Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Finis ke-16 di MotoGP Spanyol Bikin Frustrasi, Quartararo Sentil Manajemen Yamaha Terbuka

Budi Miank • Rabu, 29 April 2026 | 16:52 WIB
Fabio Quartararo bersiap di paddock Yamaha jelang balapan MotoGP 2026. (INSTAGRAM/@fabioquartararo20)
Fabio Quartararo bersiap di paddock Yamaha jelang balapan MotoGP 2026. (INSTAGRAM/@fabioquartararo20)

PONTIANAK POST - Situasi sulit yang dialami Yamaha di MotoGP 2026 mulai memunculkan perbedaan pandangan di internal tim. 

Fabio Quartararo secara terbuka mengaku kesulitan menjaga motivasi di tengah performa motor yang tak kompetitif, sementara Direktur Tim Yamaha, Massimo Meregalli, justru memastikan para pembalap tetap bersemangat.

Ketegangan ini mencuat usai seri MotoGP Spanyol di Jerez. Quartararo dan rekan setimnya, Toprak Razgatlioglu, sama-sama menyuarakan kekecewaan terhadap performa motor M1. 

Baca Juga: Curhat Alex Marquez Soal Bersaing dengan Kakak Sendiri,  Satu Trek dengan Marc Itu Berkah Sekaligus Petaka di MotoGP

Bahkan, Quartararo mengaku mulai kehilangan rasa cintanya pada balapan karena hasil yang tak kunjung membaik.

“Dalam kondisi seperti sekarang, sangat sulit untuk keluar dan memberikan yang terbaik, memberikan segalanya. Ketika saya sudah melakukan itu, saya kembali dan melihat posisi saya ke-16. Risikonya tidak sebanding dengan hasilnya,” ujar Quartararo kepada media dikutip dari MotoGP News.

Pernyataan itu bertolak belakang dengan komentar Meregalli yang sebelumnya menegaskan bahwa motivasi pembalap bukan masalah. 

Berbicara di program After the Flag, Meregalli disebut mengatakan, “Jangan khawatir, pembalap kami termotivasi, saya memastikan mereka tetap termotivasi.”

Baca Juga: Sudah Tiga Besar di Klasemen MotoGP 2026, Diggia Tolak Gelar Raja Ducati dan Bela Marquez

Namun realita di lintasan menunjukkan tantangan besar. Yamaha dinilai tertinggal dalam pengembangan mesin, khususnya proyek V4 yang digadang-gadang menjadi solusi kebangkitan. 

Quartararo disebut sudah menyampaikan kekhawatirannya soal arah pengembangan motor sejak enam bulan lalu, tetapi perbaikan signifikan belum terlihat.

Appleyard bahkan menyebut Yamaha tak punya peluang bersaing sebelum mesin baru benar-benar siap. 

“Mereka butuh mesin baru. Tapi itu tidak datang besok, dan sepertinya tidak akan siap untuk Le Mans. Sampai mesin itu datang, mereka tidak punya peluang. Mereka kalah di mana-mana,” ujarnya.

Kondisi ini menempatkan Yamaha dalam tekanan ganda: performa teknis yang stagnan dan potensi ketidakpuasan pembalap. 

Di level kompetisi tertinggi seperti MotoGP, aspek mental dan teknis berjalan beriringan. Ketika hasil tak sesuai harapan, menjaga motivasi menjadi tantangan tersendiri.

Baca Juga: Pedro Acosta Bongkar Penyebab Marc Marquez Melempem di MotoGP 2026, Ducati Dituding Bikin Baby Aliens Natural? 

Sebagai juara dunia MotoGP 2021, Quartararo dikenal sebagai salah satu talenta terbaik di grid. 

Namun musim 2026 sejauh ini menjadi ujian berat bagi pembalap asal Prancis tersebut.

 Tanpa solusi konkret dalam waktu dekat, Yamaha berisiko menghadapi musim yang sulit sekaligus menjaga hubungan harmonis dengan ridernya.

Yamaha kini dituntut bergerak cepat dan lebih responsif terhadap masukan pembalap jika tak ingin krisis performa berubah menjadi krisis kepercayaan di dalam tim. (*)

Editor : Budi Miank
#Yamaha #Fabio Quartararo #motogp #motivasi