PONTIANAK POST - Yamaha mungkin sedang membangun fondasi untuk masa depan MotoGP, tetapi harga yang harus dibayar pada musim 2026 tampaknya sangat mahal.
Di tengah ambisi mengembangkan motor bermesin V4 untuk era regulasi baru 2027, para pembalap Yamaha justru terlihat menjadi kelompok paling frustrasi di paddock.
Kondisi tersebut tercermin dari pernyataan sejumlah rider Yamaha yang mulai kehilangan antusiasme untuk sekadar bertarung di papan tengah.
Baca Juga: Rumor ke VR46 Makin Panas, Toprak Yakin Nicolo Bulega Bisa Langsung Bersinar di MotoGP
Hasil buruk yang terus berulang membuat motivasi mereka terkikis, bahkan ketika berhasil menjadi pembalap Yamaha terbaik dalam sebuah balapan.
Juara dunia MotoGP 2021, Fabio Quartararo, menjadi sosok yang paling vokal mengungkapkan rasa frustrasinya.
Meski masih mampu sesekali mencatatkan putaran cepat yang mengesankan, pembalap Prancis itu mengakui dirinya tidak lagi menikmati banyak akhir pekan balapan musim ini.
"Ada situasi ketika Anda masih senang berjuang untuk posisi ke-12. Tetapi dalam balapan seperti ini, ketika Anda hampir dua detik lebih lambat setiap lap, Anda benar-benar tidak ingin memaksakan diri," kata Quartararo usai MotoGP Italia di Mugello.
Menurutnya, seorang pembalap masih bisa termotivasi ketika merasakan perkembangan motor meskipun hasilnya belum maksimal. Namun kondisi Yamaha saat ini berbeda.
"Ketika Anda mulai merasa nyaman dan semakin dekat dengan lawan, Anda ingin terus mendorong. Tetapi sekarang rasanya lebih seperti mimpi buruk daripada kesenangan. Karena itu saya merasa tidak perlu terlalu memaksakan diri," ujarnya.
Keluhan serupa juga muncul dari Alex Rins. Pembalap Spanyol yang dipastikan tidak lagi menjadi bagian dari tim pabrikan Yamaha musim depan itu mengaku tidak puas meski berhasil menjadi rider Yamaha terbaik dalam sprint race di Mugello.
Rins bahkan menceritakan percakapannya dengan petinggi Yamaha, Takahiro Sumi, setelah balapan.
"Sumi-san mengucapkan selamat kepada saya. Tetapi saya bilang, terima kasih, saya tidak bahagia. Dia berkata saya adalah Yamaha terbaik di sini. Saya jawab, ya, tetapi itu tidak cukup. Saya ingin motor yang lebih baik," ungkap Rins.
Bagi Rins, masalah utama bukan sekadar posisi finis. Ia merasa sudah bekerja keras untuk meningkatkan performa pribadi, namun kemampuan motor saat ini membuatnya sulit menunjukkan potensi terbaik.
Baca Juga: Nicolo Bulega Buka Suara soal Rumor VR46 MotoGP, Jawab Santai: Warna Apa Pun Tak Masalah
"Saya terus berlatih keras setiap hari untuk menjadi pembalap yang lebih baik. Tetapi ketika tiba di sirkuit, rasanya seperti ada batas yang tidak bisa dilewati," katanya.
Kondisi itu turut dirasakan Jack Miller. Pembalap Australia tersebut memahami kekecewaan yang dirasakan rekan-rekannya karena Yamaha saat ini kesulitan bersaing dengan pabrikan lain.
"Kami sedang berusaha memanjat klasemen sedikit demi sedikit, tetapi itu sangat sulit," ujar Miller.
Di balik situasi suram tersebut, Yamaha sebenarnya sedang menjalankan proyek besar.
Baca Juga: Cal Crutchlow Kembali Balapan di MotoGP Hungaria 2026, LCR Honda Masih Andalkan Veteran Inggris
Pabrikan asal Jepang itu memilih mengorbankan sebagian daya saing musim 2026 demi mempercepat pengembangan motor bermesin V4 yang akan menjadi standar baru dalam regulasi MotoGP 2027.
Strategi itu memberi harapan jangka panjang bagi Yamaha, tetapi dalam jangka pendek membuat musim ini terasa seperti masa transisi yang panjang dan melelahkan bagi para pembalap.
Satu-satunya pengecualian tampaknya adalah Toprak Razgatlioglu.
Rookie asal Turki tersebut masih mampu menjaga motivasi karena fokus mempelajari karakter motor MotoGP dan ban Michelin sebelum perubahan regulasi tahun depan.
Namun bagi Quartararo, Rins, dan Miller, musim 2026 semakin terasa seperti perjuangan tanpa hadiah yang jelas di ujung jalan.(*)
Editor : Budi Miank