PONTIANAK POST - Pembalap Gresini Racing, Alex Marquez, mengakui ada dua sisi saat berbagi lintasan MotoGP dengan sang kakak, Marc Marquez.
Ia merasa sangat beruntung bisa belajar langsung dari salah satu rider terbaik sepanjang sejarah, tetapi di saat bersamaan menyebut situasi itu sebagai sebuah rasa sakit karena harus bersaing di era dominasi kakaknya.
“Saya tidak peduli soal itu. Saya ingin jadi juara dunia, itu saja. Pada akhirnya, Anda sangat beruntung berada di trek dengan seseorang seperti Marc Marquez dan belajar banyak darinya. Tapi pada saat yang sama, itu juga menyakitkan,” ujar Alex dikutip dari Cadena SER.
Baca Juga: Sudah Tiga Besar di Klasemen MotoGP 2026, Diggia Tolak Gelar Raja Ducati dan Bela Marquez
Alex menilai banyak pembalap kehilangan peluang gelar karena Marc memutuskan untuk terus menang dan mendominasi.
“Berapa banyak orang kehilangan gelar karena dia memutuskan memenangkan tujuh titel di MotoGP? Banyak. Tapi memang begitulah adanya. Anda harus hidup di era seorang ‘Martian’, dan mau bagaimana lagi?” katanya.
Secara rekam jejak, Alex bukan pembalap sembarangan.
Ia merupakan juara dunia Moto3 2014 dan Moto2 2019 sebelum naik ke kelas utama pada 2020.
Namun debutnya bersama tim pabrikan Honda, satu tim dengan Marc yang kala itu telah mengoleksi enam gelar MotoGP (2013–2019), membuatnya lama berada dalam bayang-bayang sang kakak.
Sejumlah kritik sempat menyebut Alex direkrut demi menyenangkan Marc.
Meski demikian, performanya mulai membungkam keraguan pada musim 2025.
Ia finis sebagai runner-up klasemen akhir, tepat di bawah Marc, sekaligus mencatat sejarah sebagai saudara pertama yang finis peringkat satu dan dua di kelas premier.
Pada musim yang sama, Alex juga meraih tiga kemenangan Grand Prix pertamanya di MotoGP.
Di sisi lain, Marc terus menambah catatan emasnya. Total 73 kemenangan di kelas utama menempatkannya sebagai pembalap dengan kemenangan terbanyak kedua sepanjang sejarah MotoGP.
Musim lalu, ia bahkan mengunci gelar ketujuhnya di kelas utama bersama Ducati sebelum musim berakhir, menyisakan lima seri.
Kini, Marc hanya terpaut satu gelar dari rekor delapan titel kelas 500cc milik Giacomo Agostini.
Marc sendiri pernah mengakui bahwa nama besar “Marquez” menjadi beban tersendiri bagi Alex di MotoGP.
Namun bagi Alex, targetnya tetap jelas. Ia tidak terobsesi mengalahkan kakaknya, melainkan ingin berdiri sebagai juara dunia dengan caranya sendiri.
“Saya hanya ingin jadi juara dunia,” tegasnya.
Alex masih memiliki peluang memperkaya kemenangan Grand Prix dan memburu titel. (*)
Editor : Budi Miank