PONTIANAK POST - Mantan pebalap MotoGP, Dani Pedrosa, mengungkap fakta menarik di balik rivalitas panasnya dengan Jorge Lorenzo.
Ia mengakui pernah memiliki kesepahaman penuh hormat dengan Lorenzo demi satu tujuan bersama: mengalahkan Casey Stoner.
Pengakuan itu disampaikan Pedrosa dalam podcast Fast & Curious seperti dikutip dari laporan jurnalis Kyle Archer, Rabu (6/5/2026).
Baca Juga: Tech3 Belum Putuskan Pabrikan KTM atau Honda untuk MotoGP 2027, Rider Top Bisa Tersingkir dari Grid
Menurutnya, kemunculan Stoner di kelas utama MotoGP mengubah dinamika persaingan yang sejak lama terbangun di antara dua pebalap Spanyol tersebut.
“Dengan Jorge itu sangat berbeda, rumit. Kami punya kepribadian berbeda sejak kecil dan tumbuh berdampingan sebagai rival. Rivalitas itu nyata, kami tidak menyembunyikan apa pun, kami memang tidak saling menyukai,” kata Pedrosa.
Namun situasi berubah ketika Casey Stoner tampil dominan. Pedrosa menyebut kehadiran pebalap Australia itu membuat dirinya dan Lorenzo memiliki lawan bersama.
“Ada momen ketika kami punya rival yang sama, yaitu Stoner. Di titik itu, hubungan kami berkembang menjadi semacam kesepahaman yang lebih saling menghormati,” ujarnya.
Pedrosa menjelaskan, tekanan untuk mengalahkan Stoner memaksa dirinya dan Lorenzo mendorong batas kemampuan masing-masing.
“Cara dia menekan saya, dan saya harus menekan balik untuk mengalahkannya, membuat kami berkembang. Kadang kami melakukan hal yang mungkin tidak ingin kami lakukan, tapi terpaksa karena yang lain melakukannya,” lanjutnya.
Dalam sejarah MotoGP, Pedrosa, Lorenzo, dan Stoner dikenal sebagai bagian dari generasi “alien” bersama Valentino Rossi dan Marc Marquez, sebutan bagi pebalap yang mendominasi lintasan pada akhir 2000-an hingga awal 2010-an.
Secara statistik, Stoner lebih dulu mencuri perhatian dengan merebut gelar MotoGP 2007 bersama Ducati, unggul 125 poin dari Pedrosa yang finis kedua.
Lorenzo kemudian menggagalkan ambisi Pedrosa meraih gelar pada 2010 dengan selisih 138 poin.
Stoner kembali menutup peluang Lorenzo pada 2011 sebelum pensiun di akhir musim 2012.
Meski tiga kali finis runner-up dan sekali peringkat ketiga, Pedrosa tak pernah meraih gelar juara dunia MotoGP sepanjang kariernya.
Kendati demikian, ia menilai rivalitas sengit tersebut justru membentuk mentalitas dan kualitasnya sebagai pebalap elite.
“Ketika masih muda, Anda berpikir, ‘Saya lebih baik dari dia,’ dan dia juga berpikir begitu. Tapi ketika makin dewasa, Anda sadar bukan soal siapa lebih baik, melainkan bagaimana saling mendorong jadi lebih baik,” tutup Pedrosa.(*)
Editor : Budi Miank